
Abang : "Dek, baru apa? Kangen ga sama abang?"
"Adek udah denger tentang eyang putri?" layar berikutnya, dengan emot sedih.
El : "Iya bang, adek kangen sama abang," balas El dengan emot sedih
"Adek barusan ngobrol sama bunda" lanjutnya.
"Abang lagi dimana?"
Abang : "Di rumah sakit dek, jaga eyang, Kalo abang ke kampus budhe Ratna sama mbak Ajeng yang jaga eyang. Adek kapan ujian?" tanyanya basa-basi, karena abang pasti sudah tahu dari bunda.
El : "Besok senin bang, doain adek dapat nilai bagus ya bang?"
Abang : "Pasti dong, kata bunda adek mau ambil jurusan boga ya?"
El : " Iya bang, adek punya impian buka toko roti dan kue, sama rumah makan bertema keluarga bang"
Abang ; "Keren nih, pasti abang akan mewujudkan impian adek"
El : "Amiiin, makasih ya bang, jadi pengen peluk abang"
Abang : "Kayanya kangen banget nih. Haha..
El : "Iihh abang"
__ADS_1
Abang : "Dek, besok kalo adek sudah selesai ujian abang pengen adek dateng ke sini ya, eyang putri panggil-panggil adek sama kakak terus."
El : "Iya bang, kalo ga pas ujian, pengen nya adek ikut bunda kesana"
Abang : "Sabar dek, kan ujiannya ga lama, minggu depan bisa datang kesini"
El : "Iya bang"
Abang : "Dek udahan ya, eyang bangun, bye adek abang tersayang"
El : "Bye bang, see you"
El menghela nafas lega, walaupun ada rasa sedih, seperti ada yang hilang setelah mereka mengakhiri chat nya.
"Kenapa dengan hatiku" El bertanya-tanya dalam hatinya.
***
"Gio!" mata El terbelalak melihat Gio dengan senyum manisnya duduk di atas motor gedenya.
"Hai El, berangkat bareng yuuk" ajak Gio.
"Apa-apaan sih kamu, kalo lo ketauan bunda di kira kita pacaran Gi!" kata El yang nampak tidak suka dengan kelakuan Gio.
"Kan ucapan adalah doa, kalo bunda kamu ngomong gitu, berarti doa buat kita dong" ujar Gio santai.
__ADS_1
"Tapi Gi, gue ga boleh pacaran, harus selesai study dulu, jangan macem-macem deh" El sudah mulai kesal.
"Nah kan gue jemput lo di sini, ga ke rumah" Gio masih tanpa merasa bersalah
"Tetep aja....." kata-kata El terpotong, karena Gio menarik tangan El dan memakaikan helm ke kepala El.
"Udah cepet berangkat, keburu telat" teriak Gio tidak sabar, membuat bibir El langsung maju dua centi.
"Nyebelin" gerutu El, yang justru membuat Gio tertawa keras.
***
"Ohh jadi sekarang manja, minta di antar jemput, bilangnya ga suka, bilangnya ga mau pacaran" ujar Cecil sambil mencibir, ke arah El, mencoba memancing kemarahan El.
El tetap berlalu dari hadapan Cecil, sedikitpun dia tidak pedulikan apa yang di katakan Cecil.
"Heh songong banget sih lo" Cecil mulai kesal, mencoba mencekal tangan El, tapi di kebaskan tangannya.
"Udah ngomongnya? Tuh ambil aja bua lo" Sahut El, mendekatkan wajahnya ke Cecil, sambil meninggalkan geng Cecil.
"Lo kapan sih, berhenti ganggu El? Dia ga salah. Kamu kaya kurang kerjaan banget sih, kaya stok cowok ganteng di dunia ini sudah habis" Gio emosi, karena jengah melihat ulah Cecil.
"Kamu kenapa sih belain dia terus, toh dia ga nanggepin lo, cinta lo bertepuk sebelah tangan, lagian apa kelebihan dia coba" kekesalan Cecil makin menjadi karena dengan El belum terlampiaskan, di tambah kata-kata Gio makin membuat dia meledak, mencoba memancing kemarahan Gio.
"Emang apa peduli lo?" sahut Gio.
__ADS_1
Tet teet teeeeet......
Bel tanda masuk berbunyi, membuat pertengkaran mereka berhenti. Cecil menghentakan kakinya, meninggalkan tempat itu, dan kecewa karena tidak berhasil melancarkan aksinya.