Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Puas Anda?


__ADS_3

Pagi ini Satria sudah siap duduk di atas motornya dengan wajah berbinar. Senin pagi berangkat bekerja bareng istri. Satria menoleh ke arah Shayu dan Cakra yang berjalan bersama ke arahnya. Cakra segera menaiki motor sedangkan Shayu tampak ragu saat dia akan mendekati Satria. Pria itu begitu gemas lalu menarik tangan Shayu hingga gadis itu memekik tak tertahan.


"Kamu mau menunggu apa lagi, Shay? Nanti telat bagaimana?"


"Bapak yakin saya_"


"Apa?" tanya Satria dengan mengerutkan keningnya.


Shayu menarik nafas dalam kemudian mengembangkan senyuman. Dia lupa memanggil Satria dengan panggilan Bapak. Shayu berdehem sebelum kembali meneruskan ucapannya.


"Iya Mas Satria, yakin kita berangkat bareng? Bagaimana jika ada yang melihat dan berpikir yang bukan-bukan? Sudah pasti gosip kedekatan kita beredar pesat. Aku malas menanggapi cibiran fans kamu, Mas!" keluh Shayu membuat Satria menghela nafas berat.


Ternyata tak semudah itu berangkat bersama dengan sang istri. Hanya karena status guru dan murid membuat mereka harus menyembunyikan hubungan keduanya. Mungkin jika sebelumnya hal ini menjadi biasa karena memang hubungan mereka yang tak dekat. Namun, sekarang tidak demikian karena Satria mulai ingin terus berdekatan.


Satria masih terdiam, sedangkan Shayu menunggu jawaban. Sementara Cakra yang masih diam menyimak segera membuka suara.


"Sudah-sudah kalian berangkat saja berdua! Nanti aku tunggu di warung sebelum sekolahan, lalu Shayu ikut aku," ucap Cakra memberi saran pada kedua kakaknya.


Satria dan Shayu menoleh ke arah Cakra. Mereka berpikir sebentar, lalu dengan cepat gadis itu naik ke motor Satria hingga pria itu tersentak dan hampir saja tidak bisa menahan bobot motornya.


"Ayo, Mas!" seru Shayu mengajak Satria untuk segera berangkat sedangkan pria itu menggelengkan kepala mendapati respon Shayu yang begitu cepat.


"Pegangan!" titah Satria setelah memasang helmnya kemudian menoleh ke arah Shayu yang malah meletakkan kedua tangan di pundaknya. "Penggangan yang benar Shayu! Apa kamu lupa siapa aku?" tanya Satria dengan gemas.

__ADS_1


Cakra menggelengkan kepalanya melihat sepasang suami istri yang malah berdebat. Dia memilih pergi lebih dulu dari pada benar-benar akan telat.


"Kalian ini malah berdebat, aku tunggu disana!" seru Cakra yang kemudian melajukan motornya dengan kencang. Alhasil Shayu pun segera menuruti keinginan Satria dengan melingkarkan tangannya di perut pria itu.


Sampai di warung, Cakra menunggu tanpa membuka kaca helmnya. Begitupun dengan Shayu dan Satria yang baru sampai. Gadis itu menoleh ke arah jalan takut ada yang memergoki mereka. Terlebih dia masih berada di atas motor Bapak guru tampan incaran para siswi.


"Cepat Shayu, lima menit lagi pagar ditutup!" seru Cakra dengan berdecak kesal. Entah sedang kesambet apa tiba-tiba Kakaknya membawa motor seperti keong. "Nggeremet!" ketus Cakra dengan menatap kesal Satria.


Satria tak menggubris, dia tau Cakra kesal tetapi pria itu lebih memperhatikan Shayu yang kini turun dari motornya. Pria itu berdecak melihat sang istri beralih duduk di motor Cakra tanpa pamit terlebih dulu.


"Salim dulu!" seru Satria dengan mengulurkan tangan kanannya tetapi sang istri hanya meringis tanpa mau turun lagi. Gadis itu lupa, padahal ini kali pertama yang sejak semalam ia ingat-ingat tapi malah terlewat.


"Dirapel besok saja ya, Pak!" jawab Shayu yang kini sudah pergi lebih dulu karena Cakra buru-buru menancap gas menuju sekolah.


BRAK


Satria terjingkat saat pintu ruang guru tiba-tiba terbuka dengan kasar. Pria itu yang tengah bersiap membereskan buku untuk dibawa mengejar sontak menoleh ke arah pintu masuk. Kebetulan para guru sudah memasuki kelas masing-masing. Sehingga hanya dia saja yang tersisa karena tadi masuk sedikit terlambat.


Satria terus menatap pemuda itu yang melangkah mendekati dan menatapnya dengan tatapan tajam. Pemuda itu seperti tak ada rasa takut padahal saat ini yang dia hadapi adalah seorang guru.


Keduanya berdiri berhadapan dengan tatapan penuh makna. Satria paham jika ini berkaitan dengan sang istri. Namun, Satria mengacungkan jempol pada Arta yang berani menemui langsung. Hanya yang ia curiga saat ini adalah bagaimana pemuda itu tau hubungannya dengan Mashayu Rengganis.


"Puas anda merebut milik saya? Puas anda telah mengambil apa yang sejak awal digariskan sebagai masa depan saya? Anda datang tiba-tiba tetapi begitu lihai merusak hubungan orang. Anda telah menggagalkan pernikahan saya dan kini benar-benar merebut Shayu dari saya. Apa memang ini sifat anda? Perusak!" Arta meraih kerah kemeja milik Satria dengan mencengkeramnya dengan kuat.

__ADS_1


Satria tersenyum miring mendengar ucapan dari Arta. Dia paham sekarang jika pemuda itu yang tadinya akan dijodohkan oleh Shayu tetapi sang istri menolak hingga menjebaknya.


"Dari mana kamu tau tentang hubungan saya dan Shayu?" tanya Satria dengan sikap tenang. Dia berusaha keras agar keduanya tidak menjadi pusat perhatian orang lain.


"Tidak penting dari mana saya tau tentang hubungan anda dan Shayu! Yang terpenting saat ini, saya tidak terima dengan apa yang telah Bapak lakukan terhadap saya karena saya yang lebih pantas untuk Shayu bukan anda!" Arta melepaskan cengkramannya hingga tubuh Satria sedikit terhuyung kebelakang.


"Saya yang lebih mencintai Shayu dengan tulus bukan anda yang hanya dijadikan alat untuknya! Jangan berharap apapun dari pernikahan kalian karena saya akan membongkar itu pada pihak sekolah!" Arta memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia terus menatap Satria tanpa takut.


"Jangan pernah kamu mengancam saya!" tegas Satria dengan tatapan tajam. "Silahkan sekarang keluar dan mengikuti pelajaran! Karena kewajibanmu sebagai murid adalah belajar bukan mengurus masalah rumah tangga orang!" tegas Satria kemudian melangkah keluar ruangan.


"Sekali anda menyakiti Shayu, anda berhadapan dengan saya!"


Langkah Satria terhenti dengan rahang mengeras. Dia menoleh menatap Arta yang diam dengan wajah memerah. Keduanya diliputi kemarahan dan emosi yang memuncak. Beruntung tidak ada guru yang masuk dan melihat perdebatan mereka.


"Masalah Shayu sudah bukan urusan kamu lagi. Dia sudah memiliki pria yang berhak atas dirinya dan ingat, anda hanya orang asing yang mencampuri urusan pribadi orang!"


Arta kembali melangkah mendekati Satria. Dia mendengus kesal mendengar ucapan Satria yang membuatnya tambah geram tetapi, pria itu memilih untuk segera pergi dan tak menghiraukannya lagi.


"Lihat saja, sakit hati ini harus mendapatkan ganti rugi!"


Selama mengajar, berulang kali Satria menghela nafas kasar mengingat ucapan Arta. Dia tidak nyaman dengan kata-kata Arta yang sangat mencintai istrinya. Hingga membuat Satria tidak dapat konsen dalam mengajar.


"Hati kita memang belum bertemu dalam satu jiwa, tapi aku yakin kamu satu-satunya dan tak akan tergantikan.

__ADS_1


__ADS_2