
Tet teet teeeeett....
Bel tanda istirahat berbunyi, El memasukkan semua peralatan tulisnya ke laci meja, tanpa menyadari Gio sudah berdiri di sampingnya, dan mengulurkan tangannya ke arah El. El mengerutkan keningnya, dan mendorong tangan Gio.
"Gue bisa jalan sendiri, gue bukan nenek-nenek yang perlu di gandeng" kata El ketus. Ketiga sahabatnya saling pandang melihat kejadian itu, tapi Gio malah tersenyum melihat tingkah El. Gio dan El berjalan beriringan, sedangkan ketiga temannya berjalan di belakang mereka karena kode dari Gio.
Melihat kebersamaan mereka, banyak cewek yang sinis melihat El, sesampainya kantin mereka memesan makanan masing-masing, lalu duduk berlima. Ada tiga cewek yang mendeketi mereka, lalu berdiri di dekat El dengan angkuh.
"Kalian sudah jadian? Selamat ya, selamat bentar lagi lo di depak dari kehidupan Gio" kata Cecil sombong, mantan pacar Gio, parasnya cantik tapi karena anak orang kaya, dia selalu menggunakan berbagai cara demi kepuasan pribadi. El tidak mempedulikan apa yang di ucapkan Cecil, karena dia merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan Gio
"Apaan sih lo Cil, kenapa sih lo belum bisa move on dari gue, lo cantik, lo tajir, lo bisa dapet seribu cowok yang lebih daripada gue" Gio geram, berdiri mendekati Cecil.
"Oh, lihat sang pangeran membela upik abu" Cecil kembali berulah.
"Gi, mending lo pergi, selesaiin masalah lo sama putri dari kerajaan kodok ini" sahut El mulai kesal. Ketiga sahabat El menutup mulut dengan tangan mereka dengan menahan senyum mereka.
__ADS_1
"Eh, apa lo bilang" tangan Cecil menampar El, tapi dengan sigap tangan Gio menahannya pergelangan tangannya.
"Aaawww" Cecil meringis kesakitan.
"Berani lo sentuh El, gue ga segan-segan sakitin lo" ancam Gio.
"Awas lo" kata Cecil mengancam El lalu melangkah pergi, sambil menghentak-hentakkan kakinya keras, di ikuti dua sahabatnya.
"Gi, please deh, berhenti ganggu gue, gue berapa kali bilang, gue belom mau pacaran dulu, gue juga ga mau cari musuh. Gue mau fokus ujian" El memohon.
"Oke, gue ga ganggu lo, tapi gue tetep tunggu lo mau jadi pacar gue sampai kapanpun. Tapi please jangan menghindar dari gue" ujar Gio setelah kembali duduk di sebelah El lagi.
***
Pulang sekolah, El berjalan menuju gerbang, melalui parkiran motor, tadi Gio sudah keluar duluan dan ketiga sahabatnya sudah meninggalkan dia sendirian, karena sudah di jemput orang tua dan supirnya masing-masing. El sudah terbiasa naik angkot, karena tidak mau membebani bunda. Mereka hidup bukan orang yang berlebihan, meski tidak lebih, pekerjaan bunda seorang penjahit yang lumayan banyak pelanggan, almarhum ayahnya pensiunan TNI. Beda dengan ketiga sahabatnya yang semuanya anak pengusaha. Setelah mengambil motornya Gio menghampiri El yang ada di depan gerbang, menunggu angkot.
__ADS_1
"Bareng gue, El" ajak Gio, El yang sejak tadi memperhatikan motor Gio menggeleng.
"Kenapa?" tanya Gio sambil mengerutkan keningnya.
"Lo cuma bawa helm satu" ucap El cuek.
"Kan kita bisa lewat gang-gang" harap Gio lagi.
"Emang kalo di gang ga bisa jatoh?" kata El tegas.
"Ya udah besok gue bawa helm dua" sahut Gio bersemangat.
"Ga perlu, gue lebih nyaman naik angkot, ga panas" ucap El kembali.
"Oke besok gue bawa mobil" sahut Gio mulai kesal.
__ADS_1
"Maaf Gio, gue ga suka berhutang budi sama orang lain." El menyetop angkot yang kebetulan lewat.
"El gue ga akan pernah nyerah buat ngadepin lo" teriak Gio keras. El hanya menggeleng ga habis pikir, banyak cewek yang lebih cantik dari dia, tapi kenapa harus dia yang harapkan Gio.