
Drrt... drrrttt...
Abang tertegun melihat smartphone nya. Abang merangkai kata-kata agar tidak membuat bunda panik.
Bunda : "Bang, gimana sudah ketemu adek?"
Abang : "Ssssuu.... dah bun"
Bunda : "Kenapa bang?"
Abang : "Bunda jangan kuatir ya, adek, tadi jatuh dari motor, sekarang ada di rumah sakit Medika Utama"
Bunda : "Trus... trus gimana dengan adek kamu bang"
Abang : "Bunda kesini aja ya, bunda liat sendiri, bunda jangan kuatir ya, udah ya bun... sama tolong bawain BPKB motor, abang mau ambil motor bunda sekalian"
Abang berpura-pura tegar mendengar bunda menangis, lalu abang menelpon kak Rani, untuk mendampingi bunda datang ke rumah sakit.
***
"Abang... gimana keadaan adek bang?" tanya bunda melihat abang duduk di samping El, abang menggeleng dan tertunduk sedih.
"Bang... adek kenapa?" tanya kak Rani.
__ADS_1
"Dia belum sadar kak, kakinya patah, dokter sedang mempersiapkan untuk operasi, dia juga kehilangan banyak darah kata dokter" ketiga orang yang El sayangi itu menangis bersamaan.
"Kenapa bisa kaya gini dek.. maafin bunda, bunda yang salah.. Kenapa bunda nyuruh adek pergi, harusnya bunda sendiri yang pergi" kata bunda terbata-bata.
"Abang yang salah bun, adek liat abang balik makan siang sama Lila, adek keliatan marah, trus ga konsentrasi bawa motornya... Abang yang salah" bahu abang terguncang keras.
"Sudah bun... bang... bukan saatnya menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita doakan aja adek" kata kak Rani menengahi.
***
Pukul lima sore, saat El sedang ada di ruang operasi seorang bapak tua dan seorang ibu yang terlihat seperti istrinya mendatangi bunda, kak Rani dan abang dan yang masih setia menungguinya.
"Maaf, apa ibu keluarga dari Edelweiss?" tanya bapak itu.
"Iya pak, saya bunda El, bapak siapa?" bunda balik bertanya.
"Iya pak, semua yang terjadi atas kehendak Nya, saya tidak menyalahkan bapak" kata bunda bijak.
"Oya, saya Arya Saputra, dan ini Indri istri saya" ucap pak Arya.
"Saya Ana pak, dan ini kedua kakak El, Rani dan Bima" bunda menjelaskan.
Dan mereka terlibat percakapan serius, sambil menunggu El keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
"Jadi nak Bima baru cari kerja?" tanya pak Arya.
"Iya pak" jawab abang.
"Kamu lulusan apa nak?" tanya pak Arya.
"Bisnis pak?" jawab abang.
"Baik, saya akan tanyakan ke HRD, siapa tau ada lowongan untuk nak Bima" kata pak Arya lagi.
"Terima kasih sebelumnya pak, maaf jadi merepotkan bapak" kata abang sopan.
"Ini tidak ada apa-apa nya di banding kesalahan saya" kata pak Arya lagi.
"Sudah pak jangan di sesali lagi, kami ikhlas dengan jalan Tuhan ini, pasti ada sesuatu yang baik di balik musibah El ini" kata abang.
"Luar biasa, ibu Ana mendidik putra-putrinya, sangat baik" kata pak Arya, kagum.
"Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya sebagai ibu dan juga ayah untuk anak-anak, sama seperti orang tua pada umumnya pak" kata bunda merendah.
"Mohon maaf bu, ayahnya anak-anak....?" kalimat pak Arya terhenti.
"Sudah meninggal, ketika El masih usia lima tahunan pak" kata bunda.
__ADS_1
"Ohh... Maafkan saya" pak Arya menangkupkan kedua tangannya, tanda menyesal yang dalam.
"Tidak apa-apa pak" kata bunda tersenyum.