
Sabtu sore, jam empat Gio mengetuk pintu rumah El.
"Permisi tante, El nya ada?" Gio mengangguk sopan ketika bunda keluar mendengar pintu rumahnya di ketuk.
"Ya, dengan siapa ya?" tanya bunda mengerutkan dahinya.
"Saya Gio tante, teman sekelas El" jawab Gio.
"Ohh ya, masuk Gio, panggil aja bunda, sama kaya teman kalian... silahkan duduk" Gio masuk, lalu duduk di kursi tamu yang di tunjuk bunda.
"Ehm... iya bunda, makasih" Gio melirik ke arah dalam.
"Mbok tolong panggilkan El ya, sekalian bawakan minuman untuk teman El" kata bunda yang melihat mbok Mar muncul dari arah belakang.
"Nggih buk..." kata mbok Mar, berjalan menuju ke arah kamar El.
"Gio mau lanjut kemana?" tanya bunda, sambil menunggu El keluar.
"Ke pelita kasih bun" jawab Gio.
"Wah... kampus bagus itu, ambil apa?" tanya bunda
"IT bunda" kata Gio meyakinkan
__ADS_1
"Wah bagus, bunda doain sukses ya" bunda takjub dengan Gio, karena Gio anak yang sopan, dan sepertinya pintar.
"Makasih doanya bun" ucap Gio senang
"Maaf bunda tinggal ke belakang dulu ya" ucap bunda ketika mbok Mar datang membawa minuman.
"Silahkan mas... tunggu bentar ya mas, non El tadi baru selesai mandi" mbok Mar menaruh minuman dan toples kue ke meja tamu.
"Iya mbok ga papa... Makasih ya mbok" ucap Gio bersamaan dengan abang yang masuk ke dalam rumah.
"Temen El?" kata abang tanpa basa basi.
"Iya bang" kata Gio ragu, melihat tatapan tidak suka abang ke arahnya.
"Temen deket apa pacar?" pertanyaan abang membuat Gio kaget, lalu duduk tepat di depan Gio.
"Sorry lama, Gi" El muncul dari dalam.
"Ga papa El" Gio melirik abang, yang berwajah dingin.
"Mau kemana dek?" selidik abang.
"Mau nonton... abang dari mana?" El tersenyum manis ke arah abang, tapi abang bersikap dingin. Lalu meninggalkan El dan Gio berdua, dahi El berkerut, menatap kepergian abang.
__ADS_1
"Abang lo sinis banget" bisik Gio, di sambut El yang mengangkat bahu
"Di minum Gi" ucap El mempersilahkan.
"Udah, kita berangkat sekarang yuk, biar ga kemalaman pulangnya" ajak Gio.
"Abisin dulu minumnya, gue panggilan bunda dulu" Gio mengangguk, El berlalu memanggil bunda.
"Sudah mau pergi sekarang?" tanya bunda basa basi.
"Iya bun, biar ga kemalaman pulangnya, Gip ajak El keluar ya bun" jawab Gio, mencium tangan bunda.
"Iya, ati-ati ya, tolong jagain El" pesan bunda menepuk pundak Gio.
"Iya bun" ucap Gio
"Adek pergi dulu ya bun" El mencium tangan bunda, ati-ati ya dek" bunda mengantar mereka sampai pintu pagar.
"Kenapa bunda membiarkan adek pergi berdua, bunda ga kenal cowok itu kan?" kata abang yang cemburu El pergi dengan pria lain.
"Gio anak baik bang, lagian adek juga baru ini pergi berdua sama cowok, dan lagi Gio kan pamit baik-baik, ga janjian di jalan" bunda menatap putranya yang tampak matanya berkilat menahan marah. Abang masuk ke kamarnya dengan tangan terkepal.
"Apa aku harus ngomong langsung ke El? Apa dia mau trima.... aaaarrrggghh.... kenapa aku secemburu ini dengan anak kemarin sore... apa dia hari ini mau nembak El" abang mengacak rambutnya, ga bisa mikir karena emosi, dia benar-benar kacau.
__ADS_1
Abang memegang smartphone nya, mau menghubungi El, tapi dia bingung apa yang alasannya.
"Kak Rani" gumam abang. Lalu dia mencari nomer kontak kakak nya.