
Satria meneteskan air mata setelah mendengar suara tangis putranya menggema memenuhi kamar persalinan. Hilang suami rasa kekhawatiran dan gelisah saat sang istri mulai terlihat payah. Segala rasa berganti dengan kelegaan yang diiringi ucapan syukur pada Sang Pencipta.
"Alhamdulillah Ya Allah..." Satria tersenyum dengan ekor mata yang basah. Dia menghujani sang istri dengan banyak kecupan. Begitu bahagianya Satria saat ini. Semakin sayang juga pada istrinya yang sangat hebat.
"Terimakasih Sayang kamu sudah berjuang. Anak kita sudah lahir dengan selamat," lirih Satria. Meski tangannya berdarah-darah karena menjadi korban pelampiasan sang istri tetapi melihat putranya lahir dengan selamat sakitnya pun lenyap.
"Sakitnya luar biasa Mas, tapi alhamdulillah..."
Setelah bayinya dibersihkan dan Shayu pun sudah mendapat jahitan yang lumayan. Kini ibu dan anak itu sudah rapi. Shayu berbalut jarik sedangkan putranya dibalut dengan kain bedong. Satria pun sudah merapikan penampilan sang istri. Menggantikan pakaian yang mudah untuk menyusui dan menyuapi Shayu yang begitu lapar setelah mengeluarkan tenaga.
Malam ini sengaja Satria tak memberitahu terlebih dahulu pada keluarga. Subuhnya baru ia menelpon kedua orang tuanya yang sudah pasti begitu terkejut hingga Satria mendapatkan ocehan dari sang Ibu. Namun tak masalah karena malam tadi Satria masih bisa menghandle istri dan anaknya sendiri. Bayinya cukup anteng dan Satria pun mudah membantu putranya untuk meraih sumber ASI.
Shayu pun cukup dewasa menghadapi semuanya. Hanya keluhan kecil tetapi tidak membuatnya rewel. Pagi ini pun sudah mulai membiasakan dengan peran barunya menjadi Ibu.
"Aduh sakit, Mas. Padahal semalam ndak loh. Enak disusu kamu dari pada bayi. Lidahnya kok kasar ya, Mas lama-lama. Sedotannya juga kuat banget ngalahin kamu," keluh Shayu saat menyusui putranya yang begitu terlihat haus. Wanita itu meringis merasakan perih yang tak tertahan. Belum lagi jahitan yang masih terasa. Lengkap sudah, Shayu meringis merasakannya.
"Begitu Sayang? Mungkin dia belum terlatih, Dek. Atau nanti aku obati ya. Mungkin kamu belum terbiasa saja sama mulut bayi. Biasanya sama aku, sekarang anak aku yang berkuasa. Beda mulut beda gerakan dan rasanya, Yank. Yakin nanti kalau sudah terbiasa akan nyaman."
Satria memperhatikan bibir putranya yang begitu kuat menyedot hingga pipi gembulnya sedikit kempot. Benar-benar putranya ingin menguasai dan menghabiskan jatah pabrik susunya. Mungkin balas dendam juga dan sedang membangun benteng kekuasaan agar Papahnya tak boleh ikutan. Buktinya tangan mungil itu singgah di dada sebelah milik Shayu, menutupi aset yang setelah ini pun akan ia habiskan sarinya.
__ADS_1
"Sudah Nak, kamu nich laper atau doyan?" u apa Satria yang terus memperhatikan buah hatinya.
"Betah lebih tepatnya, Mas."
Tak lama dari itu pintu terbuka lebar dan masuklah kedua orang tua serta Cakra yang tak ketinggalan mengikuti di belakangnya. Pria itu begitu penasaran dengan hasil cetakan sahabat dan Kakaknya.
"Assalamualaikum... Owalah sudah keluar baru ngabarin. Ibu jadi tidak bisa nunggu Shayu lahiran. Kamu ini, istri lahiran diam-diam saja! Jangan begitu lagi Satria! Bikin gereget orang tua," sewot Ibu pada putra sulungnya.
"Wa'alaikumsalam..." Shayu tersenyum mengembang melihat kedatangan mertuanya. Dia buru-buru melepaskan diri dari putranya yang sudah nampak terlelap tetapi begitu betah dan enggan melepaskan. Mengancingkan kembali pakaiannya karena tidak enak ada Bapak dan Cakra.
Sementara Satria hanya tersenyum melihat kekesalan Ibunya. Dia menyalami kedua orang tuanya lalu meraih putranya dari gendongan sang istri.
Ibu dan Bapak begitu senang. Kedua mata mereka berbinar menerima cucu pertama. Bapak pun begitu gemas dan memberi ciuman pada pipi gembul cucu yang kini tengah terlelap.
"Selamat ya kalian. Guanteng ngalahin Omnya," celetuk Ibu.
Cakra yang sejak tadi masih diam begitu tergugah hatinya saat ketampanannya dibandingkan dengan keponakan. Bocil itu sepertinya akan menjadi saingan. Sudah tak mampu menyaingi Bapaknya kini anaknya ikut-ikutan. Baru lahir saja gantengnya sudah membuat hati ketar ketir dengan pikiran menerawang ke masa depan.
"Coba lihat! Seganteng apa sich sampai dibandingin sama aku yang kece." Cakra melangkah mendekati Ibu dan Bapak. Berdiri ditengah-tengah mereka untuk melihat lebih dekat ponakannya.
__ADS_1
"Woalah... Untung masih bayi, setidaknya kamu tidak merebut incaranku. Kalau sudah besar aku yakin dia akan seperti Mamanya. Gantenge bar-bar. Hati-hati jangan diajari playboy anakmu!" ucap Cakra lalu menoleh ke arah Shayu.
"Memangnya aku play girl? No, Big No. Oke! Tapi tidak apa-apa jika nanti sudah besar banyak ceweknya. Hidup itu pilihan. Harus bisa memilih dari banyaknya bunga yang cantik tersebar di taman.
"Wah masih bayi sudah diajari jadi pemain. Mas bojomu tuh!"
"Sudah-sudah, ngomong-ngomong siapa namanya Sat? Apa sudah ada?" tanya Bapak pada Satria yang kini tengah mengupas jeruk bawaan Ibu.
"Sudah Pak. Apa Bapak mau nyumbang nama?"
"Nyumbang kok nama, nyumbang tuh dana Pak!" sahut Ibu yang membuat Satria juga Shayu tertawa mendengarnya.
"Ya nanti to Bu, kita belikan mainan yang banyak agar besarnya tidak main hape terus," sahut Bapak kemudian menoleh ke arah Satria lagi. "Kamu saja yang memberi nama, Le. Pasti bagus kan?"
"InsyaAllah Pak. Namanya Banyu Biru Purnama."
Bapak, Ibu dan Shayu tersenyum mendengarnya. Jujur Shayu belum tau persis nama yang akan diberikan pada putranya karena sejak awal sudah
menyerahkan semuanya pada Satria. Percaya betul dengan mantan Pak guru satu itu.
__ADS_1
"Memang airnya Mas Satria biru, Shay? Bukannya putih kental?" tanya Cakra membuat senyum Shayu luntur.