Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Kejadian di kantor


__ADS_3

Tujuh bulan setelah malam itu, abang sudah bekerja sebagai kepala keuangan di kantor pak Arya. Dan belum ada yang tahu siapa abang dalam hidup pak Arya, karena mereka bekerja dengan profesional.


Suatu hari ada rapat yang mendadak di adakan pak Arya di ruang aula.


"Apa-apaan ini" di bantingnya setumpuk berkas ke atas meja. Semua yang hadir terkejut karena selama ini pembawaan pak Arya sangat tenang.


"Uang perusahaan kita sudah di tilep sebanyak ini dalam waktu beberapa bulan terakhir, Bima tolong jelaskan?!" tanya pak Arya keras.


"Maaf pak... selama ini tidak ada sesuatu yang aneh dalam keuangan kita" jelas abang percaya diri.


"Silahkan anda baca ini" kata pak Arya melemparkan berkas itu ke meja depan abang. Wajah abang memanas ketika melihat ada uang yang tak masuk laporan kantor sebanyak sembilan digit.


"Bukankah harusnya salah satunya adalah tanda tangan anda" ucap pak Arya dingin.


"Iya pak, memang harusnya minimal ada dua tanda tangan dari tiga orang yang bertanggung jawab di perusahaan ini pak" jawab abang tanpa takut.


"Siapa saja?" tanya pak Arya tegas.


"Saya, Yana, dan pak Bram, pak" kata abang masih sangat yakin.


"Baik... Saya akan bertemu kalian setelah ini" suara pak Arya mengerikan.

__ADS_1


"Baik pak" kata abang lagi. Setelah apa yang di masih di bahas tadi, menyisakan tiga orang, abang dan dua orang yang di sebutkan abang tadi.


"Siapa di antara kalian yang bisa menjelaskan ini semua?" tanya pak Arya dengan suara bergetar.


"Bagaimana Bram?" pak Arya menatapnya tajam, dia berkeringat dingin.


"Saya tidak tau apa-apa pak" kata Bram mengelap keringat tubuhnya.


"Yana?!" teriak pak Arya.


"Sa... Sa... Saya... ha... nya di suruh pak Bima pak" ucap Yana tegang.


"Sebaiknya kita selidiki dulu semua ini pak" abang masih yakin jika ada yang mau menjatuhkannya di depan pak Arya.


"Baik, saya kasih waktu tiga hari kalian semua untuk mengumpulkan bukti, kalo kalian tidak bersalah" kata pak Arya sedikit mereda.


"Maaf pa... ada yang perlu Bima sampaikan ke papa" kata abang ketika mereka hanya tinggal berdua saja di ruangan itu.


"Baiklah... papa tunggu kamu di ruangan papa" ucap pak Arya meninggalkan abang sendirian.


"Pa... sepertinya ini ada hubungannya dengan kenaikan jabatan Bima yang secepat ini pa" kata abang meyakinkan papanya.

__ADS_1


"Iya... papa tadi juga berpikir begitu" walaupun awalnya pak Arya sedikit ada keraguan, tapi melihat keyakinan abang dari awal rapat pak Arya makin yakin jika abang tidak bersalah.


"Lalu bagaimana pa? Apa yang kita lakukan?" tanya abang.


"Papa sudah mengirim mata-mata untuk mencari info tentang hal ini" kata pak Arya yang masih dengan kilatan kemarahan di matanya.


"Bima juga akan berusaha menjebak siapa yang sudah berbuat curang ini pa" kata abang yakin.


***


Dua hari setelah itu, sore hari nya sebelum pulang kantor abang baru ingat tentang tanda tangan dalam berkas itu. Abang kembali ke ruangan pak Arya


"Bu Sari... Pak Arya ada?" tanya abang ke sekretaris pak Arya.


"Ada pak, saya telponkan bapak dulu" kata sekretaris itu.


"Silahkan masuk pak Bima" kata sekretaris itu setelah menutup telpon nya.


"Trima kasih" kata abang yang lalu mengetuk pintu ruangan pak Arya.


"Masuk" perintah pak Arya.

__ADS_1


__ADS_2