
El kelelahan, karena hari ini banyak menangis, dan kedekatan abang dengan seseorang ya dia sendiri juga tidak tahu siapa wanita itu.
Sesampainya di rumah, El segera masuk ke kamarnya, yang membuat heran kak Rani. ga biasanya El banyak menyendiri, dari siang hari tadi.
Sampai kamar, El segera membersihkan diri berganti baju, lalu naik ke tempat tidur, tidak butuh waktu lama El sudah tertidur pulas.
***
"Kenapa adek bang?" tanya kak Rani melihat abang masuk setelah El menutup pintu kamarnya.
"Ga tau kak, abang coba tanya di jalan tadi, tapi sama sekali adek ga mau ngomong." abang duduk di sebelah kak Rani.
"Kakak perhatikan, sepulang dari ambil souvenir tadi sore, adek masuk dari teras samping, dia seperti habis menangis. Trus masuk kamar, dia keluar lagi pas mulai acara tadi, waktu kakak tanya adek bilang pusing, tapi kakak tau dia abis nangis" kak Rani mengingat kejadian tadi sore. Abang berpikir sejenak, dia ingat apa yang terjadi tadi sore.
"Abang inget kak, tadi Lila maksa abang, untuk trima dia, tapi abang nolak, dia pegang tangan abang.... atau..... abang tadi bilang sama Lila sudah ada wanita yang abang suka" abang masih menduga-duga.
__ADS_1
"Kak, apa menurut kakak adek cemburu sama abang?" tebak abang, kak Rani sontak terkejut mendengarnya.
"Bang, jangan bilang abang juga jatuh cinta sama adek" kak Rani berspekulasi.
"Iya kak, sudah lama, abang memendam rasa ini, abang selalu jaga adek, karena ga rela dia nangis di jailin kakak-kakak kita" kata abang lirih.
"Abang sayang dia kak, selama ini abang ga pernah dekat sama cewek, sekalipun seagresif Lila, abang menjaga cinta abang buat dia kak" sambung abang tanpa semangat.
"Bunda udah tau bang?" tanya kak Rani cemas. Abang menggeleng, sebenarnya abang berencana memberi tahu bunda setelah wisuda nanti.
"Mungkin sebaiknya abang bilang bunda dulu, ini moment yang baik bang, mungkin ini semua jalan Tuhan kalo memang kalian sama-sama sayang" kak Rani mengelus punggung adik laki-lakinya itu. Abang tersenyum dan mengangguk penuh keyakinan.
***
Bunda masih ngobrol sama budhe Ratih dan budhe Ratna setelah selesai membersihkan ruang tamu. Mereka masih minum teh sambil sesekali terdengar tawa mereka. Rasanya seperti reuni SMA saja.
__ADS_1
Abang dan kak Rani ikut gabung dengan mereka, bunda menyodorkan poci teh dengan gelas kosong dari tanah liat dan gula batu, kesukaan keluarga besar mereka.
"Bim, Lila cantik" budhe Ratih menggoda abang. Abang hanya tersenyum yang di paksakan.
"Iya, Bim dia juga rajin dan cepet akrab sama kira-kira lho, dia senang membantu di belakang, kaya nya cocok jadi istrimu" budhe Ratna menambahkan, bunda hanya tersenyum menatap putranya.
"Bima suka dia budhe" ujar abang malas, jika membahas Lila, dia memainkan cangkir poci yang dia pegang.
"Tapi dia baik juga sopan lho Bim" budhe Ratih kembali menambahkan.
"Budhe, abang kurang suka sama cewek yang agresif" kak Rani membela abang yang mulai tidak nyaman dengan keadaan itu.
"Selama yang budhe lihat, sepertinya Lila ga gitu deh Ran" kata budhe Ratih lagi.
"Ya kan agresif nya bukan sama budhe" ujar kak Rani sambil melirik abang, yang sedang mengusap leher belakangnya, tanda sudah ingin menyudahi situasi ini.
__ADS_1
Kedua budhe nya tertawa dengan jawaban kak Rani. Lalu keduanya pamit untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Bunda pun hendak masuk ke kamar setelah mengantarkan kedua kakak sepupunya ke depan. Kak Rani masuk ke kamar, mendengar suara Axel yang merengek mencari dot nya.