
Sejak kejadian tadi Shayu diam tak lagi membuka suara. Satria pun memilih fokus untuk bekerja sedangkan Shayu sibuk memainkan game online di ponselnya. Satria tidak sadar jika selama dua jam dia bekerja sang istri tertidur lelap di sofa. Sampai dia menyelesaikan pekerjaannya barulah Satria tau jika Shayu sudah pulas.
"Kamu pasti lelah menunggu saya," Satria menyelimuti tubuh Shayu dengan jaketnya, kemudian melangkah menuju meja kerja meminta salah satu karyawan disana untuk membelikan makanan.
"Cantik, dari jauh saja auranya membuat aku terpanah. Bagaimana dari dekat? Ternyata aku baru sadar telah menyiakan intan berlian." Satria menatap wajah cantik Shayu dari meja kerjanya. Dia tersenyum melihat Shayu yang terlihat imut saat tidur.
"Cundamanik."
Setelah makanan datang Satria membangunkan sang istri dengan perlahan. Hari sudah menjelang malam dan mereka belum mengisi perut sejak pulang sekolah. Satria menundukkan kepala mendekatkan diri dengan sang istri.
"Shay, bangun! Makan dulu yuk!" ucap Satria lembut dengan mengusap pipi gadis itu.
Tak butuh waktu lama Shayu membuka mata dengan lenguhan kecil terdengar dari bibirnya. Gadis itu menatap pria yang tadi sempat membuat kesal dan berusaha untuk duduk tetapi efek jarak yang dekat, kedua kening mereka terbentur.
"Duh, kepala aku," keluh Shayu dengan mengusap keningnya, buru-buru Satria mengecup kening gadis itu berulang kali. Hal itu sontak membuat Shayu tercengang. Dia terdiam dengan tangan yang lemas.
"Gimana tidak baper hati adek Mas," lirih Shayu membuat Satria menghentikan kecupannya. Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang dekat.
Satria mengusap kening Shayu dengan menyisipkan senyum lalu membukakan bungkus makanan yang telah tersedia di meja.
"Makan dulu ya, setelah ini kita pulang." Satria memberikan piring yang berisi bungkusan nasi goreng pada sang istri.
Shayu menganggukkan kepala dan segera melahap nasi goreng tersebut. Keduanya nampak lahap tanpa ada pembicaraan, hanya perhatian-perhatian kecil yang Satria berikan.
"Minum dulu!" Satria memberikan gelas berisikan teh hangat. Setelah Shayu meminumnya setengah Satria menghabiskan teh itu hingga tak tersisa.
"Eh kok dihabiskan?"
"Saya pikir kamu sudah tidak mau lagi," sahut Satria dengan melihat gelas yang kosong.
__ADS_1
"Bukan gitu, maksudnya kok minum bekas saya? Bapak tidak jijik?" lirih Shayu bertanya tetapi membuat senyum Satria terbit menghiasi wajah tampannya. Pria itu mengikis jarak lalu mengecup singkat bibir Shayu.
"Apa sich, kan aturannya sampai saya lulus baru boleh cium," protes Shayu dengan menutup bibirnya.
"Kamu halal buat saya, kamu istri saya, kamu milik saya, dan jangankan hanya cium, peluk pun boleh. Saya menolak aturan itu! Tidak jadi masalah juga andai saya meminum dari gelas yang sama, bahkan sendok yang sama pun boleh dicoba. Besok kita makan sepiring berdua ya!" sahut Satria santai membuat Shayu tercengang mendengarnya. Wajah gadis itu merona menggelengkan kepala.
"Begini rasanya menjadi istri pria dewasa, makan sepiring berdua, minum berbarengan, setelah itu pakai kolor bergantian. Gusti... Aku seperti terlempar ke jaman Mamah dan Papah."
Ucapan Shayu membuat Satria menghela nafas berat. Sulit sekali bersikap romantis dengan sang istri. Selalu saja mendapat kritikan dan kalimat yang mendadak membuatnya gemas.
Satria tak ingin menggubris ucapan sang istri, dia segera membereskan meja dan membuang sampah bekas makanan. "Ayo bersiap, kita akan pulang!"
Shayu mengulum senyum melihat wajah kesal Satria. Dia segera memakai jaket kemudian memberikan jaket milik Satria yang tadi digunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan menahan kesal, Pak. Nanti tumbuh jerawat repot urusannya. Sini cium dulu anak Mamah! Uluh-uluh, cup-cup. Anak Lanang..." Shayu ingin mengecup pipi Satria tetapi kesadarannya begitu cepat kembali, membuat gadis itu tersipu malu dan buru-buru keluar dari sana.
Satria tersenyum melihat tingkah Shayu dan segera menyusul istrinya.
Shayu sudah lebih dulu menempati tempat tidur dengan memainkan ponselnya hingga tak sadar jika pria itu sudah menyusul naik ke atas tempat tidur.
Hap
Ponsel yang tiba-tiba terlepas dari genggamannya sontak membuat Shayu menoleh ke arah Satria. Bibirnya mengerucut dengan tatapan sengit dan helaan nafas kasar.
"Bapak mulai iseng ya!"
"Tidak baik ada suami tapi fokusnya ke layar ponsel!" Satria mulai berani mengatur Shayu bahkan dia tidak segan-segan duduk berdekatan dengan sang istri. Sontak sikapnya membuat Shayu memberi tatapan waspada.
"Biasa saja melihatnya!" Satria mencubit pipi Shayu menimbulkan suara ringisan dari gadis itu. "Aku ini suami bukan penculik! Jadi jangan takut, belajar terbiasa agar lebih nyaman kedepannya!"
__ADS_1
Shayu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya tetapi Satria justru menahan dengan kuat. Keduanya kembali saling menatap dengan posisi yang sangat dekat.
"Mulai lusa berangkat bareng saya karena mobil kamu sudah saya pulangkan kerumah Papah!"
Shayu mengerutkan keningnya mendengar ucapan Satria. Dia mendengus kesal dan melepas selimut yang ada pada genggamannya. Gadis itu tampak tidak setuju dengan keputusan Satria yang tiba-tiba, tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.
"Bagaimana jika saya tidak mau?" tanya Shayu menantang.
"Kamu tidak akan bisa menolaknya dan berhenti panggil saya Bapak!" tegas Satria.
Shayu yang mendengar itu sontak menahan tawa dengan wajah menggoda. " Lalu Bapak mau saya panggil apa? Simbah? Pak Lik? atau Pak Dhe?" Shayu tertawa kecil dengan menggelengkan kepala. Dia teringat saat pertama kali mereka bertemu. Panggilan itulah yang ia layangkan pada Satria. Hingga membuatnya menghentikan tawa dan terdiam.
"Kamu kenapa?" Satria yang tadi ingin kesal karena ucapan Shayu, tiba-tiba diam dan mengamati wajah ayu yang tertunduk sendu.
"Teringat pertama kali bertemu Bapak. Andai kekesalan saya tidak berujung aksi nekat, kita pasti tidak akan terjebak dalam pernikahan seperti ini." Shayu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Satria dengan menyunggingkan senyum. "Maaf ya, karena saya anda harus menikah dengan murid sendi_"
"Sssttt..." Satria meletakkan jari telunjuknya di bibir Shayu. Dia menghentikan ucapan Shayu dan tersenyum menatap wajah sendu sang istri. "Tidak ada yang perlu disesali, semua sudah terjadi. Mari kita membuka hati dan saling mengerti!"
"Bapak serius?"
"Hhmm... Saya serius, kita jalani saja. Biarkan rasa itu tumbuh dengan sendirinya!"
Shayu mengulum senyum dengan terus menatap lekat guru sekaligus suami. Dia berpangku tangan tanpa mengalihkan pandangan.
"Oke, janji!" Shayu menjulurkan jari kelingkingnya agar pria itu membalas. Namun, belum sempat Satria mengapitkan jemari kelingking mereka, dering ponsel Shayu membuat keduanya menoleh ke benda pipih itu.
"Diam di tempat atau saya yang angkat teleponnya!" tegas Satria dengan wajah yang berubah datar.
Shayu yang merangkak melewati tubuh Satria tiba-tiba terhenti di atas tubuh pria itu dengan tangan yang menjulur ke arah nakas. Sontak gadis itu menoleh ke arah Satria dengan mata menyipit.
__ADS_1
"Kok posesif?"