
Malam itu bunda dan kak Rani pulang meninggalkan El dan abang, berada dalam ruangan VVIP yang pak Arya pesan untuk El.
"Sayang, istirahat dong, udah malem jangan begadang" kata abang membelai rambut El.
"Bang, adek mau tanya... boleh?" ucap El ragu.
"Mau tanya apa hemm?" tanya abang lembut.
"Apa hubungan abang dengan kak Lila? Kenapa dia juga ada di kota ini" tanya El penuh selidik. Abang tersenyum melihat kecemburuan El. Dia menggenggam tangan kekasihnya lalu mengecupnya, seolah berkata "aku adalah milikmu".
"Awalnya abang pergi dari rumah, karena ada urusan ke kampung untuk menjual rumah dan mobil eyang. Dan karena rumah itu penuh kenangan, eyang Utomo mau membeli nya melalui bude Ratih. Saat di kampung, jujur saat itu abang masih kacau dan ga bisa terima, karena El udah menolak abang" abang menghela nafas, lalu kembali melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Abang mencoba membuka diri untuk Lila, tapi beberapa kali abang jalan dengannya, abang selalu ingat El. Abang merasa bersalah, seperti nya abang sedang berkhianat sama El" abang membelai pipi El lembut.
"Tiba-tiba saat abang mau pulang, Lila minta tolong abang untuk mengantarnya ke tempat kerja baru nya, karena dia di terima di salah satu perusahaan besar di kota ini, dan mungkin El liat saat abang dan Lila keluar dari stasiun. Tapi di balik itu, abang seneng, abang jadi tau isi hati El" ucap abang menatap El mesra.
"El tau kenapa abang ga hubungi kamu selama ini?" tanya abang, El menggeleng dengan mata yang tak lepas menatap lekat mata abang.
"Abang mau saat kita ketemu, abang benar-benar bisa melepas kerinduan abang untuk El, tapi sayangnya abang dateng El malah marah sama abang" kata abang mengecup kening El.
"Salah siapa pulang malah bawa cewek" ucap El menekuk wajahnya.
"Abang sayang kamu El, abang pengen jagain El. Jangan marah lagi ya" ucap abang meletakan telapak tangan El di pipinya.
__ADS_1
"Adek juga sayang abang" El tersenyum bahagia.
"Ohh ya, abang sudah dapet kerja di kantor pak Arya lho.." kata abang bersemangat.
"Pak Arya siapa bang?" tanya El mengerutkan dahinya.
"Ohh... abang lupa, pak Arya itu yang nabrak El, beliau bertanggung jawab atas biaya rumah sakit seratus persen, malah tadi sore istrinya kasih uang bunda untuk keperluan selama di rumah sakit. Bunda sudah nolak, tapi beliau memaksa. Orangnya baik banget, abang boleh kerja sampai selesai menjaga El di rumah sakit" kata abang lagi.
"Pak Arya baik ya bang, padahal beliau tidak sepenuhnya salah" ingatan El melayang pada saat kejadian tadi siang.
"Kamu sih... pake belajar jadi pembalap segala" abang mencolek hidung mungil El.
__ADS_1
"Siapa suruh mesra-mesraan sama cewek yang jelas-jelas naksir abang" El memajukan bibirnya kedepan.
"Iya.. Iya.. Abang salah, maafin abang abang ga akan mengulanginya lagi sayang..." abang mengecup punggung tangan El berulang-ulang. El tersenyum menarik tangan abang ke pipi kanan nya, seolah tak mau melepaskannya. Akhirnya penantian mereka selama ini berakhir dengan kebahagiaan, yang tidak mereka sangka-sangka.