
"El juga sayang sama abang, El mau jadi pacar abang. Karena impian El menghabiskan hari tua El bersama abang" teriak El dalam hati, bahkan hatinya menangis ingin sekali mengiyakan. El terdiam begitu lama, dia benar-benar tak bisa menjawab apapun.
"Dek?!" abang menyadarkan El, dia tersentak menyusun kata untuk abang.
"Maafin adek bang, adek ga bisa..." El tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Kenapa?" tanya abang lirih.
"Ga bisa bang... adek mau pulang" El mengalihkan pembicaraan.
"Tapi jawab abang dulu, kenapa?" Abang penasaran.
"Maaf bang... adek mau pulang sekarang" El menundukkan kepala.
"Oke" ucap abang tanpa semangat.
Sepanjang perjalanan tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka, sampai tiba di rumah. El turun dari motor langsung berlari menuju kamarnya, bahkan ketika berpapasan dengan bunda pun El tidak sadar. Dia membanting pintu kamarnya, menjatuhkan diri di atas kasur. Dia menangis dan berteriak sambil memeluk erat bantalnya, meredam suara nya sendiri agar tak terdengar dari luar.
__ADS_1
"Ada apa dengan adek, bang?" tanya bunda menyelidik.
"Abang ga tau bun" abang menjawab asal karena pikirannya masih sangat kalut, dengan penolakan El.
"Bang, adek pergi sama abang, ga mungkin kan tiba-tiba ga ada sebab adek nangis?" kata bunda tegas.
"Abang nembak adek bun, tapi adek nolak" abang mengusap kasar wajahnya.
"Abang ga tanya alasannya?" selidik bunda.
"Sudah bun, tapi adek malah mengalihkan pembicaraan... entahlah bun..." Abang mengusap kasar wajahnya.
Flashback on
Bunda, abang dan kak Rani berkumpul membicarakan sesuatu yang serius tanpa El, karena El masih sibuk dengan pendaftaran kuliah sesuai dengan yang dia minati.
"Bang, kak, bunda mau bicara. ehmm... Rumah eyang apa ga sebaiknya di jual aja, mengingat abang ga tinggal di sana lagi. Trus ga ada yang merawat juga. Tapi itu terserah abang, karena itu hak abang" kata bunda serius.
__ADS_1
"Abang juga berpikir kesana bun, tapi dalam pemikiran abang kita tawarkan ke saudara dulu, karena rumah itu banyak kenangan" abang berpendapat.
"Kakak sih ikut abang aja. Lagian eyang sudah mewariskan rumah itu buat abang, kakak sama adek ga ada hak bun" ucap kak Rani.
"Ga kak, walaupun eyang bilang gitu, karena ga ada hitam di atas putih, abang tetap mau bagi warisan eyang untuk kita bertiga, karena kita semua cucu eyang" dangkal abang.
"Sudah... sudah... itu semua terserah abang, abang yang punya keputusan" bunda menengahi.
"Yang penting kalo pemikiran abang, tanah jangan di jual, kan bisa kita sewakan tahunan atau bagi hasil sama penggarap tanah. Jadi kita masih aset di desa" kata abang lagi.
"Iya kakak setuju" kak Rani menyahut.
"Ya sudah bunda mau telepon bude Ratih dulu, nyoba menawarkan ke beliau" ucap bunda.
Flashback off
"Iya bun, besok abang berangkat, kebetulan memang abang mau ada urusan ke kampus dulu, ada persiapan menjelang wisuda" ucap abang.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang abang persiapan sana gih, jangan pikirin adek kamu dulu. Biar kalian sama-sama bisa berpikir jernih. Bunda mau temui adek dulu, mungkin dia butuh temen bicara" bunda meninggalkan abang yang juga ikut beranjak menuju kamarnya.