
Permasalahan pagi ini ternyata tidak selesai sampai disini saja. Setelah Satria menjelaskan, beberapa guru masih ada yang keberatan terutama guru yang perempuan. Hal itu membuat kepala sekolah menghadirkan Pak Danuaji, mertuanya untuk ikut membahas masalah yang terjadi. Beruntung hari ini beliau bisa hadir dan segera datang ke sekolah.
"Papah..." Shayu memeluk sang Papah saat melihat beliau memasuki ruang kepala sekolah. Dia menangis di pelukan sang Papah yang hanya tersenyum hangat dengan membalas pelukannya.
Papah tau hal ini akan terjadi, karena serapat apapun menyimpan sesuatu pasti akan tercium juga. Namun, beliau tidak sama sekali marah ataupun kecewa. Hanya saja cukup heran dengan si penyebar berita. Atas dasar apa menyebarkan berita itu hingga memfitnah putrinya hamil di luar nikah.
Satria pun segera mendekat dan mencium tangan mertuanya. Semua duduk di ruang kepala sekolah dengan para guru yang menyaksikan. Itu pun tak semua guru hadir, ada beberapa yang mengerti dan tidak ingin ikut campur lalu memilih untuk mengajar. Ada pula yang sejak awal begitu terlihat antusias. Tepatnya ikut menyisipkan omongan kepada kepala sekolah dengan memberi bumbu agar masalah semakin rumit.
Ada tiga guru, yaitu Bu Rasti, Bu Amel dan gue bimbingan konseling. Namun sejak tadi Satria diam-diam melihat gerak gerik salah satu guru yang terlihat mencurigakan. Begitu terlihat perbedaannya dengan yang lain.
"Pah, Shayu dikira hamil duluan. Padahal buat saja belum, hiks...Hiks..."
Pak Danuaji mengulum senyum mendengar ucapan putrinya, kemudian menoleh ke arah menantunya yang segera menundukkan kepala. Wajah Satria merona, tetapi tepukan di bahuya membuat Satria tersenyum menatap Pak Danuaji.
"Maaf Pah, masih menunggu Shayu lulus sekolah," lirih Satria dan mendapatkan anggukan dari Papah.
"Papah tunggu segera!" ucap beliau dengan tersenyum hangat. Mereka saling berbicara lirih membuat beberapa guru di sana mengerutkan kening. Mereka ingin tau saja akan yang sedang dibahas, sampai-sampai mendorong kursi kepala sekolah membuat beliau menoleh dengan tatapan tajam dan helaan nafas berat.
Pak Danuaji kembali menjelaskan dan meminta maaf jika tidak berbicara sejak awal kepada Pak kepala sekolah. Mereka pun saling berbicara ramah karena kepala sekolah pun sangat menghormati Pak Danuaji.
__ADS_1
"Seperti itu Pak, saya mohon pengertiannya! Lagi pula selama ini mereka tak menunjukkan jika memiliki hubungan. Saya cukup penasaran dengan siapa yang menyebar berita tersebut."
"Maaf Pak Danuaji, tapi kami telah memutuskan untuk salah satunya harus keluar dari sekolah ini karena kami tidak ingin ada wali murid yang nantinya protes karena memang sejatinya masa sekolah tidak boleh menikah."
"Benar, Shayu harus tetap keluar dari sekolah ini. Akan banyak yang mengikuti jejaknya jika dia masih bersekolah disini!" sahut Bu Resti dengan begitu semangat.
Sementara Shayu sudah ketar ketir ketakutan, karena tinggal menghitung hari ujian dan bagaimana jika dia dikeluarkan. Dia akan gagal ujian dan lulus tahun ini.
Mendengar ucapan Bu Resti membuat Satria semakin yakin ada sesuatu yang membuat wanita itu ikut campur. Satria terus mengamatinya tetapi malah membuat wanita itu seperti salah tingkah.
"Apa tidak ada solusi lain? Ujian nasional tinggal sebentar lagi. Kasian anak saya jika harus keluar dari sekolah. Toh setelah ujian pun dia sudah mulai libur."
Bapak kepala sekolah tampak berpikir. Benar kata Pak Danuaji, terlebih beliau tidak enak hati karena selama ini Pak Danuaji lah donatur terbesar di Panca darma. Akan sangat tidak sopan jika dirinya mengeluarkan putrinya diujung pendidikan.
Semua mata mengarah kepadanya begitupun Mashayu yang sejak tadi menunduk diam di pelukan sang Papah. Shayu mengerutkan keningnya. Dia teringat dengan isu yang mengatakan jika Bu Resti dan suaminya dekat. Padahal jelas-jelas Bu Resti lah yang menyukai suaminya dan terus berusaha mendekat.
Shayu mengusap kasar air matanya, dia menoleh ke arah Satria dan menggenggam tangan pria itu dengan erat membuat Satria menoleh ke arahnya. Keduanya sempat saling beradu pandang tetapi Shayu segera menoleh lagi ke arah Bu Resti dengan seringai tipis mematikan.
"Apa karena ini, Ibu memfitnah saya?"
__ADS_1
Deg
Mata Bu Resti terbelalak mendengar pertanyaan Shayu yang kini mengangkat genggaman tangannya dengan Satria. Dia tak menyangka Shayu yang sejak tadi diam dengan wajahnya yang frustasi mendadak melayangkan pertanyaan yang membuat dirinya merasa terpojok.
"Anda menyukai suami saya bukan? Anda mendekatinya dan ingin memilikinya tetapi anda tau jika ternyata suami saya telah menikah. Anda yang diam-diam bertanya pada tetangga dan Ibu-ibu di jalan tentang status suami saya. Padahal yang anda tanya itu adalah Ibu mertua saya!" Shayu ingat betul saat mertuanya bertanya jika ada guru perempuan mendekati beliau dan bertanya kepada beliau di jalan tentang status Satria. Ibu yang kala itu tengah mampir membeli gorengan untuk dibawa pulang akhirnya mengatakan jujur jika putranya telah menikah. Namun, ibu tidak mengatakan jika Satria adalah anaknya.
Belum lagi ada foto yang memperlihatkan Satria yang tengah menjemput Shayu di tukang bakso tempatnya bersembunyi. Semua itu berbarengan dengan berkunjungnya Bu Resti ke rumah untuk menjenguk suaminya. Mungkin sejak saat itu beliau semakin curiga dan diam-diam mencari tau kebenarannya.
Bu Resti mendadak panik, dia menelan kasar salivanya dengan wajah merona. Namun beliau berusaha untuk menyangkal.
"Itu tidak benar! Saya memang menyukai Pak Satria, tapi tidak mungkin saya membuat berita murahan seperti ini. Apa untungnya saya?"
"Karena dengan ini anda bisa mengeluarkan saya kemudian anda ingin kembali mendekati suami saya!" sahut Sahyu dengan lantang. "Saya tau hubungan kami tak biasa, tapi kami tidak menganggu siapapun. Saya pun tidak merebut suami orang atau pacar orang. Mas Satria pria single yang sah saja jika menikahi muridnya. Ini pun bukan berita murahan seperti yang Ibu katakan, karena dari sini reputasi Ibu sebagai guru pun akan hancur karena sengaja memfitnah saya. Mengatakan jika saya hamil duluan! Ibu pikir saya judul lagu! Ku hamil duluan, sudah tiga bulan. Gitu!"
"Sayang," lirih Satria, bisa-bisanya di saat yang serius istrinya malah bernyanyi.
"Itu tidak benar! Kamu anak kecil tau apa tentang hal seperti itu. Lagian tidak ada bukti yang menguatkan akan itu, jadi bisa saja tuduhan kamu terhadap saya berbalik dan akan membuat kamu benar-benar dikeluarkan dari sekolah ini! Dan saya pastikan tidak akan ada sekolah yang mau menerima kamu!"
"Silahkan! Tapi saya akan mendatangkan Ibu mertua saya, tetangga yang ibu kepo-kepoin dan beberapa orang yang sering melihat anda datang pagi-pagi untuk mengintai kami!"
__ADS_1
Bu Resti semakin tersudut, dia tak menyangka jika dilawan habis-habisan dengan muridnya sendiri. Bu Resti mendengus kesal, rasanya ia malu sekali terlebih Satria terus menatapnya dan kepala sekolah juga meminta penjelasan dengan apa yang Shayu katakan.
"Lagi pula andai saya dikeluarkan pun saya tidak takut. Mungkin tadi saya lupa, jika saya sudah memiliki suami idaman yang tak akan membiarkan istrinya kelaparan sekalipun tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena hanya tamatan SMP."