Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Terkontaminasi


__ADS_3

Satria keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah. Entah apa yang terjadi di dalam sana tetapi jika dilihat dari auranya. Satria begitu terlihat lega. Senyumnya mengembang lebar seperti habis memenangkan undian.


Tanpa dia sadar jika ada sepasang mata yang menatapnya jengah. Beliau sedang menimang bayi yang hampir satu jam ditinggal sendiri. Beruntung datang tepat waktu. Melihat kamar kosong karena penghuninya sedang asyik hingga mereka tak mendengar suara tangis putranya.


Senyum Satria perlahan hilang saat melihat Ibu berdiri tak jauh dari ranjang Biru. Gerakannya terhenti saat sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Beruntung keluar sudah memakai celana kolor.


"Eh Ibu," lirih Satria dengan meringis menatap Ibu. Perlahan tangannya turun lalu menoleh ke arah kamar mandi yang belum menampakkan tanda-tanda istrinya selesai bersih-bersih.


"Istri habis disobek-sobek kok masih saja kamu kerjain. Sabar Sat! Kamu tuh baru sehari sampai rumah sudah mengurung istri di kamar mandi. Untung Ibu datang. Jika tidak anakmu tidak berhenti menangis."


"Maaf Bu, tapi nggak nyenggol bekas jahitan kok."


"Puasa! Wajib hukumnya! Wong Lanang kok kayak asu nggak dikasih makan."


Satria tercengang mendengar dirinya disamakan dengan hewan. Satria menghela nafas berat lalu melangkah mendekati Ibunya meraih Biru yang kembali tertidur.


"Ibu mau turun dulu. Banyak keperluan yang harus dicek buat besok. Ingat, jangan merusuh! Ibu jahit lambemu biar tau rasanya."


"Ampun Bu."


Satria kembali menidurkan anaknya di dalam boks bayi. Malu sudah pasti. Rasanya seperti tertangkap basah oleh Ibu sendiri.


"Mas! Mas!"


Satria menoleh ke arah pintu kamar mandi saat mendengar suara sang istri memanggil dengan lirih. Satria melihat kepala Shayu yang keluar sedikit seperti orang mengintip.

__ADS_1


"Ibu sudah keluar, Mas?"


"Sudah, cepat pakai baju! Nanti kamu masuk angin, Sayang. Setelah ini susui Biru. Kasihan kehausan. Tadi dia sudah terbangun sampai tidur lagi karena menunggu lama."


Shayu menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Shayu sudah dari tadi ingin keluar tetapi saat mendengar suara Ibu yang memarahi suaminya membuat Shayu memilih menunggu sampai situasi aman terkendali.


Shayu buru-buru memakai pakaiannya dan segera menyusui Biru. Memberikan asi sampai putranya kenyang. Sementara Satria turun ke bawah mengambil minuman hangat untuk istrinya.


" Habis dimarahi Ibu ya?" ledek Cakra yang entah tau dari mana adiknya akan kabar itu. Atau jangan-jangan Ibu mengoceh tiada henti hingga membuat semua penghuni rumah itu tau.


Satria mencoba untuk tak menghiraukan meskipun dia penasaran. Pria itu segera membuatkan teh manis untuk sang istri yang pasti sedang kehausan.


"Pasti kepo aku tau dari mana kamu kena semprot oleh Ibu. Jelas saja aku tau, orang aku nguping," ucap Cakra dengan bangganya.


Dia tadi berniat ingin menyusul Ibu karena dipanggil Bapak. Ada Bu RT menanyakan untuk acara akikah besok tetapi dia mendengar Ibunya sewot. Hingga membuatnya tertawa saat mengintip wajah Kakaknya yang memerah.


"Eh ngusir? Tidak bisa, aku ini seksii wira wiri. Memiliki peran penting bagi Ibu. Jadi tidak bisa pulang tanpa ijin Ibu ratu."


"Terserah! Yang penting jangan ganggu aku!" Satria segera melangkah kembali ke kamar meninggalakan Cakra yang tertawa penuh kemenangan.


"Awas Mas! Jangan sampai mulutmu dijahit Ibu," seru Cakra membuat Satria mendengus kesal.


Satria mesum ke dalam kamar bertepatan Shayu yang ingin keluar mengambil minum. Melihat suaminya membawa cangkir besar membuat Shayu mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Buat aku ya, Mas?"

__ADS_1


"Iya Sayang, diminum dulu!" Satria memberikan minuman itu pada Shayu. Dengan senang hati sang istri menerimanya lalu meminum dengan tatapan terpusat pada wajah suaminya.


"Kamu kenapa? Dimarahi Ibu lagi?"


"Nggak kenapa-kenapa, Sayang. Hanya sedikit lelah." Satria dengan manja mengambil posisi tidur dengan berbantal paha sang istri. Memeluk perut Shayu dnegan mata terpejam. Reflek Shayu pun mengusap lembut rambut Satria dengan mengukir senyum.


"Kambingnya sudah datang, Mas?"


"Sepertinya sedang dibeli oleh Ibu dan Bapak. Kenapa Sayang kok kamu tiba-tiba menanyakan kambing?"


"Nggak usah cemburu, Mas. Hanya memastikan saja. Kan besok pagi mau dipotong buat acara."


Satria terdiam, dia masih mencerna kata-kata Shayu yang mengatakan jika ia cemburu pada Kambing. Shayu memang selalu membuatnya geregetan. Tapi gemas sekali karena begitu peka apa yang ia inginkan. Mengingat tadi dibuat lega hingga serasa melayang.


"Dek, yakin bisa mengurus Biru sendiri?"


"Yakin banget, Mas. Kenapa? Mas ragu?"


"Sedikit, apa lagi kita belum berpengalaman. Takut salah penanganan." Ya, Satria tengah memikirkan istrinya. Apalagi dia yang sebentar lagi harus kembali aktif bekerja.


Jika meminta tolong Ibu, Satria tak tega. Takut Ibunya kelelahan tetapi meninggalkan Shayu sendiri membuat Satria kepikiran. Masih sangat ragu, terlebih Shayu yang banyak bercandanya.


"Tenang saja, Mas. Aku bisa kok, aku dan Biru kan sudah bestie. Lagian ada si Mbok, Mas. Jadi kamu tidak usah mengkhawatirkan Biru. Dia aman dengan aku. Kalau rewel atau menangis tinggal kasih ASI. Beres. Jangan lupakan jika aku membawa kendi kemanapun aku pergi. Susu cap macan yang membuat Biru kenyang. Tapi mas aku lupa."


"Lupa apa?"

__ADS_1


"Lupa tanya sama Biru. Tadi nennya rasa apa setelah terkontaminasi oleh Papahnya."


__ADS_2