
"Sayang kenalkan ini klien aku, namanya Ibu Sophia." Satria meraih pinggul sang istri agar lebih mendekat. Dia tau Shayu tengah dilanda cemburu. Bibirnya merengut membuatnya gemas ingin mengecup.
Tak ingin kembali tidur di luar dan diambekin berkepanjangan dengan sang istri. Satria buru-buru mengenalkan kliennya pada Shayu. Tak peduli wajah istrinya yang terus merenggut dan tatapan yang begitu mematikan.
"Bu Shopia kenalkan ini istri saya, Mashayu Rengganis," ucap Satria dengan menatap sekilas wanita yang ada di sampingnya. Satria tau wanita itu sedikit terkejut. Paham apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Terlebih tadi Shayu mengatakan jika dirinya tengah hamil.
Keduanya saling berjabat tangan dengan wajah datar. Satria tersenyum saat Shayu menoleh ke arahnya. "Tidak bilang sama Mas mau kesini? Bawa apa, Sayang?" tanya Satria dengan lembut tetapi pertanyaan kliennya membuat Satria dan Shayu menoleh ke arah wanita itu.
"Istri Bapak masih sangat muda ya. Apa tidak terlalu memaksa?"
"Yang memaksa lebih enak, Tante. Mas Satria sukanya begitu. Maklum suami saya lebih suka daun muda dari pada yang tua bangka," sahut Shayu dengan memeluk lengan Satria. Tersenyum dengan memamerkan deretan giginya sedangkan Satria dan kliennya itu justru tercengang mendengar ucapan Shayu.
Satria meringis tak enak hati dengan Bu Sophia. Dia menganggukkan kepala dengan senyuman yang dipaksa membuat wanita yang ada dihadapannya segera mengambil cermin dari dalam tasnya lalu melihat wajahnya yang mendadak pucat.
Setelah semua sudah dibahas dan Shayu sengaja menunggu dengan duduk di kursi kerja Satria. Kini Bu Shopia dan sekretarisnya memutuskan untuk pamit dengan kesepakatan meeting kedua yang akan dilaksanakan lusa.
Satria menghela nafas lega melihat dua orang wanita itu telah pergi. Bekerja dalam pengawasan sang istri membuatnya ketar ketir sendiri. Salah-salah amukan mengancam. Bahkan resiko ditanggung si jago.
"Sudah kan Mas, ayo makan! Jangan tegang Mas, biasa saja wajahnya." Shayu beranjak dari sana lalu menyiapkan makan untuk Satria. Memang kebetulan tadi dia masak. Ingin seperti istri-istri CEO lainnya yang datang dengan membawa makan siang untuk suami. Padahal diam-diam modus mau mengecek kegiatan suaminya.
"Kamu yang masak, Sayang?" tanya Satria yang kemudian menyuap makanannya. Masakan sang istri mulai ada perkembangan. Semakin enak meski terkadang ada saja yang keasinan. Maka jangan salahkan Satria yang terus merusuh, karena kata orang tua jika masak dan hasilnya keasinan itu tandanya minta kawin. Entah benar atau tidak tapi bagi Satria itu kata-kata yang menguntungkan.
"Iya Mas, kenapa? Tidak enak ya, Mas?"
"Enak kok Sayang, tapi kasihan kalau kamu yang masak dan masih harus datang ke sini. Capek Yank, besok lagi tidak usah repot-repot."
__ADS_1
"Oh jadi Mas keberatan aku datang? Takut di ganggu sama aku, iya? Atau merasa tidak bebas karna ada aku? Apa lagi kliennya wanita cantik."
Satria seperti memberi api di kubangan bensin. Memancing ikan di air keruh Intinya memancing angin ribut. Dia lupa jika istrinya sedang sensian. Salah-salah dia tak dikasih jatah dan benar saja niat ingin memberi perhatian malah berujung diberi pertanyaan yang mengandung tuduhan.
"Ini istriku kenapa sich? Duh ... Salah lagi aja."
"Tidak begitu Sayang. Mas senang sekali kamu datang tapi kan kasihan kamu nya sedang hamil. Takut kecapekan," ucap Satria mencoba menjelaskan. Membalas tatapan garang Shayu dengan tersenyum manis berharap Shayu luluh.
"Apapun yang membuat aku senang biarkan aku melakukannya, Mas. Kecuali Mas Satria merasa terancam dengan apa yang aku lakukan."
"Tidak Sayang, sudah ayo dimakan!" sahut Satria dengan sabar. Tak ada lagi perdebatan, kini keduanya fokus dengan makanan yang Shayu bawa. Hingga tiba waktunya jam kerja habis keduanya bergegas untuk pulang.
"Ada yang mau dibeli tidak, Sayang?"
"Tidak dech, Mas. Aku mau pulang dan segera mandi. Gerah banget aku tuh. Cepat ya Mas bawa mobilnya!"
Kehamilan Shayu bisa dikatakan hamil kebo tak merasakan mual muntah, makan dengan lahap, tak ada keluhan keram dan apapun yang terkadang menjadi kurang nyaman. Bahkan urusan ranjang semakin liar.
Kini kandungan sang istri sudah menginjak lima bulan. Shayu menyibukkan diri dengan mengerjakan endors yang selama hamil banyak berdatangan padanya. Mungkin rejeki anak.
"Mas kameranya sinian! Kamu nich sensi banget sama aku. Kalau diambil dari sini aku terlihat gemuk. Jangan buat aku terlihat jadi gendut, Mas!" Shayu gemas sekali dengan Satria. Sudah hampir satu jam vidio belum jadi juga. Sampai Shayu lelah tersenyum sejak tadi.
"Gigi aku sampai kering loh Mas, yang benar!" ucapnya gemas
"Iya Sayang ini sudah benar banget," sahut Satria dengan sabar. Satria lebih memilih disuruh begadang dengan mengusap punggung istrinya yang terkadang minta diusap sepanjang malam dari pada disuruh mengambil gambar agar Shayu tetap tirus. Nyatanya bumil yang satu ini tambah gemoy karena makannya yang lahap.
__ADS_1
Hampir malam pengambilan gambar dan vidio baru selesai. Lelah rasanya, waktu libur habis dengan kegiatan yang membuat Satria harus menekan sabar banyak-banyak.
"Makan dulu, Sayang!"
"Tidak mau," sahut Shayu yang merajuk karena hasilnya masih terlihat gemuk. Sementara Satria bingung. Wanita serumit ini, tak mau dibilang gendut pada kenyataannya memang berat badan naik terus. Dia pusing sendiri memikirkan maunya. Giliran membual malah diamuk karena menghina. Wis manut pokokke.
"Jangan seperti itu, Sayang. Nanti jika baby-nya sudah lahir pasti kembali."
"Apanya yang kembali? Berarti aku ini gendut? Jelek gitu, Mas? Hamil membuat aku gede gitu? Terus nanti setelah lahiran kamu suruh aku diet?" tanya Shayu seperti orang nagih hutang. Membuat Satria menahan nafas mendengarnya.
Pria itu mengusap kasar wajahnya. Ujian sekali malam ini. Salah lagi saja apa yang ia ucapkan. Memang perempuan tuh begitu? Rasanya ingin cepat besok dan kembali bekerja.
"Tidak, kamu tuh paling cantik, tubuh kamu profesional, bokong kamu bohay. Ugh gemas pokoknya. Buktinya Mas minta jatah terus kan setiap malam? Jadi memang tubuh kamu tuh bagus, yahuut pokoknya."
Shayu mengerutkan keningnya, wajahnya yang kesal berubah menjadi datar dengan tatapan sengit. Melangkah menuju pintu lalu membuka dan menatap Satria dengan tatapan mematikan.
Satria mencium hawa-hawa dingin kena usir. Terlebih istrinya yang sudah berdiri di ambang pintu. Alamat kena amuk lagi saja setelah ini.
"Keluar Mas! Aku males sama kamu! Kamu tuh bohong banget tau tidak? Cepat keluar aku mau istirahat!" usir Shayu dengan gemas. Dilihat dari sudut manapun mana ada bumil tubuhnya profesional. Dasar suami tukang gombal!
"Tapi Sayang..."
"Tidak ada tapi-tapi! Cepat!"
Satria menggaruk kepalanya. Ampun saat menghadapi wanita hamil yang sensinya mengalahkan api.
__ADS_1
"Ayo Mas!"
"Iya Sayang."