Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Aneh?


__ADS_3

Selesai mengajar Satria buru-buru bertolak pulang ke rumah. Dia sudah tidak sabar ingin menanyakan tentang keputusan sang istri untuk bersekolah di luar negeri tanpa sepengetahuannya, dan tanpa ada kata ijin terlebih dahulu.


Satria berpikir Shayu tidak menghargainya sebagai suami. Mungkin umurnya masih muda dan harus banyak belajar, tetapi hal sebesar ini mana mungkin dia abai dan tetap merahasiakan. Hal itu membuat hari-hari Satria kacau. Pikirannya semerawut dan ingin sekali cepat mengintrogasi istrinya.


Saat istirahat Satria menyempatkan diri untuk menghubungi sang istri. Namun, karena Shayu sedang berlatih dengan teman-temannya. Gadis itu tidak sadar jika ponselnya sejak tadi berdering.


Satria lupa jika pagi tadi Shayu pamit ingin latihan bersama para sahabatnya, hingga ia tak menemukan sang istri di rumah. Padahal dia pun sudah ada janji dengan klien yang akan mengajaknya bekerja sama untuk membangun cafe di sekitar bengkelnya. Namun, masalah ini tidak bisa ia tunda lagi.


"Shayu belum pulang Bu?"


"Belum Le, lagian tadi pagi kan sudah pamit to? Paling sebentar lagi, adikmu juga belum pulang. Makan duluan saja, ibu sudah masak."


Satria menghela nafas kasar, rasanya enggan hanya sekedar melihat makanan di atas meja. Bahkan untuk menyiram kerongkongannya saja dia malas. Hidupnya seketika tak lagi bersemangat, padahal pagi tadi sang istri memberi mood booster untuknya hingga membuat hati berbunga-bunga.


"Belum laper Bu, aku mau istirahat saja di kamar," lirih Satria dengan wajah muram membuat Ibu terheran ada apa gerangan dengan putranya.


Sampai di kamar Satria hanya diam dengan menatap layar ponsel. Melihat gambar dirinya dan Shayu saat menikah dulu. Hanya berpakaian sederhana. Foto ini pun dia dapatkan dari Cakra yang mengabadikan tanpa ijin. Hanya iseng tetapi cukup menarik saat Satria mulai ingin kembali menjemput Shayu ketika merajuk dulu.


"Apa kamu tidak memikirkan aku, setega itu?"


Hampir sore Shayu dan Cakra baru sampai di rumah. Keduanya tampak bercanda dan tertawa. Shayu pun seperti tak ada beban hidup, dia tidak sadar jika seharian membuat suaminya gelisah.


"Kenapa baru pulang?" tanya Satria tiba-tiba saat Shayu au baru saja membuka pintu kamar. Gadis itu mengerutkan keningnya melihat punggung Satria dengan suara yang terdengar dingin.

__ADS_1


"Aku baru selesai, Mas. Tadi cukup seru jadi lupa kalau hari sudah hampir sore. Maaf ya Mas ak_"


"Seru-seruan tanpa kepikiran bagaimana aku sejak tadi menunggu?" sahut Satria menghentikan ucapan Shayu. Membuat gadis itu segera menutup pintu dan melangkah mendekat.


"Mas kamu kenapa? Marah aku pulang telat? Aku cuma ke rumah Arita loh, dan itu latihan bukan sekedar ma_"


"Kenapa kamu tidak menghargaiku? Tidak menghormati aku sebagai suami kamu? Atau memang selama ini kamu tidak menganggap aku? Hanya kamu jadikan main-main hubungan kita yang sudah seserius ini. Kita sudah menikah dan berumah tangga. Bukan sedang main rumah-rumahan!" ucap Satria dengan nada sedikit tinggi dan menatap Shayu dengan penuh kekecewaan.


"Mas kamu ini kenapa? Aku baru pulang sudah kena marah. Lagian siapa yang menganggap kita sedang main rumah-rumahan? Aku bukan Barbie yang sedang main masak-masakan! Kamu tuh aneh tau, Mas!" Shayu pun tak bisa menahan emosi. Melihat suaminya marah-marah disaat dia tak merasa salah cukup membuat Shayu kesal.


"Aneh?" Satria melangkah mendekati dengan tatapan elang membuat Shayu perlahan mundur menghindar. "Apanya yang aneh, hmm?" Satria terus melangkah maju hingga pergerakan kakinya terhenti saat Shayu sudah tak bisa menghindar lagi. Tubuh gadis itu terbentur dinding dan terlihat cemas melihat kilat kemarahannya.


"Mas," lirih Shayu.


"Jawab!"


"Aku akan baik-baik jika kamu pun menghargai aku. Ini apa?" tanya Satria yang mengeluarkan surat diterimanya Shayu kuliah di Harvard university.


Kedua mata Shayu terbelalak melihat selembar kertas itu. Dia menelan kasar salivanya hingga begitu menyakitkan. Tak menyangka Satria akan tau sebelum dia berusaha memberitahu. Rasanya seperti disidang tiba-tiba saat sedang terlelap damai.


"I.. Itu.. Aku bisa jelaskan Mas! Jangan begini!" ucap Shayu gugup saat Satria semakin mengikis jarak.


"Jelaskan apa? Jelaskan jika ini impian kalian berdua? Pergi berdua? Kamu dan Arta? Kamu lupa jika ada aku?"

__ADS_1


Mata Shayu mulai berkaca-kaca, rasanya ia sudah ingin menangis saja. Baru kali ini ia menghadapi kemarahan sang suami. Dia pun menyesal tidak menjelaskan semuanya dari awal.


"Impianku bisa bersekolah di sana, tidak ada kaitannya dengan Arta. Kamu jangan salah paham, Mas! Itu sudah masa lalu. Aku hanya ingin menjadi anak yang membanggakan dan membahagiakan Papah. Itu saja!"


"Tapi kamu lupa status kamu apa! Kamu tidak ingat siapa aku di hidup kamu! Sekarang aku tanya. Setelah aku tau semua ini, apa kamu akan tetap berangkat?"


Shayu tak lagi sanggup menahan air matanya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan tatapan sendu. Semua sudah rencana dari awal dan cita-cita yang tak mungkin ia siakan begitu saja. Empat tahun disana Shayu yakin tidak akan lama. Satria pun bisa menjenguk dan ia bisa kembali saat liburan tiba.


"Itu cita-citaku sebelum kita menikah Mas dan itu aku mendaftar disaat hubungan kita renggang dan memutuskan untuk bercerai. Aku tidak tau kalau akan diterima dan aku tidak tau kalau kamu akan bucin seperti ini!"


"Dan kamu tidak memikirkan perasaan aku! Pergi jika itu maumu! Lupakan aku dan tidak usah kamu anggap aku suamimu lagi!"


Deg


Isakan Shayu semakin terdengar, dia tak menyangka akan berujung seperti ini. Apa ini awal kehancuran rumah tangganya? Sungguh bukan ini maunya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Mas? Kamu tidak benar mencintaiku?"


"Istri seperti apa yang harus dipertahankan? Kamu tau aku tidak meridhoi kamu pergi. Banyak cara untuk kamu bisa dibanggakan oleh semua orang. Bukan hanya dengan kamu pergi ke Amerika dan meninggalkan suamimu."


"Pikirkan lagi! Pergi dan pernikahan ini akan hancur, atau tetap disini dan melepas impianmu untuk bersekolah disana. Satu yang kamu harus ingat, kamu mengabaikan permintaan terakhir Papah. Bisa jadi Papah bangga kamu berhasil, tapi Papah menangis karena gagal melihat kamu menjadi istri yang baik!"


Satria segera berbalik mengambil jaket dan kunci motornya. Dia memilih pergi disaat hati sedang emosi. Memberi waktu untuk sang istri berpikir jernih dan memutuskan langkah apa yang akan diambil. Bukan jahat atau tega. Satria pun tidak ingin berpisah, tapi baru cara ini yang ada dipikirannya untuk membuat Shayu tetap tinggal.

__ADS_1


"Mas kamu mau kemana?"


"Berpikirlah! Sebelum kamu benar-benar kehilangan aku."


__ADS_2