
Kurang dari jam delapan pak Arya mengajak abang pergi menuju ruang meeting, semua sudah hadir dengan wajah tegang.
"Baik... Saya akan segera memulai rapat ini. Apakah ada yang belum datang?" tanya pak Arya.
"Sepertinya sudah lengkap pak" jawab salah satu kepala bagian.
"Baik... kita mulai. Adakah di antara kalian yang sudah menyelidiki hal ini? Bram... Yana... Bima?" tanya pak Arya tegas.
"Pak... yang saya tahu, itu ada tanda tangan pak Bima sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas semua ini. Karena tanpa ada nya tanda tangan pak Bima kami tidak bisa mengeluarkan biaya sekecil apapun." Bram menjelaskan panjang lebar, mencari alibi.
"Yana?" pak Arya meminta pendapatnya.
"Sa... Saya memang tanda tangan pak... Tapi atas permintaan pak... Pak Bi....ma..." kata Yana terbata-bata.
"Bima?" pak Arya tampak geram dengan kebohongan Yana, tapi di tutupinya.
"Bu Sari bisa minta tolong berkas-berkasnya di bawa ke hadapan pak Arya?" perintah abang dengan santai.
"Baik pak Bima" kata Sari, langsung berdiri, berjalan mendekati pak Arya, dan menyerahkan berkas tadi. Lalu abang mendekati pak Arya dan membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Yana... katakan yang sebenarnya, tanda tangan siapa ini?" tanya pak Arya makin geram.
"Pa...pak... Bimm maa..." kata Yana ketakutan.
"Jawab jujur Yana!" pak Arya setengah berteriak. Yana hampir menangis menerima perlakuan dari pak Arya.
"Sa... ya.. ti.. ti... dak tau apa-apa pak" ucap Yana makin menciut nyalinya.
"Kamu jujur atau saya panggilkan polisi sekarang?" pak Arya menggertak.
"Paa.. pak Bram yang me.. menyuruh sss saya pak" kata Yani menunduk takut. Otomatis semua langsung menoleh ke arah Bram yang sudah berkeringat dari sejak awal.
"Bram apa pembelaan kamu?" tanya pak Arya dingin.
"Sa sa yaa... ti dak tau apa-apa ppaak..." ucap Bram bergetar.
"Bba gaimana dengan te tanda tangan, pak Bbi ma ppaak? Bram sangat ketakutan.
"Yaa itu memang tanda Bima..." kata pak Arya terputus, membuat Bram menarik nafas lega.
__ADS_1
"Yang di palsukan" sambung pak Arya, Bram pucat pasi mendengarnya.
"Sari... cepat panggil polisi untuk datang ke sini, saya sudah tidak sabar untuk menjebloskan mereka ke penjara" ucap pak Arya jelas.
"Pa pak... ma af kan saya...." Bram berlutut di kaki pak Arya, minta pengampunan.
"Jadi kamu mengakui jika kamu yang memalsukan tanda tangan Bima?" gertak pak Arya yang nyaris menciutkan nyali Bram.
"Ma af kan sss.. sa ya pak" Bram tak malu menangis di depan semua orang yang hadir.
"Rapat saya anggap selesai, silahkan ke ruangan kalian masing-masing. Yana, Bima dan Bram tetap tinggal di ruangan ini" nada suara pak Arya sudah lebih turun dari pada sebelumnya.
Setelah semua keluar dari ruangan itu, pak Arya berdiri dengan pandangan tajam. Bram dan Yana tak sekalipun berani mendongakan kepalanya.
"Bram kesalahan mu kali ini tak bisa di ampuni, dengan siapa kamu kerja sama?" tanya pak Arya, yang membuat Bram lemas.
"To... long ppak... ampuni sss saya...." kata Bram terbata-bata.
"Ma af kan ss sa ya pak... sa ya hanya di suruh pak Bram" Yana berlutut di depan pak Arya sambil menangis.
__ADS_1
"Jadi kalian berdua bekerja sama?" suara pak Arya kembali meninggi. Dan saat itu Sari mendekat, mengatakan jika polisi yang sudah di panggil tadi sudah datang, pak Arya mengangguk-angguk. Dan memerintahkan Sari membawa polisi itu masuk.