Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Berita dari bu Anis


__ADS_3

Ujian sudah berlalu, membuat anak-anak kelas tiga lega seolah lepas dari beban. Gio mendekati El saat di kelas, karena kelas tiga tidak ada pelajaran, tapi tetap masuk seperti biasa untuk absen.


"El, malem minggu jalan yuk" kata Gio mengagetkan El dalam lamunannya.


"Ga ah, Gi. Gue ga biasa jalan-jalan" tolak El halus.


"Sekali ini aja deh" Gio menatap El tampak memelas.


"Ga, Gi.... Gue males banget" El menjawab tanpa semangat.


"El please!" Gio memohon.


"Oke deh, sekali ya" El menghela nafas, malas.


"Yess! Sabtu sore gue jemput ya" mata Gio berbinar.


***


Drrrttt.... drrrttt....


Masih di dalam kelas, tiba-tiba smartphone El bergetar.


Abang : "Dek, adek masih ada kegiatan di kelas ga?"


El : "Ga ada bang, kenapa?"

__ADS_1


Abang : "Bisa ga adek nyusul kesini secepatnya, eyang panggil-panggil adek terus, eyang kritis dek"


El : "Kak Rani gimana bang?"


Abang : "Abang sudah telepon, nanti sore berangkat, yang penting adek prepare aja ntar ya"


El : "Iya bang" air mata menetes saat mengakhiri chattingnya dengan abang. Melihat itu ketiga sahabatnya mendekati El.


"Lo kenapa El?" tanya Mita mengerutkan dahi.


"Eyang putri, kritis. Manggilin gue terus" ucap El sedih.


"Lo yang sabar ya, El. Trus lo mau ke eyang lo?" tanya Della yang ikut prihatin lihat kondisi temannya. El mengangguk pelan.


***


"Edelweiss, di panggil ke ruang kepala sekolah, sekarang" kata Nur.


"Ada apa ya mbak?" El bertanya-tanya, ga biasanya kepala sekolah panggil siswa.


"Maaf, saya ga tau El"jawab mbak Nur, lalu meninggalkan kelas El.


"Kira-kira ada apa ya El?" tanya Mita khawatir. El mengangkat bahu lalu berdiri meninggalkan kelas, menuju ke ruang kepala sekolah. Dalam hatinya masih bertanya-tanya sambil memikirkan kesalahan apa yang pernah dia buat.


***

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


"Masuk" terdengar suara dari dalam ruangan.


El membuka pintu lalu masuk perlahan mendekati ibu kepala sekolah.


"Permisi bu" ucap El hati-hati, dan penuh keraguan.


"Duduk Edelweiss" bu Anis lembut.


"Trima kasih bu" El mencoba tersenyum, mencoba tenang dan siap untuk mendengar apapun dari bu Anis.


"El, barusan ada telepon dari bunda kamu" bu Anis sangat berhati-hati menyampaikan kepada El, beliau menghela nafas sebentar.


"Ada apa bu" tanya El, hatinya mulai merasakan tidak nyaman, dan meraba ke arah mana pembicaraan bu Anis.


"Ibu ijinkan kamu untuk tidak mengikuti pelajaran dan jika ada kegiatan apapun, eyang putri kamu sudah di panggil Tuhan" kata-kata bu Anis terhenti sejenak memperhatikan raut muka El, yang mulai menahan air matanya.


"Sampaikan ke bunda kamu, ibu atas nama pribadi dan sekolah mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga arwahnya di terima di sisiNya"


"Terima kasih bu, saya permisi ambil tas saya di kelas. Permisi bu" air mata El mulai turun. Bu Anis mengangguk pelan.


"Yang tabah ya El" kata bu Anis, ketika El berdiri dari tempat duduknya.


"Makasih bu" El melangkah ke pintu, badannya terasa ringan, dengan pikiran kalut berjalan menuju ruang kelasnya. Tapi butiran air matanya semakin deras.

__ADS_1


"Maaf eyang, El belum sempat minta maaf ke eyang. El belum sempat memeluk eyang untuk terakhir kalinya. El sayang eyang." Saat itu El benar-benar rapuh, mengingat kenangan masa kecilnya di rumah eyang dan semua tentang eyang.


__ADS_2