Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Sayang


__ADS_3

Satria yang juga terkejut dengan sikap sang istri bukan menikmati pelukannya tetapi bertanya-tanya mengapa bisa cepat sekali berubah. Tadi begitu kekeh tidak ingin hubungan mereka diketahui hingga membuat kakinya berujung sakit. Sekarang tanpa diminta sang istri malah peluk-peluk manja dengan begitu erat.


Perlahan Satria membalas pelukan itu, dia mengusap lembut punggung Shayu dan mencoba untuk menenangkan gadis itu. Satria pun memberi kecupan di kening agar Shayu merasa lebih merasa aman, tapi justru membuat Topan dan Arita kejang-kejang melihat adegan itu.


"Mas, aku dikira selingkuh sama Cakra. Padahal yang benar kan aku selingkuhnya sama kamu. Tidak mau dipasangkan dengan Cakra, mas!"


Cakra mendelik mendengar itu, seakan dia jelek sekali hingga Shayu terlihat geli padanya. Sumpah sang ipar semakin lama menguji kesabaran. Namun, lagi-lagi ia hanya bisa diam dan mendegus kesal karena yang dihadapinya bukanlah Shayu melainkan sang kakak.


"Sudah, tidak perlu dipikirkan! Mau dipasangkan dengan siapapun kamu tetap istri aku!" tegas Satria dengan suaranya yang lembut pada istri kecilnya yang sedang merajuk.


Sontak ucapan Satria semakin membuat mata Arita dan Topan terbelalak. Mereka saling menatap kemudian kembali menoleh ke arah Shayu yang masih bersandar di dada Pak guru.


"Apa saya tidak salah dengar? Istri? Shayu istri Bapak? Kok bisa? Bapak Satria dan Shayu? Bukannya kalian itu tidak akur? Maksudnya Shayu tidak suka dengan Pak Satria, terus kenapa bisa..." Pertanyaan Arita dianggukki oleh Topan. Pria itu juga tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sungguh Shayu menang banyak menurutnya.


"Hay Arita, pertanyaanmu macam sepur! Panjangnya..." Cakra berdecak dengan menggelengkan kepala.


Sementara Ibu segera mendekat dan meletakkan cemilan di meja. Beliau yang sejak tadi menyimak dan memperhatikan, dalam hati sangat bahagia melihat interaksi Satria dengan Shayu yang semakin dekat. Beliau sudah membayangkan jika sebentar lagi akan mendapatkan keluarga baru.


"Lebih baik kamu segera jelaskan pada murid-muridmu itu, Sat! Jangan buat mereka terus penasaran! Kasihan juga istrimu bingung dari tadi," ucap Ibu pada Satria. Beliau segera kembali ke belakang dan menarik tangan Bapak agar tidak ikut-ikutan masalah anak muda.


Kini semua telah duduk di sofa, Satria meminta kedua muridnya untuk lebih tenang dan menjelaskan hubungan mereka. Shayu pun hanya diam dengan menggigit bibir bawahnya saat sang suami menjelaskan.


"Shayu adalah istri sah saya." Satria menoleh ke arah sang istri, melihat ekspresi Shayu membuatnya gemas sendiri. Satria meraih tangan Shayu dan menggenggamnya dengan erat. Rasanya Satria tidak tahan ingin segera mengajak sang istri masuk kamar. Terlebih sikap manja Shayu membuatnya semakin suka.


"Mas," lirih Shayu dengan suara mendayu saat merasakan sakit di tangannya.

__ADS_1


"Manjanya nanti lagi dikamar! Itu bibirnya jangan digigit terus! Kamu buat aku tidak tenang!" bisik Satria dengan suara tertahan, tetapi malah mendapatkan pukulan dari istri kecilnya. Shayu menghela nafas kasar, menatap sengit suaminya yang malah berpikiran kotor di saat mengadakan konverensi dadakan.


"Eheem... Bisa tidak serius dikit? Nanti lagi jika kalian ingin ini itu. Tidak sadar apa kalian telah membuat dua orang ini sejak tadi mangap menunggu kelanjutan dari penjelasan kalian!" celetuk Cakra yang geram melihat pasangan bucin di depannya. Sedangkan Arita dengan Topan buru-buru mingkem saat mendengar ucapan Cakra.


"Kok bisa? Shay, kamu kan masih sekolah? Kenapa bisa menikah? Lalu Arta?"


"Banyak sekali pertanyaan kamu!" ketus Shayu yang lama-kelamaan geram dengan kekepoan Arita. "Intinya aku dan guru matematikamu yang tampan itu sudah menikah! Titik! Tidak ada lagi pertanyaan apapun, apa lagi prosesnya. Ini bukan resep membuat bubur jadi tidak ada keterangan bagaimana kami menikah!" ucap Shayu tegas membuat Arita bungkam tapi sedetik kemudian wajahnya berubah melas.


"Berarti, sudah tak ada harapan lagi? Pak Satria sudah benar-benar mempunya istri" sahut Arita dengan wajah sedih.


"Dan tidak membuka lowongan untuk istri kedua, apa lagi menunggu dudanya!" ketus Shayu yang mengingat Arita karena pernah berbicara demikian. No! Tidak akan Shayu biarkan. Apa lagi suaminya mulai bucin, tak seperti dulu saat baru bertemu. Meskipun belum tau perasaannya seperti apa tetapi Shayu tidak melegalkan adanya madu dalam rumah tangga.


"Iya-iya, pelitnya. Lirik dikit mah tidak apa-apa to? Kan kalau di sekolah milik bersama, maksudnya guru kita bersama, gitu!" jelas Arita yang ngeri saat melihat mata Shayu melotot kepadanya.


Satria tersenyum melihat sikap Shayu, dia semakin gemas saja kemudian mengacak rambut Shayu hingga membuat gadis itu berdecak lirih.


Arita dan Topan menganggukkan kepala, mereka mengerti sekarang dan memberikan selamat pada sahabatnya meski masih tidak menyangka jika Shayu akan menikah muda. Terlebih dengan guru matematika yang notabene baru hampir empat bulan mengajar.


Setelah Arita dan Topan pulang, Shayu segera masuk ke kamar. Gadis itu cukup lelah dan ingin mandi lalu rebahan.


"Sayang..."


Deg


Langkah Shayu terhenti di ambang pintu, dia yang ingin masuk mendadak gugup dengan debaran jantung yang menggebu. Panggilan sayang begitu nyaring terdengar tetapi membuat tubuh Shayu tiba-tiba meriang.

__ADS_1


Satria mengerutkan keningnya, dia menatap heran ke arah Shayu yang diam dan tidak segera masuk. Dia segera menghampiri lalu menarik tangan sang istri dan tidak lupa menutup pintu kamarnya.


"Kamu kenapa, hhmm?" tanya Satria dengan mengusap lembut pipi Shayu.


Tasnya yang ia pegang sejak tadi terjatuh ke lantai. Pandangannya perlahan beralih ke arah Satria. Shayu menarik nafas dalam-dalam sebelum menghadapi suaminya yang semakin meresahkan.


"Mas panggil aku?" lirih Shayu.


"Hhmm, memangnya siapa lagi? Atau Arita saja yang aku panggil Sayang?"


Bugh


Satu pukulan mendarat dengan sempurna di dada Satria. Shayu mendengus kesal mendengar itu. Lalu meraih tasnya yang terjatuh dan melangkah menuju meja belajar. Dia meletakkan tas disana dan bersiap ingin masuk kamar mandi tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti.


Shayu menelan kasar salivanya saat merasakan dekapan dari Satria dari belakang. Gadis itu memejamkan mata saat hembusan nafas pria dewasa menerpa tengkuknya yang semakin membuat gelisah. Nampaknya Satria sudah mulai nyaman. Pria itu mengusal hingga masuk ke leher jenjang sang istri.


"Makasih..."


"Mas, makasihnya tidak perlu begini. Rasanya aku mau pipis!"


Satria mengulum senyum, dia tidak ingin melepaskan. Satria justru ingin membuat Shayu terbiasa dengan segala sentuhan darinya.


"Makasih karena sudah mau jujur dengan sahabat kamu," ucapnya lagi membuat Shayu semakin merinding. Bahkan Shayu menahan nafas marasakan hembusan nafas Satria saat berbicara.


"Sayang," lirih Satria membuat mata Shayu semakin terpejam. Semakin disayang semakin dia mati gaya. "Mandi yuk!"

__ADS_1


"Hah?!" sontak mata Shayu terbelalak dengan wajah merona.


__ADS_2