
Kembali tidur di luar dengan berbantal lengan. Kesabaran Satria masih setebal papan penggilesan. Padahal sebelumnya tiap hari memeluk istri bohaynya setelah melakukan ritual melenakan tetapi malam ini memeluk guling setelah diusir. Bahkan mereka mengabaikan makan malam.
Tepat adzan subuh Satria sudah terbangun, dia segera beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamar. Tersenyum melihat sang istri sudah bangun dan kini tengah berada di dalam kamar mandi.
Pintu kamar pun tak dikunci mungkin paham jika suaminya akan mengerjakan kewajibannya.
"Sayang tunggu Mas ya, kita jamaah," ucap Satria saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah.
"Hhm..."
Dari jawaban terkesan masih marah, tetapi jika dilihat auranya sudah terang. Satria sempat terdiam memperhatikan hingga Shayu gemas karena suaminya yang tak kunjung masuk ke dalam kamar mandi.
"Imamnya masih mau melamun? Aku duluan ya!" ancam Shayu yang membuat Satria bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh the power of istri. Dijutekin gitu aja berasa dunia gelap gulita.
Setelah wudhu keduanya segera melaksanakan dua rakaat. Rasanya begitu adem dilihat, terlebih saat kecupan penjemput pahala tersemat indah di kening sang istri. Menyejukkan hati kemudian Satria tertidur dipangkuan Shayu.. Memeluk perut yang membuncit dengan memberi kecupan-kecupan lembut.
"Kangen aku, Dek. Padahal baru semalam tidak memeluk kamu. Ampun, Mas tidak mau tidur di luar lagi," rengek Satria.
Di atas sajadah ia memeluk dengan tertidur di pangkuan istrinya. Usapan lembut di rambutnya menandakan Shayu sudah tak lagi merajuk. Lembut sekali membuatnya nyaman. Tak lama dia tersenyum geli saat tendangan dari bayinya mengenai hidung. Mungkin bayinya tau jika sedang dipeluk sang ayah.
"Maaf ya Mas, aku kesal saja sama kamu. Padahal aku juga tidak bisa tidur."
Satria segera bangun lalu memeluk sang istri. Sayangnya kebangetan sampe gemes dan segara mengangkat tubuh Shayu lalu memindahkannya ke atas ranjang.
"Mas aku belum rapikan ini loh, kok sudah dipindah?"
"Biar aku saja, Sayang. Bobo lagi kalau masih ngantuk. Semalam tidak bisa tidur kan? Yuk Bobo yuk!" Satria segera melipat kembali perlengkapan sholatnya dan segera menyusul sang istri naik ke ranjang.
Hari masih gelap meski ayam tetangga mulai berkokok mencari makan. Efek semalam tidak kelon alhasil paginya kangen-kangenan. Dasarnya saja Shayu yang ambekan, nyatanya ditinggal tidur di luar dia tidak bisa nyenyak. Malah semalam dia mengintip suaminya karena mata sulit terpejam.
__ADS_1
Sekarang tertidur memeluk suami dengan perut yang sudah besar sebagai penghalang. Sama-sama nyanyak sampai terlewat waktu sarapan. Keduanya terbangun saat matahari sudah meninggi.
"Enaknya hari gini baru bangun. Aku nunggu kalian sampai berjamur!"
"Kamu tidak mandi makanya berjamur! Eh adik ipar bawa apa? Pesanan keponakan ya?" tanya Shayu dengan girang. Dia melangkah menuruni tangga dan melepaskan pelukan suaminya begitu saja.
"Hati-hati turunnya, Sayang!" ucap Satria dengan gemas dan segera menyusul sang istri yang sudah melangkah lebih dulu. Berlari lalu menggandeng tangannya. Ngeri sekali melihatnya, sudah membawa perut buncit lalu menuruni tangga seperti masih ramping. Sungguh membuat hati ketar ketir.
Keduanya mendekati Cakra yang ternyata sejak tadi datang dan menunggu mereka terbangun sampai menghabiskan satu piring nasi goreng buatan si Mbok.
"Waaaahhhhh... Ini beneran tidak ada bijinya? Kamu cari dimana? Kalau sampai ada tidak akan aku bayar!"
"Enak saja, ada juga paling sedikit. Mana ada jambu biji tapi tidak mau ada bijinya. Jambu monyet aja ada bijinya."
"Monyetnya jangan lihat ke aku!" sahut Satria yang kemudian meraih centong nasi siap dipukulkan ke kepala Cakra.
"Nah apa lagi suamimu, aku tanya ya sama kamu. Memangnya suamimu tak berbiji?" tanya Cakra pada Shayu yang kemudian segera meraih tas dan kabur dari sana sebelum centong nasi benar-benar mendarat di kepalanya. "Ampun Mas, bojomu sing ngawur!" seru Cakra yang sudah berlari keluar rumah.
"Ayo buka mulutnya, Sayang! Makan nasi dulu baru makan jambunya."
Shayu yang sedang serius akhirnya membuka mulutnya tanpa menoleh. Dia fokus mencari jambu yang benar-benar tidak ada bijinya.
"Kok ada semua ya, Mas? Maunya tidak." Shayu mendengus kesal dengan wajah masam. Pesanan tak sesuai harapan. Katanya sedikit tetapi ternyata banyak sekali bijinya.
"Di buang saja bijinya, Sayang! Mau jambu air saja yang bijinya hanya sedikit?"
"Emoh," rengek Shayu yang kembali membuka mulutnya mendapatkan suapan dari tangan sang suami. "Buah apa ya Mas yang tidak ada bijinya? Kenapa juga harus berbiji?" tanyanya frustasi.
"Ya karena dari biji bisa tumbuh pohon, Sayang."
__ADS_1
"Seperti kamu, karena biji jadi tumbuh anak dalam perut aku. Berarti nanti anaknya juga berbiji? Terus cucu kita berbiji juga? Cicit kita, seluruh keturunan kita berbiji semua? Terus dapat anak perempuannya kapan?" tanya Shayu yang mendadak lemas membayangkan generasi berbiji.
"Bukannya kamu pun berbiji?"
Pertanyaan yang membuat Shayu sgera mengecek tubuhnya. Mencari biji yang Satria maksudkan hingga mengintip tubuhnya yang tertutup dress hamil.
"Sayang makan dulu! Nanti lagi mencari bijinya. Malaman ya aku kasih tau dimana letaknya," ucap Satria dengan tatapan berbinar. Shayu menoleh ke arah suaminya dengan mengerutkan kening. Sedikit heran dengan suaminya yang terlihat begitu bersemangat.
"Aku sudah kenyang, Mas. Kamu habiskan saja, aku mau buang ini biji jambu. Cakra ngeselin, katanya sedikit tetapi banyak begini jadi susah," keluh Shayu. Dia sibuk mencongkel satu persatu biji jambu yang Cakra bawakan tadi membuat Satri gemas sendiri.
"Sayang bukan gitu caranya. Begini saja!" Satria mengambil alih jambu dan pisau dari tangan sang istri lalu membuang biji jambu dengan benar.
"Nah gitu dong Mas. Kenapa tidak dari tadi to? Kan aku sudah ingin sekali memakannya." Shayu mulai menikmati sedangkan Satria kembali disibukkan dengan membuang semua biji jambu demi membahagiakan istrinya.
"Jangan lupa dibayar, Sayang! Sudah masuk perut loh ini," ucap Satria mengingatkan.
"Iya Mas, tenang."
"Kamu tidak ingin kuliah setelah melahirkan nanti? Disini saja agar bisa ikut membesarkan anak kita sama-sama," ucap Satria.
"Memang boleh aku kuliah setelah melahirkan, Mas?" tanya Shayu yang menghentikan kunyahannya. Sesuai dengan apa yang pernah ia katakan. Dia kapok membuat Satria menangis. Maka dari itu dia tidak mau membayangkan akan kuliah terlebih sebentar lagi akan memiliki anak. Menjadi ibu rumah tangga sepertinya lebih seru.
"Boleh dong Sayang, asal jangan jauh-jauh."
"Nanti biar aku pikirkan lagi, Mas. Aku lagi nyaman begini sambil menunggu kelahiran anak kita. Sambil manja-manja sama kamu juga. Besok USG kan Mas? Aku mau lihat anak kita bijinya dimana."
"Hah?"
...****************...
__ADS_1
Kira-kira dimana guys tempat biji anak mereka? ✋