Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Jalan


__ADS_3

Sejak El pergi dengan Gio, abang semakin menjauh dari El, dia menjadi pendiam sekali. Tidak ada kehangatan abang dengan candanya lagi. Jujur El kehilangan itu, hatinya begitu pilu jika mengingat itu.


Sebenarnya bunda tahu apa yang telah terjadi di antara mereka, tapi membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.


"Kak, apa yang harus abang lakukan? Abang ga suka El dekat dengan temannya itu" beberapa hari setelah El berkencan dengan Gio, abang curhat dengan kak Rani.


"Mungkin mereka berteman dekat, ga papa dong bang, lagian. abang kan sebagai abangnya adek, bukan pacarnya?" kak Rani mengingatkan.


"Trus abang musti gimana kak? Dia sekaranh akrab dengam cowok itu, Abang beberapa kali memergoki chattingan mereka" tanya abang frustasi.


"Nyatakan cinta ke adek" saran kak Rani sungguh mencengangkan abang.


"Kakak yakin adek mau trima?" Abang pesimis.


"Sudah resiko abaaanng.... mau sama El, mau sama gadis manapun kalo ga suka sama abang di tolak sudah wajar, daripada mendem sendiri. Sukur kalo dapet, kalo ga ya anggap aja anda belum beruntung" kak Rani nyerocos panjang lebar.


"Ya, abang coba" gumam abang yang masih terdengar di telinga kak Rani.


"Harus! semangat bang!" ucap kak Rani sambil mengepalkan tangan ke atas, di sambut senyum lebar abang.


***

__ADS_1


Sabtu sore, abang berniar minta ijin bunda, keluar bersama El, walaupun ada sedikit ragu apa El mau tapi dia ingat kata kak Rani. Makanya dia harus semangat memperjuangkan cinta nya.


"Dek, mumpung malem minggu kita jalan yuk" kata abang menghampiri El yang sedang nonton televisi sambil menikmati cemilan di ruang keluarga. Abang pun ikut bergabung di sebelahnya dan ikut memasukkan jari nya ke dalam toples yang El pegang.


"Kemana? tanya El sambil terus melihat ke arah depan, mulutnya tidak berhenti mengunyah.


"Kemana aja, adek maunya kemana abang anter" kata abang sambil tersenyum menikmati wajah El yang lucu, pipinya menggembung penuh makanan.


"Abang yang ngajak kok adek yang suruh mikir tempatnya?" tanya El menoleh ke arah abang.


"Ya udah, kita kemana gitu.. namanya juga jalan-jalan" ucap abang memainkan alisnya.


"Terserah abang deh... ehm.. jam berapa? Tanya El sebelum melangkah pergi menuju kamarnya.


"Oke" sahut El, melangkah masuk, meninggalkan ruang keluarga.


***


Di menjelang waktu yang sudah di tentukan El berdiri di depan cermin, mematutkan diri, sudah setumpuk baju di atas tempat tidurnya. Akhirnya pilihannya jatuh pada kaos putih, kemeja kotak-kotak dan celana belel, model sobek depan.


Di tatanya kembali baju yang sudah di obrak abriknya, setelah beres di ambil nya tas slempang kecil hitan yang tergantung di dalam lemari nya.

__ADS_1


Dia keluar untuk menemui abang, tapi bertemu dengan bunda yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Jadi keluar sama abang, dek?" tanya bunda berjalan mendekati putri angkatnya itu.


"Iya bun" jawab El singkat.


"Bunda ga papa?" sambungnya.


"Ga papa dong, yang penting kalian happy" kata bunda sambil mencubit pipi El, lalu meninggalkan El sendirian.


"Idih bunda genit" El tertawa sendiri, berjalan ke arah ruang tamu, abang pun terlihat berjalan menghampiri El.


"Kita berangkat sekarang?" tanya abang.


"Ya udah adek pamit bunda dulu" El berlalu, abang mengekor di belakangnya.


Tok... tok... tok...


"Bun, adek pergi dulu" teriak El di depan pintu kamar bunda.


"Abang juga bun" sahut abang yang berdiri di belakang El.

__ADS_1


"Iya nak, ati-ati" teriak bunda dari dalam kamar.


El dan abang berjalan keluar, lalu meninggalkan rumahnya menuju ke arah pusat kota.


__ADS_2