
Suasana haru terjadi di pemakaman eyang, terlebih melihat kesedihan El, yang seolah belum ikhlas atas kepergian eyang putri yang di sayangi nya. Karena dia adalah cucu paling bungsu, yang selalu di manja eyang putri.
El di dudukan di kursi yang di sediakan untuk keluarga, karena kakinya tak mampu menyangga tubuhnya. Abang merangkulkan tangannya di bahu El, kepala El di sadarkan di bahu abang, berulang kali El hilang kesadaran.
Akhirnya ketika peti sudah menjadi gundukan tanah, El kembali berteriak histeris. El menunjuk makam eyang putri, dia sudah kehabisan kata-kata.
Abang memapah El mendekati pusara, eyang, pusara itu sudah bertabur bunga. El di sodorkan keranjang bunga, dia taburkan ke pusara eyang, lalu El menjatuhkan diri memeluk pusara eyang nya. Semua yang hadir di pemakaman pun kembali ikut menangis tidak tega melihat kesedihan El.
"Adek sayang eyang kan?" bunda nya mendekati El. El mengangguk masih dengan deraian air mata yang membasahi wajahnya.
"Kalo adek sayang, jangan menangis lagi, kasian eyang ikut sedih" ucap bunda lembut, sambil menyapu wajah El dengan sapu tangan. El menahan tangisnya, dan mencoba kuat berpisah dengan eyang.
__ADS_1
***
Pemakaman sudah selesai, satu persatu para pelayat dan saudara sudah meninggalkan lokasi pemakaman. Tapi tidak dengan keluarga El, Semua masih membujuk El untuk pulang. El yang memeluk foto eyang putri sudah tak sanggup mengeluarkan air mata lagi, dia hanya menatap kosong ke bunga mawar yang bertaburan di atas pusara eyang.
"Ate ayo kita pulang, Axel mau main sama ate" ucap Axel yang di suruh mama nya membujuk tantenya.
Dan ternyata benar, El mendengar suara Axel dia menengok ke samping melihat pipi gembul Axel, El tersenyum yang di paksakan, dia mengangguk dan mencium pipi Axel. El mencoba berdiri di bantu abang yang tidak pernah jauh darinya.
***
Karena rumah eyang rumah jaman kuno, memiliki banyak kamar dan ruangan yang sangat besar. Maka tidak perlu mereka menyewa hotel lagi. Apalagi dalam keluarga tersebut memiliki rasa kebersamaan yang tinggi.
__ADS_1
Sementara yang lain berkumpul, El menyendiri di kamar, tapi saudara-saudaranya tidak membiarkan dia sendiri. Dengan tulus, mereka bergantian menemani dan menghibur El.
Sedangkan abang masih dengan tamu-tamunya, teman-teman kampusnya yang memberi support untuk abang, beberapa dari mereka biasa main ke rumah eyang putri.
Ada satu teman abang yang selalu mendekati abang, sudah sejak masuk kuliah dulu. Lila, selalu menunjukkan perhatiannya ke abang, tapi tidak pernah di balas nya. Abang sering menolak secara halus, tidak pernah memperlakukan dia lebih.
"Kamu sayang banget sama adik mu ya Bim?! kata Lila yang terlihat menahan cemburu.
"Kami di besarkan dengan kasih sayang dalam keluarga La, kami biasa menyayangi satu dengan yang lain" jawab abang menahan cemburu.
"Ohh, tapi kok aku lihat kamu beda cara memperlakukan adik mu" kata Lila, yang justru membuat abang sedikit kesal, karena tidak pantas baginya membahas hal seperti itu di saat berduka kaya sekarang. Abang hanya menarik satu bibirnya ke atas, lalu berpindah tempat duduk, gabung dengan teman-teman cowok. Abang kesal karena tidak begitu suka masalah pribadinya di usik.
__ADS_1