
Malam ini Satria terpaksa menunda dulu untuk menyentuh sang istri. Mengingat memiliki tetangga yang rada emosian jika mendengar suara-suara manja di kamar sebelah. Mungkin besok baru kembali menikmati malam-malam indah dengan jamuan yang membuat ketagihan..
"Sini Sayang, bobonya deketan!"
"Tidak lebih kan Mas? Cakra berisik banget loh!"
"Tenang, cuma dikit aja. Butuh asupan setelah seharian kamu buat galau. Neneen boleh?"
"Dikit, tidak sampai pagi ya!"
Satria tak menjawab, suka-suka dirinya mau sampai pagi atau hanya sebentar. Mengangguk saja dulu, yang terpenting sang istri sudah dalam pelukan. Perkara kena protes itu belakangan.
Nyatanya Satria memang semeresahkan itu. Bilang iya hanya sebentar taunya sampai pagi tak mau lepas. Ini baru bayi besar, belum nanti jika anaknya sudah lahir. Pagi-pagi sudah ngilu sekali pucuk dadanya. Rasanya ingin mengumpat kesal tetapi takut dosa.
"Haish beginilah nasib istri, setiap bangun pagi badan tidak pernah fit. Selalu saja ada yang dikeluhkan."
"Kenapa sich, Sayang? Baru bangun kok sudah ngomel-ngomel saja?" tanya Satria yang terusik karena sang istri ngomel-ngomel sendiri.
"Itu loh Mas, istri tetangga sebelah. Tiap pagi hawanya mau ngamuk sama suaminya karena tiap malam harus meronda. Suami modelan begitu memang minta ditempeleng ya, Mas? Untung suami aku tidak, mengerti sekali jika istrinya sedang lelah."
Satria tercengang mendengar jawaban istrinya. Dia terus menatap sang istri hingga wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Kok aku berasa sedang dighibah istri sendiri ya?"
Shayu memutuskan untuk segera mandi baru dia turun ke bawah membantu Ibu. Meninggalkan suaminya yang entah sedang sibuk apa. Sejak ia keluar Satria fokus sekali dengan ponselnya.
"Bu, sedang masak apa? Shayu bantu kupas bawangnya ya."
"Iya Nduk, ini Ibu lagi masak gudeg. Sepertinya enak.Suka kan, Nduk?
Huwek
Huwek
Shayu segera melangkah menuju wastafel, memuntahkan semua isi perutnya hingga terasa pahit. Ibu pun dengan sigap mendekat dan memijit tengkuknya.
"Owalah Nduk. Tidak bisa mencium bau bawang to? Sudah ayo duduk saja, tidak perlu bantu Ibu. Kasihan sekali sampai pucat begini."
Satria yang baru turun dan ingin mencari istrinya justru terkejut melihat Shayu yang sedang dipijit Ibu di dapur. Buru-buru menuruni tangga dan melihat apa yang sedang terjadi dengan Shayu.
"Ada apa Bu? Kenapa dengan istriku?"
"Ini loh eneg, biasa hamil begini. Istrimu tidak bisa mencium bau bawang. Ajak ke kamar nanti Ibu buatkan wedang jahe."
__ADS_1
"Iya Bu."
Satria segera mendekat dan meraih tubuh istrinya. Mengangkat sang istri yang terlihat lemas dan membawanya kembali ke kamar.
Shayu diam saja dan segera mengalungkan tangannya di pundak Satria. Dia bersandar di dada bidang suaminya. Berasa kapok pagi-pagi mengumpat kesal sang suami. Dia berpikir apa yang terjadi dengannya karena melawan suami bukan semata-mata karena efek hamil.
"Tiduran sini dulu ya sambil nunggu Ibu buatkan wedang jahe. Mau aku kasih minyak angin biar hangat?"
"Boleh Mas," jawab Shayu lirih. Dia begitu lemas dan sentuhan dari suaminya begitu manjur menghilangkan rasa mual. "Pijit terus enak Mas, usap saja juga boleh. Nyaman sekali tapi kamu mau berangkat ya, Mas?"
"Tidak, hari ini aku ambil libur saja. Nanti siang ke dokter ya. Aku sudah buat janji. Kita periksa kandungan kamu."
Shayu menganggukkan kepalanya, cukup gercep sekali suaminya ini. Sepertinya juga sudah janji dengan dokter kandungan. Shayu pun penasaran dengan hasilnya dan ingin lihat foto usg seperti di film-film.
Siang harinya keduanya segera berangkat menuju dokter kandungan di rumah sakit yang cukup besar di kotanya. Satria benar-benar antusias sekali ingin memeriksakan kehamilan istrinya.
"Bagaimana Dok?"
"Ini sudah terlihat seperti titik kecil. Masih kecil sekali ya, baru enam Minggu. Anak pertama?"
"Iya Dok," jawab Satria dengan terus menatap layar monitor yang menunjukan jika benihnya telah tumbuh. Pria itu mengecup tangan sang istri tanpa mengalihkan pandangannya. Begitu bahagia sekali hingga tak terasa pipinya basah.
"Selamat ya Pak Bu, janinnya sehat. Bulan depan rutin cek up lagi ya. Ada keluhan tidak?" tanya Bu Dokter saat keduanya sudah kembali duduk dengan Satria yang terus memperhatikan istrinya.
"Sudah biasa itu efek kehamilan ya, maklum jika di trisemester pertama begitu. InsyaAllah nanti semakin bertambah usia kehamilan semakin berkurang mualnya. Papahnya juga harus menjaga dengan baik ya. Diperhatikan dan sabar karena emosi bumil suka tidak stabil."
"Baik Dok."
Keduanya segera pulang setelah tadi sempat menebus vitamin. Shayu pun sudah terlihat lebih segar. Bahkan terlihat ceria kembali. Mampir dulu membeli makanan keinginannya baru setelah itu segera pulang ke rumah.
"Loh Mas, tidak pulang ke rumah Ibu?"
"Pulang ke rumah kamu saja. Di sana banyak gangguan. Aku lagi rindu. Jago juga mau nengokin dedak bayi katanya."
"Jago bilang begitu? Enaknya dia bisa intip-intip. Kamu tidak mau intip juga Mas?"
"Nanti intip jalurnya aja agar jago tak tersesat," jawab Satria santai. Pria itu mengulum senyum melihat wajah istrinya yang terlihat bingung. Mengacak gemas rambut Shayu hingga membuat istrinya merengek.
Sampai di rumah Satria dan Shayu segera membuka jajanan yang tadi sempat mereka beli di jalan. Sempat membuat Si Mbok kegirangan karena kedatangan Shayu yang tak jadi berangkat ke luar negeri. Ditambah lagi kabar kehamilan Shayu yang membuat beliau sangat bahagia.
"Enak Mas?"
"Lumayan, tapi tidak seperti kamu. Enaknya bikin nagih," sahut Satria membuat mata Shayu mendelik. Suaminya jika sudah ingin bicaranya suka ngelantur.
__ADS_1
Namun, Shayu tak menggubris ucapan Satria. Dia fokus menghabiskan jajanannya begitu lahap.
"Sudah kenyang, Sayang?"
"Sudah, ngamar yuk Mas!"
"Siap, hayuk! Ditungguin dari tadi sampai kenyang lihat kamu makan. Gas kan, Yang?" tanya Satria begitu bersemangat.
"Apanya?"
Satria gemas sekali hingga tak sabar dan segera mengangkat tubuh sang istri lalu mengeksekusi dengan perlahan dan ritme yang teratur. Sadar betul jika ada buah hati di dalam perut Shayu. Tak ingin mengganggu dan membuat rusuh.
Sama-sama mencapai tujuan dengan berbagai gaya yang aman untuk bumil. Satria ternyata sudah memiliki ilmunya setelah tadi pagi mencari tau di Mbah Google.
"Mas, bangun!" Shayu terjaga di larut malam. Perutnya lapar bahkan rasanya begitu menginginkan sesuatu hingga air liur terus mengucur.
"Mas!" rengek Shayu, suaminya setelah tempur tidur dengan nyenyak hingga sulit sekali dibangunkan.
"Apa Sayang? Bukannya masih malam?"
"Iya tapi laper, dedeknya merengek-rengek minta makan. Katanya Papah diminta mencarikan makanan untuknya."
Mendengar ucapan istrinya yang membawa-bawa anaknya. Satria bergegas bangun. Dia menatap sang istri dengan mengerutkan kening.
"Mau apa, Dedeknya?"
"Mau makan Sego pecel, ayo Mas beliin!"
"Sekarang?"
"Iya," jawab Shayu dengan mata berbinar. "Belinya di tempat Mbah Tarno. Ayo!"
"Bukannya buka setiap pagi ya, Sayang?"
"Ya minta buatin sekarang!"
"Alamakjang...." Satria menepuk jidat. Sekalinya ngidam kok ya maksa. Baru bulan pertama sudah buah pusing kepala. Bagaimana besok dan bulan berikutnya?
"Dan satu lagi Mas, mau bubur ayam yang di goreng."
"Kenapa tidak sekalian minta mie ayam yang dipanggang?"
"Boleh kalau ada," jawab Shayu dengan senyum mengembang.
__ADS_1