Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Penyelidikan


__ADS_3

"Pa... bisakah Bima melihat berkas yang itu semua?" tanya abang ke pak Arya


"Sepertinya Yana yang pegang... Ada apa?" kata pak Arya.


"Ada sesuatu yang harus Bima cek" kata abang yakin.


"Sepertinya kamu sudah tau sesuatu?" tanya pak Arya mengernyitkan dahinya.


"Semoga saja apa yang Bima pikirkan tidak salah pa" kata abang tersenyum di depan papanya.


"Ohh ya pa, minta tolong papa mintakan berkas itu dari Yana, suruh dia siapin sebelum rapat besok pagi ya pa" kata abang lagi, pak Arya segera mengambil gagang telpon dan memencet tombol angka.


"Yana... kamu masih di kantor?" tanya pak Arya setelah telpon itu di angkat.


"Maaf pak, sa.. saya baru saja pulang, ada apa pak" jawab Yana berdebar.


"Berkas yang kemarin siapa yang simpan Yan?" tanya pak Arya lagi.


"Ehmm... anu pak... di... di simpan pak Bram pak" ucap Yana gugup.


"Bilang sama Bram, besok pagi sebelum rapat dia harus bawa berkas itu ke ruangan saya, kita rapat jam delapan" kata pak Arya tegas.


"B... Baik Pak Arya" ucap Yana ketakutan, dia langsung menghubungi Bram untuk menyampaikan pesan dari pak Arya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, jam tujuh pagi abang sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, dia menyempatkan diri untuk menghubungi El.


Abang : "Sayang, maaf abang ga bisa nganter El ke kampus ya. Karena abang ada rapat pagi sama papa, urgent masalah kantor"


El : "Iya sayang, ntar adek minta jemput temen aja, lagian kuliah nya ntar jam sepuluh kok sayang. Abang fokus sama masa depan kita aja ya?"


Abang : "Apa hubungannya, yang?"


El : "Kan kalo urusan kerja berarti urusan nasa depan sayang"


Abang : "Hehe... kamu ini pinter banget sayang... ya udah ya, abang berangkat dulu ya sayang. I love you"


El : "I love you too calon suami ku"


Dengan emot hati dan cium, ucapan El berhasil membuat abang tersenyum dan bersemangat untuk berangkat kerja.


***


"Kamu sudah sampai Bim" ucap pak Arya masuk dalam ruangannya.


"Sudah pa" kata abang sopan,


"Sari.. tolong hubungi Yana untuk mengantar berkas yang saya minta kemarin, ke ruangan saya sekarang" kata pak Arya menutup telpon nya, lalu duduk di belakang meja kerja nya.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Sari mengetuk pintu, tidak lebih dari tiga puluh menit, Sari masuk membawa berkas yang di minta pak Arya.


"Permisi pak, ini berkas yang bapak minta" kata Sari menyerahkan setumpuk map.


"Taruh di meja tamu" perintah pak Arya, yang masih sibuk dengan berkas di meja nya. Sari meletakkan berkas itu di depan abang, sambil tersenyum sopan.


"Ada yang bisa saya bantu lagi pak?" kata Sari ke arah pak Arya.


"Sementara tidak, bagaimana meeting pagi ini?" tanya pak Arya.


"Semua sudah saya siapkan pak" ucap Sari.


"Baik terima kasih, silahkan kembali ke ruanganmu" ucap pak Arya yang masih sibuk menandatangani berkas.


Setelah kepergian Sari, abang membuka berkas di hadapannya, meneliti satu persatu berkas tersebut.


"Tidak salah pagi pa" kata abang bersemangat.


"Kenapa nak?" tanya pak Arya, menaikkan kacamata nya yang melorot.


"Tanda tangan Bima di palsukan pa" ucap abang dengan penuh keyakinan.


"Coba papa mau liat" ujar pak Arya menarik nafas lega.


"Ini pa... papa bisa cek tanda tangan Bima yang asli, ada tanda khusus yang Bima buat. Sedangkan dalam berkas-berkas ini tidak ada satupun. Dari awal Bima buat tanda khusus itu karena untuk menghindari hal-hal seperti ini pa" tutur abang panjang.

__ADS_1


"Baik... kita segera mulai rapat kita, papa tidak sabar" ucap pak Arya yang tak kalah semangat dari abang.


__ADS_2