
Pagi-pagi Shayu sudah disibukkan dengan persiapan hari kelulusan dan perpisahan kelas XII. Habis subuh sepasang pasutri itu tidak lagi tidur. Shayu mengemas kebaya yang akan ia bawa dan lanjut ke salon, sedangkan Satria rapi-rapi, mengecek apa saja yang tertinggal dan segera memakai sepatu yang dibelikan Shayu kemarin.
"Mas pakai kemejanya kalau aku sudah sampai saja ya. Masih mau bantu-bantu guru lain kan? Takut bau keringat."
"Iya Sayang, apa sebau itu?"
"Bukan begitu, tapi nanti basah Mas. Kalau hanya keringat kamu sich aku betah, tapi kan tidak tau dengan yang lain. Soalnya aku suka ngusel di dada dan ketiak kamu. Berarti aku betah donk."
Satria mengulum senyum, mendapat gombalan pagi-pagi dari sang istri rasanya luar biasa. Dia segera membantu membawa keperluan Shayu ke mobil dengan semangat.
"Ayo Sayang! Nanti kamu terlambat ke sekolah loh. Masih harus make up dulu kan? Jangan tebel-tebel ya!" ajak Satria yang kemudian meraih tangan sang istri.
"Eh, jam tangan kamu lupa Mas. Kok tidak dipakai? Sengaja ya? Tidak suka modelnya?"
"Astaghfirullah Mas lupa Sayang. Bisa tolong ambilkan? Mas mau bawa ini semua ke mobil. Jangan lari-lari ya!" ucap Satria yang kemudian melangkah turun menuju mobil. Dia memasukkan semua keperluan yang akan di bawa Shayu. Memanasi mobil sang istri dan mengeceknya agar Shayu merasakan nyaman saat perjalanan.
"Ini Mas jamnya!" Shayu segera memberikan dan langsung dipakai suaminya. Satria mengembangkan senyum melihat jam tangan yang sudah melingkar di tangannya.
"Jangan hilang loh Mas! Ya meski belinya pakai uang dari kamu sich," ucap Shayu yang malah cengengesan. "Aku berangkat dulu ya! cup." Pamitan ala Shayu dengan bonus cium di pipi.
"Hati-hati Sayang! Kalau sudah sampai di sekolah kabari aku ya!" Pasalnya semua didampingi oleh wali murid sedangkan Shayu hanya memiliki dirinya. "Kalau tidak nanti sama Ibu Bapak dulu jika aku belum selesai ya!"
"Siap Pak Guru!!" Shayu segera melajukan mobilnya dan meninggalkan Satria yang masih memakai jaket dan helm. Pria itu pun segera berangkat menuju sekolah.
__ADS_1
Panca Darma pagi ini cukup repot juga. Panggung yang sudah jadi tetapi ternyata bagian soundnya butuh penanganan khusus dan kebetulan menggunakan milik pribadi. Jadi semua perlengkapan panggung serta kursi-kursi dekor milik sekolah. Jadi bantu membantu dalam memasang dan membereskan.
"Pak Satria bisa minta tolong bagian soundnya? Suara mic agak sember dan ada yang mati satu."
"Baik Pak." Kesibukan pagi ini benar-benar membuatnya berkeringat. Mondar-mandir ngecek sana sini, untung nurut sama istri. Dia berangkat menggunakan kaos berkerah jadi aman. Bisa ganti nanti setelah acara akan dimulai.
"Pak Satria, maaf ini jam tangan Bapak ya?"
"Oh iya Bu, terimakasih." Satria segera memasang jam itu lalu pergi ke kamar ganti karena Shayu sudah mengabari. "Saking sibuknya sampai tidak berasa jam ku jatuh, untung tidak hilang. Bisa ngamuk bojoku nanti. Tapi ini lebih kencang dari pada pagi tadi."
Satria segera mengganti pakaiannya dan kembali ke panggung dengan senyum mengembang melihat sang istri yang sudah tampak anggun duduk di dekat Ibunya.
"Sepertinya setelah ini kita adakan acara resepsi pernikahan dulu. Kamu cantik pakai kebaya ini, apa lagi pakai kebaya pernikahan," lirih Satria yang tiba-tiba duduk dan mengejutkan Shayu.
"Mas kamu ngagetin tau! Ide bagus, dan rayuan kamu berhasil. Kok lama sekali? Mandi dulu ya? Seger gini wajahnya," ujar Shayu dengan melihat penampilan Satria yang semakin tampan. Kemejanya pun serasi dengannya.
"Sa_"
"Mas, kamu tadi ngapain saja?"
"Aku? Membantu guru-guru yang lain. Kenapa Sayang?" Satria terus memperhatikan istrinya yang tiba-tiba sikapnya berubah, hingga suara dari atas panggung meminta atensi semuanya. Begitupun Shayu yang kini memasang wajah datar menatap ke arah panggung.
Acara dimulai dengan sambutan pertama dari kepala sekolah hingga pengumuman kelulusan dan pengumuman nilai terbaik lulusan tahun ini. Nama Shayu dipanggil setelah nama Arta.
__ADS_1
Rasa yang sejak tadi tak karuan semakin pekat hingga haru lebih mendominasi saat namanya dipanggil untuk segera maju ke depan.
Shayu naik ke atas panggung untuk menerima piagam, Piala, dan ucapan selamat dari Pak kepala sekolah dan beberapa perwakilan dari guru. Di sana pun masih ada Arta yang juga memberi sambutan tadi dan kini tak lupa memberi ucapan selamat pada mantan terindah.
"Selamat ya Shay, aku bangga sama kamu." Arta tersenyum menjabat tangan Shayu, begitu pun dengan Shayu yang membalasnya. Tanpa mereka sadar ada sepasang mata yang menatap keduanya dengan tajam.
"Silahkan Shayu memberi sambutan!"
Shayu pun tersenyum dan mengangguk kepala lalu melangkah ke podium. Matanya berkaca dengan sesekali melihat apa yang ada di tangannya. Rasanya tak sanggup untuk berkata-kata. Namun, melihat yang lain seperti menunggu. Akhirnya Shayu berusaha membuka suara.
"Selamat siang, assalamualaikum semuanya... Sebelumnya Shayu tidak menyangka akan mendapatkan ini. Nilai terbaik kedua dengan pencapaian yang menurut aku sangat luar biasa."
"Tidak mudah untuk aku sampai di posisi ini. Hari ujian yang benar-benar menjadi ujian dalam hidup aku. Tapi support keluarga dan khususnya suami aku, Pak Satria membuat aku kuat sampai saat ini."
Tepuk tangan terdengar meriah dengan ekspresi yang berbeda-beda. Banyak yang terharu karena mereka tau jika Shayu baru ditinggal pergi Papahnya dan ada pula yang ikut senang lalu tak jarang yang bersikap biasa saja.
"Aku hanya ingin menambahkan dan memberi tahu pada teman-teman semua. Bersyukurlah yang datang didampingi oleh orang tua. Yang masih punya Mamah atau Papah. Jangan disiakan kesempatan kalian untuk membahagiakan beliau!"
"Dan untuk ini." Shayu mengangkat kedua tangannya memperlihatkan piagam, hadiah dari sekolah, dan Piala . " Untuk Papah dan Mamah yang melihat keberhasilanku dari surga. Putrimu berhasil Mah Pah! Assalamualaikum...." Shayu tak lagi bisa membendung air matanya. Begitupun semua yang melihat dan menyaksikan ikut menangis merasakan kesedihan Shayu.
Satria yang melihat itu segera menyambut istrinya dengan buru-buru melangkah menuju panggung, membawakan buket bunga untuk Shayu. Dia tersenyum bangga melihat Shayu yang berjalan mendekat dan langsung melompat.
Satria pun dengan sigap menangkap tubuh sang istri lalu mendekapnya. Keduanya saling berpelukan dengan air mata Shayu yang pecah. "Selamat Sayang kamu hebat! Jangan Menangis! Mamah Papah pasti bangga melihatmu, Sayang!"
__ADS_1
"Makasih Mas," lirih Shayu.
"Shayu selamat!" seru ketiga sahabatnya yang tiba-tiba datang dan ikut memeluk Shayu, hingga Satria kewalahan menahan tubuh sang istri.