Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Pertemuan kembali


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Abang mengetuk pintu kamar El, El membuka pintu kamarnya, matanya sembab, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat kacau sekali. El tertegun menatap abang, ada kerinduan yang dalam, terlihat dari dalam matanya.


"Dek, kamu kenapa?" tanya abang khawatir melihat kondisi El, El tersentak dari lamunannya.


"Ga papa" kata El ketus.


"Adek habis nangis? Kenapa?" tanya abang lembut.


"Abang kapan dateng?" tanya El ketus, tapi dalam hatinya sangat bahagia melihat perhatian abang.


"Tadi siang abang nyampe. Kok belum jawab pertanyaan abang?" abang menatap El dalam, yang membuat El salah tingkah.


"Ga papa!" jawab El dingin.


"Ga mungkin, ga ada apa-apa tapi mata bengkak kaya gitu" pancing abang, berharap El jujur.


"Adek sakit" ucap El berbohong, lalu dia kembali masuk ke kamarnya, dan duduk di tepi ranjang tidurnya, dia berusaha menutupi degup kencang jantungnya. Abang mengikutinya lalu menarik kursi belajar adik kesayangannya, membawanya ke depan El, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening El.


"Ga panas kok, dek... Jujur sama abang, kenapa.. hemm...?" perlakuan abang membuat El semakin membuatnya gugup.


"Adek ga papa" El membuang muka.

__ADS_1


"Adek marah, abang pergi lama ya?" abang menatap lekat El, mencari kejujurannya, El menggeleng.


"Dek..." panggil abang lembut.


Tok... Tok... Tok...


"Dek, boleh bunda masuk?" panggil bunda dari depan pintu.


"Iya bun" El setengah berteriak, dan sedikit bernafas lega karena bebas dari pertanyaan abang.


"Ngobrol apaan nih, kok serius banget?" tanya bunda melihat abang di dalam kamar El.


"Adek, ga mau jujur nih bun, kenapa dia nangis siang-siang gini" kata abang menunjuk El.


"Kenapa dek?" tanya bunda, El menggeleng.


******


Malamnya kak Rani, dan keluarganya datang, selain bunda mengundang untuk makan bersama, abang juga mau membagi warisan dari eyang, walaupun dia cucu laki-laki satu-satunya yang di beri hak sepenuhnya oleh eyang nya, tapi dia ga mau serakah, dengan membagi ke kedua saudaranya.


"Setelah makan malam, abang mau bicara sama kita semua, kita kumpul di ruang keluarga ya" kata bunda.


"Maaf bun, adek mau istirahat, lagi ga enak badan" kata El yang masih marah dengan apa yang dia lihat di stasiun tadi pagi.

__ADS_1


"Tapi dek... ini penting buat kamu juga" kata abang, yang membuat El cemberut.


"Ya sudah bang, adek kan lagi ga enak badan" bunda menengahi.


"Tapi bun, adek ga sakit, adek cuma kesal sama abang" ucap abang kesal.


"Bang...." bunda memberi kode, agar abang berhenti memperpanjang masalah kecil itu. Abang mengangkat bahu, El masuk kamar setelah makan.


Sementara itu bunda, kak Rani, dan abang berkumpul di ruang tengah.


"Rumah dan mobil eyang sudah terjual kak, abang mau bagi tiga untuk kakak sama adek" abang memulai percakapan.


"Tapi bang, itu hak abang, kakak sama adek ga ada hak atas rumah itu" kata kak Rani bijak.


"Ga kak, kita semua cucu eyang, abang sudah terima hak abang, dan abang juga berhak membagi nya dengan kakak sama adek" kata abang.


"Sudah kak, terima niat baik abang" kata bunda menengahi.


"Iya bun" kata kak Rani patuh.


"Kita bagi tiga ya kak, ntar abang transfer ke kakak, yang punya adek gimana bun?" tanya abang.


"Abang pegang dulu aja, adek belum tau uang banyak" kata bunda.

__ADS_1


"Ya udah, abang depositoin aja ya bun" ucap abang.


"Iya bang, gitu juga bagus" sahut bunda.


__ADS_2