Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Langsung Kalon


__ADS_3

Belum ada gerakan untuk membalas tetapi getaran ditubuhnya membuat Satria paham jika sang istri tengah menangis. Pelukan erat semakin ia berikan di bawah guyuran hujan yang semakin deras.


Kedua insan saling merapat dengan hati yang sama-sama sedang runyam. Satria dengan segala penyesalannya, sementara Shayu dengan segala duka dan kecewa.


Hingga akhirnya Shayu membalas pelukan saat petir kembali menyambar bumi. Ada hikmah dibalik hujan yang menyertai kilatan. Keduanya semakin merapatkan diri dengan saling membalas pelukan.


Sebersit senyum mulai timbul, Satria mengecup tengkuk sang istri yang telah memberi kehangatan. Padahal tadi tubuhnya sudah menggigil, tapi kini menghangat dengan hati yang mulai tenang.


"Pulang Mas! Aku kedinginan," rengek Shayu.


Hal yang dia rindukan setelah diamnya sang istri. Rasanya begitu gemas hingga Satria mengangkat tubuh Shayu kedalam gendongan.


"Mas nanti jatuh!" pekik Shayu dengan mengalungkan kedua tangannya. "Ini licin loh!"


"Jatuh kepelukanku tidak masalah, Sayang!" seru Satria membawa Shayu ke motornya. Tak lagi galau karena istri sudah tak lagi merajuk. Suara manjanya sudah mulai terdengar dengan pekikan yang merusuh.


"Mas kok ke motor kamu, mobil aku gimana?" tanya Shayu saat Satria mendudukkan di atas kuda besinya. Dia lupa jika Shayu membawa mobil sendiri. Efdk semangat menemukan istri tercinta sampai tak mengingat jika sang istri membawa kendaraan.


"Ya sudah, Mas antar ke mobil kamu. Nanti mas ikuti dari belakang." Shayu menganggukkan kepala kemudian segera turun dari motor suaminya dan melangkah hendak menuju basemen. "Sayang!" Satria menarik tangan Shayu yang dingin. Gadis itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Satria.


"Jangan lagi pergi tanpa pamit! Mas khawatir, takut tidak bisa lagi menemukan kamu," ucap lembut Satria lalu mengecup jemari sang istri.


Shayu dibuat salting, wajahnya merona kemudian menoleh ke sembarang arah agar tak terlihat oleh Satria. Baru seharian di tinggal tanpa kabar Satria seketika berubah menjadi pria yang romantisnya mencapai 360⁰.


"Sayang!" seru Satria karena Shayu kembali melangkah tanpa kata. Gadis itu meninggalkannya dengan setengah berlari. Buru-buru Satria naik ke motornya dan mengejar.


"Dek!"


"Apa sich Mas?" tanya Shayu yang enggan menoleh. Dia terus melangkah panjang agar cepat masuk ke area parkir. Tubuhnya sudah kuyup diterpa hujan yang tak kunjung reda.

__ADS_1


"Naik motor saja biar cepat! Kamu kenapa harus jalan begini?"


Sontak Shayu menghentikan langkahnya. Sudah kedinginan masih harus berjalan lagi. Gadis itu baru sadar kemudian menoleh ke arah Satria. Melihat Satria yang sudah nangkring di atas motornya dengan keadaan yang sama.


"Kenapa tidak bilang dari tadi sich, Mas?" ucap Shayu gemas. Dia yang salting dan memilih segera pergi malah menyalahkan Satria yang masih baper maksimal.


"Iya maaf, ayo naik! Jangan terus merajuk! Dingin ya? Nanti sampai rumah langsung kelon aja ya biar saling menghangatkan," ucap Satria dengan begitu bersemangat.


"Aku mau tidur di kamar Ibu saja," celetuk Shayu yang kini sudah naik ke motor Satria.


"Kamu mau kelonan sana Ibu dan Bapak? Kenapa tidak ajak Cakra sekalian?"


"Mas!"


Bugh


Buru-buru Ibu mengambil handuk untuk Shayu dan juga Satria setelah melihat keadaan keduanya. Mereka segera masuk dengan Bibi yang sigap membuatkan minuman hangat.


"Ya Allah Nduk, dari mana saja to? Suamimu sampai tak enak makan. Mencari seharian sambil merengut seperti hilang gairah hidup. Semua ikut bingung mencari kamu. Takut ada hal-hal buruk yang menimpa." Ibu membantu Shayu handukan sedangkan gadis itu melirik suaminya yang tengah menyeruput wedang jahe.


"Sebegitu takutnya kamu Mas, sampai begitu. Baru sehari aku tinggal, bagaimana jika aku pergi ke Amerika meneruskan kuliah. Bisa tinggal kulit sama balung to, Mas."


"Maaf Bu, Shayu cuma mau melupakan kesedihan Shayu. Biar cepet ikhlas dan kembali beraktivitas normal." Shayu tidak enak hati dengan kedua mertuanya. Setelah berduka malah jadi ajang pencarian. Beruntung tidak viral di medsos, mengingat adik iparnya yang super-super jahil.


Namun, pemikirannya salah, saat ini Cakra malah sibuk live dan menyorot dirinya dengan kamera ponsel. Membuat kedua matanya terbelalak sempurna dengan helaan nafas kasar.


"Cakra..."


"Halo guys, sudah ketemu Yo. Ndak jadi bunuh diri atau ngumpet dikubangan kali. Suwun yang sudah ikut mencari, Mashayu Rengganis sudah pulang dalam kondisi basah-basahan."

__ADS_1


"Cakra, matikan tidak!"


"Tidak, karena kamu followers aku bertambah." Cakra segera kabur sebelum mendapatkan amukan dari Shayu. Jelas saja dia memanfaatkan keadaan dengan banyaknya pengikut Shayu. Menjual nama Shayu dan kini malah asyik live Instagram dan tok-tok di kamar.


"Sudah jangan dikejar, Sayang! Kita masuk kamar saja yuk. Bu, Pak, aku ke kamar dulu ya. Ini wedang jahenya aku bawa," pamit Satria yang segera meraih nampan dan meminta Shayu melangkah lebih dulu ke kamar.


"Jangan lupa makan, atau makan kue itu tadi masih banyak di kulkas," seru Ibu dari bawah, sementara keduanya sudah berada di undakan tangga.


"Siap Bu, makasih," sahut Satria yang kemudian masuk kamar menyusul istrinya yang kesal.


Satria meletakan nampan dan melihat ke arah Shayu yang kini tengah membuka cardigan. Senyumnya terukir kemudian mendekati sang istri. Rasanya belum puas memeluk padahal tadi sudah. Ingin kembali menghirup aroma tubuh sang istri yang sangat membuat nagih.


"Mas, mandi dulu!" ucap Shayu mengingatkan saat Pak guru yang satu ini betah sekali menempel di tubuhnya.


"Berarti kalau sudah mandi boleh peluk lagi? Aku kangen loh Sayang, dingin sekali. Tambah susu boleh ya, kan wedang jahenya sudah."


Bisa saja memang pria yang satu ini, semalaman tak dapat jatah susu murni nampaknya saat ini tengah negosiasi untuk menagih.


"Aku masih berduka loh Mas, toko susu masih ditutup. Bisa cepat move on aja sudah bersyukur, atau mau aku ngabur lagi?" sahut Shayu dengan melepaskan diri dan menatap tajam suaminya.


"Ghem... Sebaiknya kamu bersih-bersih Sayang. Biar Mas numpang di kamar tamu." Mati kutu jika tatapan istrinya sudah begitu mengancam. Apa lagi ucapannya yang ingin kembali pergi. Satria tak boleh egois, masih ada hari esok jika hanya sekedar memanjakan diri.


Shayu pun akhirnya melangkah masuk kamar mandi dan segera membersihkan diri. Sempat berendam sebentar dengan air hangat agar tubuhnya tak lagi kedinginan kemudian keluar dari kamar mandi dengan hanya selembar handuk saja.


Keluarnya Shayu bertepatan dengan kembalinya Satria dari kamar sebelah. Godaan di depan mata membuat Satria menghela nafas berat. Begitu santai istrinya berjinjit meraih baju di dalam lemari. Memamerkan bagian dada dan paha yang jelas meresahkan pria dewasa.


"Sayang, Mas salah apa to? Katanya belum mau manjain Mas, tapi kok malah membangunkan si Jago?"


"Eh..."

__ADS_1


__ADS_2