Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Peristirahatan terakhir


__ADS_3

"Eyang putri sudah berkumpul dengan eyang kakung dan ayah nak, sudah bahagia di sana" bisik bunda ke telinga El. El menangis keras di pelukan bunda, dan abang yang masih setia menjaganya dari belakang. Khawatir kali El pingsan lagi.


El memberanikan diri untuk menatap wajah eyang putri yang di kasihinya. Eyang tampak anggun dan cantik, tersenyum dalam tidur panjangnya.


"Bunda, adek belum sempet minta maaf ke eyang putri" rengek El di hadapan bunda.


"Dek, bunda kemarin sudah minta maaf atas nama cucu cicit, makanya adek liat kan? Eyang putri cantik banget, beliau juga tersenyum tanpa bebankan?!" bunda menenangkan El. Lalu El menahan tangisnya, masih menyisakan isakan kecil. Dia sudah tampak lebih tenang.


"Bunda, adek pengen cium eyang putri untuk terakhir kalinya" rengek El.


"Tapi kalo cium ga boleh kena air mata, yakin adek kuat?" tanya bunda sambil membelai rambut El.


"Bisa bunda, adek tahan" El memohon


"Baiklah, abang jaga adek ya" ucap bunda lembut, sambil menatap abang.


"Iya bun" jawab abang, lalu membawa El bangun dari duduknya, mendekat ke peti jenazah.


"Kuat ya dek" ucap abang di dekat peti jenazah. El menunduk mencium tangan eyang putri yang sudah kaku itu, lalu sempat menyeka air mata, yang dari tadi di cobanya untuk di tahan.

__ADS_1


El bergeser ke bagian atas, mendekati kepala eyang, lalu mencium pipi kiri eyang dan keningnya. Sekuat tenaga dia kumpulkan untuk tidak menangis. Abang merasakan tubuh El mulai lemas, lalu membawanya ke dalam dekapannya.


"Dek.... Adek...." El kembali tidak sadarkan diri. Abang mengangkat El ke kamarnya, di ikuti kak Rani, dan mbak Shinta sepupu mereka. Membuat suasana makin memilukan, di antara tamu yang hadir, banyak yang ikut terharu dan menangis melihat kejadian di depan mata mereka.


Mereka memberikan minyak kayu putih ke beberapa bagian tubuh El, berusaha untuk menyadarkan. Abang meminta mbak Surti, asisten rumah tangga mereka, membawakan minuman hangat untuk El.


***


Saatnya upacara keberangkatan jenazah, El tersadar dari pingsannya.


"Kak, adek mau ikut nganter ke makam eyang putri" pinta El ke kak Rani.


"Adek, ikut ya kak" rengek El sambil menangis.


"Ya udah, adek tunggu, kakak cari abang dulu" akhirnya kak Rani menyerah.


***


Kak Rani memanggil abang yang sedang berbicara dengan teman-teman kampusnya.

__ADS_1


"Bang adek ngeyel mau ikut nganter ke makam, abang jagain gih" bisik kak Rani. Abang mengangguk, dan berpamitan ke teman-temannya.


***


"Dek... Adek yakin mau ikut? Kita besok aja ya, ngunjungin makam nenek ya?" rayu abang.


"Ga bang, adek ikut... adek mau ikut..." tangis El kembali pecah.


"Iya... Iya... Adek boleh ikut, tapi janji harus kuat" kata abang dengan sabar.


"Adek mau sama abang" rengek El lagi.


"Iya, abang temenin adek" abang mengulurkan tangannya. El menyambutnya lalu berdiri, dan berjalan keluar di papah abang.


***


Di pemakaman, El kembali menangis dalam pelukan abang, sampai penggali kubur menimbun makam eyang.


"Eyang bang...." El masih terisak.

__ADS_1


"Ssstt... ga boleh di tangisi lagi, nanti adek kecapean, kasian eyang, adek sayangkan sama eyang?" Abang kembali menenangkan El, El mengangguk.


__ADS_2