Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Rasanya Rame


__ADS_3

Entah benar atau salah tindakannya, nyatanya Satria yang sedang galau karena benihnya gagal. Begitu antusias hingga merusuh dan terus menuntut membuat Shayu kewalahan dan berujung merengut.


"Mas sudah! Pedas banget sih, pakai gigit-gigit segala!" sewot Shayu yang kemudian turun dari pangkuan suaminya dan melangkah menuju meja rias. "Kamu benar-benar ya Mas, enak tapi sakit semua akunya."


Satria mengulum senyum lalu melangkah mendekat dan memeluk Shayu dari belakang. Mungkin memang dirinya dituntut harus ikhlas dan menyerahkan pada yang maha mencipta. Mungkin belum rejeki atau memang caranya salah, atau mungkin memang harus ikhlas LDRan.


"Sayang, jangan lama-lama ya dapetnya. Aku menunggu," lirih Wahyu tepat di telinga Shayu. Rasanya sudah ingin lagi dan ingin terus. Padahal sebelumnya jika Shayu sedang lampu merah tak menjadi masalah untuknya, tapi sekarang kok seperti ada yang protes.


"Belum genap satu hari, Mas. Biasanya juga seminggu diem-diem aja. Tapi kali ini tidak begitu nyeri loh Mas, apa efek sudah di njus-njus ya?"


"Bisa jadi, mungkin iya. Coba besok tanya Ibu."


Suatu jawaban tapi bukan solusi yang tepat. Bagaimana mungkin bertanya pada Ibu. Sama saja memberitahu jika dirinya sudah melakukan hubungan suami istri dengan putranya.


"Sebenernya kamu tuh pinter loh Mas, tapi kok kadang bikin aku kesel ya. Sudah akh, ayo makan aku laper Mas," rengek Shayu yang mulai tak nyaman karena tangan Satria yang tak bisa diam.


"Ya sudah ayo!" Satria segera menggandeng tangan Shayu dan membawanya turun menuju meja makan.


Sampai di bawah Shayu begitu bersemangat menyiapkan makan untuk Satria. Mulai banyak perubahan yang membuat Satria semakin sulit membayangkan jika mereka harus terpaksa tinggal terpisah.


"Gimana rasanya, Mas? ada yang kurang? Atau kelebihan?" Shayu benar-benar penasaran hingga memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.


Satria terdiam dengan terus mengunyah dan merasakan betul-betul masakan yang Shayu buat. Ekspresinya berubah-ubah membuat Shayu semakin penasaran.


"Mas!"

__ADS_1


"Enak, perpaduan yang pas di lidah tapi kok kecut ya Sayang?"


Shayu menghela nafas kasar lalu menyandarkan kembali tubuhnya. Tatapan penasaran seketika berubah menjadi tatapan jengah dengan wajah cemberut.


"Pie gak kecut? Ini sayur asam bukan sayur pare, Mas! Ada cumi dan ada sambal. Kalau tiba-tiba kecut ya berarti dari sayurnya, kalau asin dari cuma keringnya ini dan kalau pedas dari sambalnya," jelas Shayu sedikit sewot.


"Oh pantes rame," sahut Satria santai dan kembali melahap masakan istrinya. Memang nyatanya enak bagi pemula. Not Bad dan ini pas disaat lapar.


"Apanya yang rame?" tanya Shayu dengan tatapan penuh selidik.


"Rasanya rame, bikin nagih kayak kamu."


Shayu tercengang mendengar jawaban dari Satria. Berharap akan di puji dengan kata-kata manis semanis gula tetapi nyatanya semua tak sesuai ekspektasi saat ia memasak tadi. Meski dilihat-lihat suaminya suka dengan masakannya. Namun jawabannya sangat tidak memuaskan.


...****************...


"Loh Shayu, kamu kesini juga? Ini buat bengkel motor loh."


"Nyatanya mobil pun bisa, kenapa memangnya? Motor kamu mogok?" tanya Shayu dengan memperhatikan kendaraan di depannya. Kebetulan sekali dia bertemu Arta disini. Mungkin Arta tidak tau jika bengkel ini milik suaminya.


"Oh ini, mau ganti oli sama sekalian servis. Sebentar lagi kan aku tinggal makanya harus aku rawat dulu sebelum masuk garasi. Kamu juga begitu?"


"Aku tidak, aku mau bawain makan siang buat Mas Satria."


Arta tercengang mendengar jawaban Shayu tetapi tak lama dia menyeringai seperti meremehkan sesuatu yang di anggap rendah.

__ADS_1


"Suami kamu kerja di bengkel? Keluar dari sekolah terus kerja di bengkel gitu. Begini yang kamu banggain sampai mengancam Bu Rasti?"


Shayu mengerutkan keningnya, dia tak menyangka Arta tau saat dia datang menegur Bu Rasti, dan sekarang dengan sesuka hati mengejek suaminya. Benar-benar menguji kesabaran pria di hadapannya ini.


"Oh jadi kamu diam-diam menguntit? Bagus dech, biar kamu tau gimana cintanya aku sama Pak guru. Jadi cepat sadar tanpa aku tunjukkan. Satu lagi Ar, sejelek-jeleknya Mas Satria masih jelek tukang copet yang bisanya ngambil milik orang. Permisi!"


Shayu segera melangkah masuk dan tak peduli dengan Arta yang memanggil namanya. Kadung jengkel ambekin aja sekalian. Lagian siapa dia. Datang-datang kok bikin orang senewen. Shayu melangkah masuk tanpa mengetuk pintu tetapi langkahnya seketika terhenti melihat ada wanita cantik sedang mengobrol dengan suaminya.


"Garangan mana lagi ini? Belum ditinggal saja sudah banyak kumbang yang mendekat. Kuatkan hatiku ya Tuhan." Shayu memilih menunggu di luar. Belum reda emosinya perkara ucapan Arta yang menghina suaminya, ditambah lagi melihat Satria nampak akrab dengan wanita lain. Hati Shayu meradang dibuatnya. Berulang kali menarik nafas dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan agar lebih tenang karena belum tau pastinya siapa gerangan yang sedang bersama Satria.


"Di minum Mbak Bos! Panas-panas enaknya yang seger-seger. Jus mangga menyejukkan dahaga."


"Mas tau saja saya lagi kepanasan. Memangnya kelihatan ya kalau kepala saya keluar asap?" tanya Shayu asal membuat Mas Budi karyawan Satria tertawa mendengarnya.


"Jangan salah paham Mbak Bos, kalau Mas Satria memang dari dulu ada saja yang mendekati. Wanita kalau sudah datang ke bengkel terus ketemu sama suami Mbak pasti ngejar, tapi ya Mas Satria nya biasa saja. Kalau yang di dalam itu klien yang punya cafe depan itu. Tepatnya putrinya dari yang punya. Sepertinya tertarik terus mengajak buka di lokasi lain lagi."


Penjelasan yang membuat Shayu semakin kesal. Dia segera menyedot habis jus mangga itu hingga tak tersisa sedangkan Mas Budi memilih kembali ke pekerjaannya setelah melihat Shayu menghabiskan minumnya dalam sekejap.


"Loh Dek kok tidak masuk? Sudah lama datangnya?" tanya Satria yang ingin mengantar kliennya setelah meeting mereka selesai, tetapi begitu terkejutnya dia melihat sang istri duduk di luar dengan wajah muram.


"Ini adiknya Mas? Cantik sekali ya, tidak heran jika Masnya pun tampan," sahut wanita itu sontak membuat Shayu menatap wajah suaminya dengan tatapan sengit.


Melihat istrinya yang terkesan marah membuat Satria buru-buru menjelaskan tetapi Shayu justru menerobos masuk dengan menghentakkan kakinya hingga Satria sedikit oleng.


"Mas Satria tidak apa-apa? Kok adiknya kasar sekali?"

__ADS_1


Langkah Shayu terhenti, dia mendengus kesal mendengar pertanyaan dari wanita itu lalu menoleh ke belakang menatap keduanya dengan wajah tak bersahabat.


"Mau sampai kapan di sana? Mau menunggu sampai istri kamu ini bertanduk atau bertaring baru kamu masuk, Mas?"


__ADS_2