
"Siang bunda, halo mbak Tia, mbak Ririn" sapa El menuju bunda yang sedang ada di ruang jahit, El mencium tangan bunda. Lalu menyapa kedua pegawai bunda.
"Halo El" kedua pegawai bunda serempak.
"Kompak banget" El tertawa, di susul ketiga orang di ruang jahit itu.
"Dah pulang dek, makan dulu gih, bunda masakin sop iga tuh, minta tolong embok buat manasin dulu " perintah bunda yang sebelumnya mencium kening putrinya.
"Siap bun, adek habisin" ucap El dengan mata berbinar.
"Oya dek, ada paket dari abang, sudah bunda taruh di kamar adek" sambung bunda.
"Oke bun, makasih" ucap El segera berlari menuju kamarnya, sudah tidak sabar membuka paket dari abangnya. Bima Mahaputra abang El, yang di minta tinggal di rumah eyang putri, setelah kematian ayah mereka. Kata orang-orang, abang mirip ayah, makanya eyang sangat menyayangi abang, cucu cowok satu-satunya. Karena eyang hanya memiliki putra tunggal, yaitu ayah mereka.
__ADS_1
Abang adalah kakak kedua El, mahasiswa tingkat akhir, di jurusan bisnis.
dan mereka masih memiliki satu lagi kakak cewek yang tinggal satu kota dengan El, jaraknya dua belas kilometer dari rumah bunda. Bunga Maharani kakak pertama mereka, biasa di panggil kak Rani, salah satu pegawai bank swasta. Kak Rani tinggal dengan suaminya Junianto Gunawan, biasa di panggil bang Jun. Yang bekerja menjadi petinggi bank yang berbeda dengan kak Rani. Mereka memiliki satu putra yang berusia hampir empat tahun, bernama Axel Gunawan.
El sendiri tidak begitu ingat saat ayahnya meninggal. saat itu El berusia empat tahun, sehingga samar untuk mengingatnya.
Dengan semangat El membuka isi paket dari abang, El sangat mengagumi abang, selain abang tampan, tinggi tegap mirip ayah yang di foto, begitu gambaran El. Mereka bertemu hanya setiap tahun, saat libur panjang saja, mereka selalu datang ke tempat eyang putri.
Abang selalu menjaga El dengan baik dari keisengan kejahilan saudara jauh mereka ataupun anak tetangga yang seumuran dengan El.
El : "Bang makasih paketnya, sudah adek terima" sambil di beri emot cium dan hati, El tersenyum menatap layar smartphone nya. Sepuluh menit abang belum membuka pesannya, membuat El sedikit kecewa.
"Adek.... udah jam setengah tiga kok belum makan?" teriak bunda dari arah ruang makan.
__ADS_1
"Iya bun, bentar lagi, ini mau keluar" El menyahut sambil berganti pakaian santai. Lalu berlari menuju ruang makan.
"Bunda udah minta mbok Mar panasin sop nya" kata bunda, setelah El mendekat.
"Apa paket dari abang dek?" sambung bunda lagi.
"Oleh-oleh dari abang pas wisata sama temen-temen kelasnya kemarin bun" ujar El semangat, sambil mengisi piringnya dengan nasi.
"Bunda udah makan?" tanya El sambil menatap bunda.
"Sudah dek, makan gih, bunda mau lanjut jahitnya, oya nanti setelah makan antar jahitan bu Sari ya. Tadi WA katanya lagi repot, ga sempat ambil, bajunya mau di pakai sore ini. perintah bunda lembut.
"Oke bun" ucap El sambil menyatukan telunjuk dan jempolnya membentuk angka nol. El makan dengan lahap, terus menyendok sayur kesukaannya, yang sudah di siapkan mbok Mar.
__ADS_1
"Makasih mbok, makan mbok" ucap El menawarkan.
"Mbok sudah makan bareng ibu, non. Permisi, mbok mau ke belakang dulu" kata simbok sambil berjalan menuju dapur.