
Pagi-pagi Shayu sudah mantengin kambing yang mau di potong. Dia membawa serta Biru untuk menonton penyembelihan. Membiarkan Satria kelimpungan mencarinya karena tak mendapati sang istri di kasur. Padahal hari masih gelap tetapi Shayu sudah kabur.
"Kemana dia? Apa mungkin di kamar Biru?" Satria mengucak matanya lalu melangkah mencari sang istri di kamar Biru. Namun, tak ia temukan Shayu di sana. Begitupun dengan putranya. Satria menghela nafas berat. Masih pagi sudah kehilangan istri rasanya sekesal ini.
"Bu, lihat istri dan anakku?"
"Loh kan tidurnya sama kamu. Kok tanyanya sama Ibu? Lagian pagi-pagi kok sudah kehilangan istri to, Sat?" Ibu yang sedang racik-racik bumbu heran dengan putranya yang pagi-pagi sudah kehilangan istri. "Opo gak dikekepin tidurnya kok bisa hilang?"
"Katanya suruh puasa." Satria duduk sejenak untuk minum lalu kembali beranjak setelah dahaganya hilang. Melangkah mencari sang istri yang tak ia ketahui keberadaannya. Yakin sekali istrinya pergi membawa Biru. Baru mau sembuh sudah tak bisa diam membuat Satria gemas.
"Biru, menangislah Nak! Papah butuh petunjuk." Namun, Biru setenang itu. Semalam saja putranya tak merengek. Hanya bangun minta asi sebentar lalu tidur lagi. Puas sekali sang istri yang tak terganggu sama sekali.
Satria melangkah ke halaman belakang. Hanya ada kolam renang dengan air yang tenang. Tak ada ia temukan seorang pun di sana.
Satria kembali masuk hendak melangkah menuju teras depan tetapi saat Cakra keluar kamar keduanya saling bertabrakan. Terlebih Cakra yang matanya masih sipit-sipit dengan nyawa yang baru kumpul.
"Mas, kamu nich. Buat aku kaget aja to!"
"Kamu yang jalan tak pakai mata."
"Mana ada mata diinjak-injak? Ish disamakan dengan sendal kali," ucap Cakra ngasal lalu melangkah menuju dapur untuk mengambil minum. Sementara Satria hanya mendengus kesal kemudian kembali mencari Shayu.
"Mau kemana, Mas?"
"Mencari Shayu," sahut Satria.
"Eyalah... Selalu kehilangan istri. Hobimu aneh, Mas. Bosan aku mendengarnya." Cakra minum kemudian mengambil tahu goreng buatan Ibu tetapi baru saja ingin masuk mulut, Ibu tiba-tiba datang lalu memukul tangannya hingga tahu masuk ke dalam gelas.
"Yah nyemplung..." Cakra melihat isi gelas yang masih terisi air dan kini terdapat tahu goreng yang melayang di atasnya. "Bu, jatuh kan?"
__ADS_1
"Pagi-pagi tuh mandi bukan langsung makan. Sana bantu Masmu mencari istrinya! Kasian dari tadi seperti orang linglung," titah Ibu membuat Cakra berdecak. Namun, dia tetap beranjak. Mencomot tahu lalu berlari mengejar Satria.
"Owalah dasar mulut!" Ibu menatap Cakra yang kabur keluar rumah.
Cakra menyusul Satria yang kini mencari Shayu di teras. Sama sekali tak ia temukan hingga ia melihat kedatangan Adiknya yang menghampiri dengan menggigit tahu.
"Makan itu duduk!"
"Nggih Mase." Cakra berjongkok di ambang pintu dengan melahap tahu isi buatan Ibu. Sungguh nikmat masih hangat. "Kethek! Lombok opo Iki!" Dia mengumpat kesal saat menggigit cabai yang ada di dalam tahu. Ternyata Ibu sengaja mengisinya dengan memberi ranjau di dalamnya.
"Kapok! Kamu pasti nyolong-nyolong makanya kualat!"
"Pedes, ssshhh hah." Wajah Cakra memerah. Dia merampas botol minum yang tak jauh darinya.
"Eh kamu sakti sekali," sahut Satria.
"Air aki kok dilenggak." Satria menggelengkan kepalanya lalu melangkah meninggalkan Cakra yang tercengang di tempat.
"Sopo Iki yang taruh air aki disini?" seru Cakra dengan kesal. Dia kembali masuk ke dalam tetapi sampai dalam justru mendapatkan semprot dari Ibu karena Ibu tau Cakra tak membantu mencari Shayu.
Pemuda itu kembali berlari keluar dengan sendal yang hampir terlepas membuatnya hampir mencium lantai. "Galaknya Ibu suri." Cakra bergegas melangkah menyusul Satria.
"Mas tunggu!"
"Ck, ngapain ikut?"
"Mau ikut mencari istrimu. Aku kena amuk Ibu. Disuruh ikut membantu mencari Shayu dan Biru."
"Ya sudah ayo!" Keduanya melangkah mencari Shayu dan Biru. Menoleh ke kanan dan kiri barang kali singgah di rumah tetangga. Namun, tak mereka temui ibu dan anak yang entah kabur kemana.
__ADS_1
"Kita sudah jauh loh, Mas. Ini sich sama aja olahraga pagi. Balik yuk, Mas! Siapa tau Shayu sudah pulang."
Kini keduanya sudah berada di ujung jalan tetapi tak juga menemukan Shayu. Satria begitu cemas. Dia menyetujui ucapan Cakra lalu bergegas pulang.
"Cak, kenapa tidak coba mampir mushola?"
"Mau ngapain to, Mas? Udah pagi mampir mushola, mandi juga belum," tolak Cakra. Pasalnya mereka saja hanya menggunakan celana kolor. Tak pantas sekali datang dengan pakaian yang berantakan.
"Kita gunakan toa mushola."
"Maksudnya Mas mau menyatakan pengumuman gitu? Ya Allah Mas. Edan buat Mas saja, jangan ngajak aku!"
"Yee.... Biar cepat ketemu."
"Tapi kebanyakan yang pakai toa itu buat mengumumkan orang meninggal bukan orang ilang."
"Apa salahnya?" Satria ingin berbelok ke arah Mushola tetapi ditahan oleh Cakra. "Apa lagi?"
"Celanamu masih pakai kolor begitu, itu juga aku tidak tau bersih atau malah terciprat cairan-cairan. Wis mbuh lah. Ayo pulang!" Cakra menarik kaos Satria mengajaknya untuk pulang.
Keduanya pulang dengan tangan hampa, tetapi saat ingin masuk pagar. Langkah keduanya terhenti saat melihat orang yang dicari tengah terduduk di teras ditemani dengan kepala kambing.
"Tuh lihat Biru. Ikh matanya melotot ya Biru ya? Minta dicolok dia, Nak. Yuk sini mana tangan anak Macan? Kita colok matanya nih nakal."
"Sayang!"
"Eh Papah sini, Pah! Aku punya mainan baru." Shayu begitu girang menatap sang Satria. Menunjukkan kepala kambing di sebelahnya.
"Mainanmu Shay, opo kurang lucu kepala Masku?"
__ADS_1