Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Mencari El


__ADS_3

Sementara itu setelah makan pagi, bunda, kak Rani dan abang bersiap untuk kembali pulang.


"Mbok kami mau kembali pulang, jaga rumah baik-baik ya, abang ikut ke kota sementara untuk mencari El, tolong jangan sampai keluarga di sini tau apa yang terjadi ya. Kalo ada kabar apa-apa, tolong Iis suruh telepon kami ya mbok" kak Rani pamit ke asisten rumah tangga eyang putri.


"Iya non, mbok janji jaga rahasia ini" kata mbok Sum sambil membantu mengangkat tas ke dalam mobil.


"Jaga rumah baik-baik ya mbok" kata abang sambil menstarter mobil kak Rani yang kemarin di tinggal suaminya, untuk keperluan di acara eyang.


"Iya den, ati-ati di jalan, smoga non El cepet ketemu" ujar mbok Sum setengah membungkuk, di ikuti Iis yang ada di belakang ibu nya.


Sementara itu bunda duduk di tengah, di jaga kak Rani, karena bunda masih saja menangis memikirkan.


"Kita mampir ke makam eyang sebelum pulang bang" perintah kak Rani ketika mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah.


Pemakaman keluarga dari eyang, termasuk makam ayah mereka tidak jauh dari rumah, tapi mereka harus memutar, karena hendak membeli bunga terlebih dahulu.


"Yang... Bima mau cari El dulu yang... cucu kesayangan eyang, maaf kalo Bima sudah menyakiti hatinya, sampai membuat dia pergi dari kita semua" abang tertunduk lesu di depan pusara eyang putri, mengenang semua yang sudah Dia alaminya.


Flash back on :

__ADS_1


"Anak siapa itu Har" tanya eyang kakung melihat putra nya datang dengan membawa bayi mungil yang masih kemerahan di tangannya, sedang menantunya menggandeng kedua cucunya.


"Anak kami pak" kata putranya sambil mencium tangan bapak ibunya, lalu memperlihatkan El kecil ke arah eyang nya.


"Apa maksud kamu? Istrimu punya anak lagi kamu tidak memberi tau kami?" ucap eyang kakung dengan nada agak meninggi.


"Ayo Rani, Bima masuk ke kamar, kita istirahat dulu" setelah mencium tangan bapak mertuanya, lalu bunda mengajak kedua anaknya pergi dari ruang tamu, karena tidak ingin anak-anaknya mendengar percakapan antara mereka.


"Pak, ini anak angkat kami" kata Haryo, kepada bapaknya.


"Anak angkat? Kalian sudah punya anak sepasang? Kenapa kalian tidak bersyukur?" pak Hartomo yang tidak lain adalah eyang kakung mengeratkan giginya. Bunda setengah berlari mengambil El kecil dari tangan ayahnya, lalu membawanya ke dalam kamar.


"Jadi anak itu orang tuanya tidak jelas? Anak seorang wanita penghibur maksud kamu?" pak Hartomo mengepalkan kedua tangannya, Haryo terdiam dan tertunduk.


"Sabar pak, jangan sampai darah tinggi bapak kumat lagi" kata istrinya mengelus tangan suaminya.


"Bapak tidak setuju, bapak tidak mau di keluarga besar kita, ada keturunan yang tidak jelas bibit, bobot, bebetnya" gertak pak Hartomo.


"Kami sudah jatuh cinta sama anak itu pak, Rani dan Bima sudah menganggap dia seperti adik kandungnya, walaupun mereka bersama baru beberapa minggu ini pak" tutur Haryo melunakkan hati bapaknya.

__ADS_1


"Tidak! Bapak tetap tidak setuju!" pak Hartomo berdiri dan meninggalkan istri dan putra tunggalnya berdua disana. Haryo terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun.


Semuanya sayup terdengar di telinga Bima kecil, yang berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi penjaga adik kecilnya itu.


"Sabar le... ibu coba bicara dengan bapak mu dulu, semoga bapak bisa mengerti keputusan kalian" ucap ibunya sambil menepuk pundak putranya.


"Tolong bujuk bapak nggih' bu" Haryo memegang tangan ibunya lalu mencium dan membawa ke pipinya. Ibunya tersenyum dan mengusap kepala putra nya.


"Ayo le, kita lihat anakmu" ucap ibunya, yang membuat Haryo sangat lega, paling tidak ada dukungan dari ibunya.


Bahkan mata ibu nya tampak berbinar menatap cucu angkatnya yang mungil itu.


"Jenenge sapa 'nduk (Namanya siapa nak)?" tanya eyang putri menatap menantunya.


"Edelweiss bu, anak-anak memanggil adiknya El" jawab menantunya, yang tidak bisa berbasa jawa, walaupun dia tahu maksudnya.


"Ayu (cantik)" kata eyang putri sambil tersenyum.


Flash back off

__ADS_1


__ADS_2