
Sudah hampir empat puluh hari Shayu dilarang kamana-mana oleh Ibu mertuanya. Aturan itu sesuai dengan adat mereka. Takut bayi kena sawan dan Shayu pun masih wangi katanya. Alhasil Shayu menurut. Terlebih karena kejadian pagi-pagi hilang dan Ibu tidak mau ada kejadian itu lagi. Bukan apa, Shayu baru melahirkan. Takut ada sesuatu yang mengganggu kesehatannya.
Kata Ibu, luar sudah kering tetapi dalam masih luka. Jadi tidak boleh sembarangan. Setiap hari pun Shayu dicekoki jamu oleh Ibu. Sari rapet, ramuan yang membuat singset, dan apapun yang membuat Shayu kembali rapet pet pet.
Namun, hal itu membuat Shayu kesal dan bosan. Rasanya ia ingin muntah setiap kali meminum jamu. Padahal awalnya hanya kunir asem tetapi makin kesini Ibu mertuanya betul-betul menjaga dirinya.
"Mas perasaan aku sudah singset ya? Kenapa Ibu terus memberikan aku jamu sich, Mas? Lain kali kamu gitu yang minum, Mas. Biar nggak hanya aku aja yang rapet tapi kamu juga," oceh Shayu yang kini tengah melihat penampilannya di depan cermin.
Satria tercengang mendengar ocehan istrinya. Jika dia yang meminum jamu itu lalu yang rapet apanya? Sungguh ucapan Shayu membuat otak Satria berpikir keras.
Satria beranjak dari duduknya, lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang. Daripada pusing memikirkan yang rapet-rapet lebih baik menenangkan hati sang istri yang sedang galau.
"Sudah Sayang, sebentar lagi kan selesai. Lusa sudah 40 hari, nanti kita adakan syukuran juga. Setelah itu kamu sudah boleh ajak Biru jalan-jalan ke taman. Katanya mau pakai stroller baru," ucap Satria menenangkan hati sang istri.
"Iya," rengek Shayu.
"Nah jangan ngembek lagi, bayangin keseruannya aja. Sekalian nanti ngereyen ya, Yank."
Mendengar kata-kata Satria membuat Shayu membalikkan tubuhnya lalu menatap Satria dengan mengerutkan kening.
"Ngereyen? Apa maksudnya Mas?"
"Katanya kalau habis 40 hari sudah bisa lagi, Yank. Rasanya juga seperti masih perawan seperti dulu. Gimana? Lusa dicoba ya?" Satria mengembangkan senyumnya dengan mata berbinar.
"Mas aku masih berasa ngilu. Lagian memang sudah boleh? Bagaimana jika nanti Biru punya adik? Sakitnya masih belum hilang dan jamunya masih berasa pahit di lidah aku. Emoh Mas, nanti saja, istirahat dulu. Masih ngos-ngosan kalau inget mengejannya."
"Sayang nanti kita pakai sarung, ya." Satria terus merayu. Rasanya dia sudah tak sabar menunggu lusa tetapi Shayu seperti masih enggan. Butuh rayuan maut agar cepat ACC si jago kembali meluncur.
__ADS_1
"Sarung? Kok sarung sich, Mas? Tidak gerah to pakai sarung?" tanya Shayu dengan mengerjabkan matanya berulangkali.
"Itu loh, Yank. Yang buat nutupin kepala jago biar nggak ngompol sembarangan. Tempat penampungan gitu. Ya? Aman kok." Satria terus berusaha. Sampai sang istri memberi lampu hijau.
"Tau akh, Mas. Aku mau ke kamar Biru dulu." Shayu segera melangkah ke kamar Biru. Mengecek putranya yang tadi ketiduran saat bermain di sana. Meninggalkan Satria yang hanya bisa menghela nafas kasar lalu menatap di jago dengan rasa iba.
"Biru... Duh anak Macan masih bobo ya. Pinternya, mau nen tidak Sayang? Yuk nen yuk!" Shayu mengangkat tubuh Biru lalu membawanya tiduran di karpet bulu.
"Kamu nen dulu ya, Sayang. Habis ini kita bobo lagi. Macan juga ngantuk, bobo sini aja ya Sayang biar nggak dirusuhin Papah." Shayu merebahkan Biru dengan beralas kasur kecil milik putranya yang digelar di atas karpet lalu dia pun ikut tiduran di samping putranya. Menyusui Biru hingga sama-sama terlelap.
Sementara Satria membuat kopi lalu nimbrung dengan adik dan Bapaknya. Dia duduk di antara keduanya yang sedang mengobrol di halaman rumah.
"Tumben Mas di rumah? Bukannya ini masih hari Sabtu? Bengkel rame to?" tanya Cakra. Kebetulan sudah beberapa hari ini keluarga Satria menginap karena Ibu ingin mengadakan acara selapanan untuk Biru, syukuran kecil-kecilan dan membuat berkatan yang nantinya dibagi-bagi ke para tetangga.
"Iya, tapi lagi capek, lemes, ingin istirahat dulu di rumah."
"Lemes emangnya ngapain to? Macul?" tanya Cakra yang penasaran.
"Macul gundulmu! Karena tidak bisa macuk makan lemes. Sudah anak kecil tidak perlu tau. Belum cukup umur. Nanti kalau sudah istri kamu baru tau."
Cakra menghela nafas kasar. Belum cukup umur, gimana maksudnya? Bahkan dia sudah bisa kalau hanya mencetak anak. Hanya saja belum ada biaya dan orang yang mau diajak berumah tangga.
"Ngopo Mas lihat-lihat?"
"Kamu tuh fokus kuliah saja! Nanti kalau sudah ada jodoh pasti datang dengan sendirinya," ucap Satria memberikan nasehat. Dia tau apa yang dipikirkan oleh adiknya.
"Kayak situ tidak, dulu sama Mbak Kinayu?"
__ADS_1
"Ssstt... Jangan berisik kamu! Nanti istriku dengar. Jangan mengungkit masa lalu! Dengan Kinayu juga aku tidak mencari, kami berteman, cocok dan lanjut pacaran. Tapi kan gagal, sama aja hanya menjaga jodoh orang. Daripada begitu lebih baik sabar menunggu. Jodoh tidak akan ngabur."
"Iya-iya, paham."
"Benar itu kata Masmu. Belajar dari pengalaman. Jangan asal pepet! Seperti Mas mu itu loh, tau-tau nikahan. Kan apik to?" sahut Bapak.
"Aku juga mau begitu, bikin scandal opo yo Mas?"
"Tak tempeleng kamu aneh-aneh Cak! Belajar yang benar! Bayaran kuliahmu itu pakai uang bukan pakai daun. Memang sudah kebelet kawin apa? Tuh pohon jati banyak, gesek dulu sana dari pada mau bikin scandal segala! Jangan buat malu keluarga, cukup aku saja!" celetuk Satria dengan sedikit kesal pada adiknya yang ngelantur.
"Pohon jati, seperti tidak ada yang lain saja. Pinjemin boneka beruang Shayu ajalah. Lebih baik dari pada pohon jati," ucap Cakra memelas.
"Wis kareopmu, terserah! Pak, Cakra minta di masukan ke pondok saja biar otaknya tidak memikirkan perempuan."
"Kamu mau menikah? Bapak ada calon," ucap Bapak dengan senyum sumringah.
"Siapa Pak? Beneran ada? Tapi aku maunya sama cem-camanku, Pak."
"Ini lebih ayu, pol cantiknya. Dia mengajar, anaknya Pak Kades. Gimana? Kalau mau Bapak jodohkan." Bapak teringat akan Pak kades yang pernah meminta dikenalkan putranya pada putri beliau karena gagal menikah. Niat beliau agar putrinya tak lagi galau.
"Ck, emoh aku kalau tidak Arita."
"Heleh, Arita tuh tidak mau sama kamu. Masih saja kamu kejar. Yang ada nyungsep kamu mengejarnya terus!"
"Nyungsep ya tolonginlah, Pak. Masa' ikhlas anaknya babar belur."
...****************...
__ADS_1
Halo Teman-teman semua, kira-kira kalau aku buat cerita Cakra gimana? Ada yang setuju tidak? Bantu pendapat kalian ya! Jangan lupa komen.