Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Ncak Ncuk


__ADS_3

Shayu melangkah menuju kelas dengan mendapatkan banyak perhatian dari murid Panca Darma. Seperti biasa dia akan cuek dengan siapa saja yang memperhatikan. Namun, kali ini Shayu merasa ada yang aneh dengan pandangan mereka. Dia melangkah cepat menuju kelas untuk menghindari keganjalan yang terlihat.


"Seperti tidak pernah melihat orang sudah menikah saja. Apa yang aneh, toh jalanku masih biasa saja. Tidak ada yang mengganjal karena memang belum diganjal. Ihk ngomong opo to aku ki." Shayu menepuk keningnya kemudian melenggang cepat masuk kelas.


"Lihatnya gitu banget, ada yang aneh sama aku?" tanya Shayu dengan mengerutkan keningnya. Menghindarpun sepertinya sama saja karena sampai di kelas dia mendapatkan tatapan berbeda dari Topan dan Arita.


"Yo jelas, lehermu kayak ban bocor. Penuh tembelan, Pak Satria diam-diam ganas ya? Piye ceritakan padaku bagaimana rasanya ncak ncuk?" tanya Arita dengan begitu antusias.


Shayu mengerutkan keningnya, perlahan tangannya mengusap leher dan segera mengambil kaca kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Dari pantulan cermin Shayu melihat hansaplas yang ia pasang. Tidak ada yang aneh, tetapi semua melihatnya begitu heran.


"Ncak ncuk piye? Otak kalian ya, hhmm..." Shayu menggelengkan kapalanya, dia segera mengeluarkan buku untuk mengulang kembali materi karena hari ini try out terakhir.


"Pelit, punya pengalaman kok diam-diam. Tapi jika dilihat-lihat dia belum kejebolan, Ta. Sepertinya Pak Satria belum mau punya anak atau memang dia tidak ingin punya anak dari bocah pecicilan macam sahabat kita," sahut Topan mambuat Shayu menatapnya dengan tatapan tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Kamu bilang apa? Asal kalian tau ya, suamiku itu pengertian dan tak ingin membuat istrinya hamil di waktu masih sekolah. Dia begitu sayang makanya tidak mau ngajak ncak ncuk duluan."


"Kalian tidak usah banyak tanya padanya, yang kalian tanyakan itu aku. Lihat mataku seperti mata panda! Ini semua karena pasangan suami istri yang mengganggu tidurku malam-malam. Buat adonan kayak orang mau hajatan. Ramai sekali mereka." Cakra yang baru datang dengan langkah lunglai segera duduk di kursinya membuat kekepoan Arita dan Topan menjadi. Terlebih dia yang menyambar ucapan Shayu.


Sementara Shayu memijat pelipisnya dan kembali duduk dengan damai. Wajahnya merona dan tak bisa lagi menjawab karena saksi mata sudah datang. Pancingan dari Topan tidak mempan tapi sekalinya Cakra yang berucap, Shayu mati gaya.


"Kenapa tidak direkam to? Aku penasaran bagaimana hebohnya mereka," sahut Arita.


"Jangan! Nasib jomblo itu diuji saat seperti itu. Aku dan Topan bisa main sabun, lah kamu? Mau mainan timun?"


Bugh

__ADS_1


Arita memukul mulut Cakra yang berbicara sembarangan. Gadis itu menghela nafas kasar dan kembali ke duduknya. Arita melirik Shayu yang nampak bungkam, dia mendekati dan menyenggol lengan sahabatnya.


"Shay, sumpah aku kepo. Piye rasane?" lirih Arita.


"Gurih Ta, seperti es krim dikasih mecin. Coba saja jika tidak percaya, kambing di rumahmu belum di jual to?" jawab Shayu membuat Arita memukul pundaknya.


"Kamu menyuruhku ncak ncuk karo wedhus?"


...****************...


"Papah...."


Shayu turun dari motor dan segera berlari masuk ke dalam rumah. Dia melupakan Satria yang masih duduk di atas motor dengan membuka helm dan sempat oleng karena Shayu yang turun dengan tiba-tiba.


"Pelan-pelan Sayang!" seru Satria kemudian menggelengkan kepala. Sang istri begitu bar-bar dan pecicilan membuatnya mendadak khawatir. Satria segera menyusul Shayu masuk dan menemui mertuanya.


"Jangan terus menempel pada Papah. Peluk suamimu sana! Sudah menikah masih saja seperti bocah. Kasian suamimu, bisa-bisa cemburu melihat kamu begini pada Papah," ucap Pak Danuaji dengan melirik Satria. Beliau lega melihat hubungan keduanya jauh lebih baik, malah sudah terlihat sekali sayangnya Satria pada Shayu.


Shayu merenggangkan pelukannya, dia melirik Satria yang nampak kalem duduk di sofa dan kembali memeluk sang Papah.


"Jatah Mas Satria setiap malam, Pah sedangkan bersama Papah tidak bisa setiap saat."


Satria menunduk dengan wajah merona. Tak ada yang salah dengan jawaban dari Shayu, hanya saja bermakna sesuatu yang membuatnya canggung.


"Ya, suatu saat hanya suamimu yang akan menjadi pelindung dan tempatmu bersandar, bermanja dan mencurahkan kasih sayang. Papah tidak melulu selalu ada, karena semua ada masanya."

__ADS_1


"Papah ini bicara apa? Tidak boleh bicara sembarangan, Pah! Kok terkesan horor sekali, emoh! Pokoknya Shayu akan menjadi anak manja Papah meskipun nanti aku sudah memiliki banyak anak," sahut Shayu dengan mengeratkan pelukannya.


Sementara Satria dan sang Papah saling beradu pandang. Satria teringat akan ucapan mertuanya beberapa bulan yang lalu saat menitipkan Shayu dan meminta agar dia mempertahankan pernikahan.


"Pah, Satria harap yang Papah katakan waktu itu tidaklah benar. Sebenarnya Papah sakit apa?" tanya Satria saat sang istri sedang masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


"Lusa Papah akan berangkat ke Singapura. Disana Papah akan menjalani serangkaian pengobatan. Doakan Papah bisa melewati semuanya dengan baik dan bisa kuat bertahan sampai bisa menimang cucu dan cicit dari kalian."


Satria menghela nafas berat, dia teringat akan Shayu yang pasti akan sangat sedih jika tau sang Papah tengah berjuang melawan penyakit. Dia pun tak bisa mengatakan dan menceritakan apapun kepada Shayu terlebih mertuanya tak ingin putrinya tau tentang kondisi kesehatannya.


"Sebenarnya Papah sakit apa?"


"Papah akan melakukan cangkok jantung. Setelah itu cuci darah karena ginjal Papah juga sudah bermasalah. Papah sudah tua, Nak dan sudah lelah keluar masuk rumah sakit. Jika memang takdir berkata lain. Papah titip putri Papah. Jangan tinggalkan dia!"


Satria hanya bisa menganggukkan kepala, dia sudah tak tau lagi akan berkata apa. Di sisi lain dia begitu mengkhawatirkan istrinya. Terlebih lusa ujian nasional akan segera diselenggarakan dan esok sudah hari tenang.


"Untuk malam ini, biarkan Satria dan Shayu menginap disini Pah. Besok pagi Satria ingin mengajak Shayu untuk mengantarkan Papah ke bandara."


"Tapi Papah harap kamu tidak mengatakan masalah ini padanya. Papah tidak ingin dia sedih dan menganggu konsentrasinya dalam belajar," ucap Pak Danuaji mengingatkan. Beliau tidak ingin Shayu tau dan akhirnya bersedih. Mengganggu konsentrasi belajar dan tak bisa mengerjakan soal-soal ujian, sedangkan beliau masih ingin berjuang sekali lagi. Jika gagal, setidaknya dia sudah tenang melihat putrinya jatuh ke tangan pria yang tepat.


"Loh Mas, kok buka baju? Bukannya setelah makan malam kita pulang?"


"Mas mau mengajak kamu menginap disini. Mau merasakan kamar kedap suara, agar bisa mendengarkan suara manja kamu dengan bebas," bisik Satria yang kemudian mengecup pipi sang istri.


"Dasar mesum!"

__ADS_1


"Tapi enak kan?" tanya Satria yang kemudian mengedipkan sebelah mata dengan memamerkan dada bidangnya.


__ADS_2