
Shayu nampak serius mengerjakan soal-soal tryout sehingga dia lebih dulu selesai dibandingkan dengan temannya yang lain. Gadis itu mengumpulkan soal yang ia kerjakan di meja guru dan lebih dulu keluar dari kelas.
Shayu dengan gaya centilnya melambaikan tangan ke arah ketiga sahabatnya hingga ia mendapati tiga pasang mata mendelik ke arahnya. Namun itu lah Shayu, keusilannya membuat ketiga sahabatnya gemas.
"CK, aku nunggu mereka dimana?" gumam Shayu setelah berada di luar kelas. Jika sendiri begini Shayu bingung harus kemana. Mau ke kantin, rasanya perut masih kenyang setelah pagi tadi sarapan nasi goreng buatan Ibu.
"Aku ke perpustakaan sajalah."
Shayu melangkah menuju perpustakaan yang terlihat masih sangat sepi karena aktivitas belajar mengajar belum usai. Jam istirahat masih satu jam lagi, membuat koridor kelas pun nampak sepi.
"Mbak Shayu!" seru adik kelas dari dalam kelas XI IPS memanggilnya. Padahal ada guru yang mengajar, seakan tidak takut dan gatal saat melihat kakak kelas cantik melintas.
Shayu hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Namun, yang menjadi pusat perhatiannya saat ini adalah guru yang mengajar dikelas tersebut.
"Eh Mas Bojo," lirih Shayu dengan meringis dan sedikit menganggukkan kepala. "Pak," sapanya dengan ramah kemudian melangkah dengan cepat menuju perpustakaan tanpa memperdulikan Satria yang berjalan keluar kelas.
Satria menatap bingung sang istri yang berkeliaran di jam belajar. Dia menoleh ke arah kelas Shayu yang masih terlihat ada guru kemudian menoleh kembali ke arah langkah gadis itu. Hingga ia memastikan kemana sang istri ingin pergi.
Shayu mencari beberapa buku yang menarik untuk dibaca hingga tangannya terhenti kesalah satu buku yang ada di tengah rak. Dia mengambil buku itu tetapi Shayu begitu terkejut saat melihat ada pria yang ia kenal tengah menatapnya di seberang rak.
"Arta..."
"Hai..." Arta tersenyum membawa beberapa buku dan duduk mendekati Shayu yang menduduki kursi paling pojok ruangan.
Shayu nampak biasa saja, dia yang memang tidak memiliki rasa terlampau jauh tak terlalu baper saat mantan mendekati. Jika yang lain mungkin jantungnya sudah berdetak kencang dengan wajah merona. Namun, tidak dengan Shayu yang nampak cuek.
"Sendirian?" tanya Arta basa basi.
__ADS_1
"Kan sama kamu!" jawab Shayu singkat diiringi senyuman manisnya.
Arta menganggukkan kepala dan mencoba fokus ke buku yang ia bawa. Keduanya nampak tak saling terlibat pembicaraan meski duduk dalam satu meja. Sibuk dengan apa yang mereka baca hingga seseorang datang mengembalikan buku yang tempo hari sempat dipinjam.
Shayu melirik pria itu, tak ada interaksi diantara keduanya tetapi gadis itu peka dan lebih memilih segera keluar perpus meninggalkan Arta.
Arta yang mengerti hanya mendengus kesal, meski tak ada interaksi dengan Shayu, tetapi cukup nyaman saat gadis itu ada di sampingnya. Dia pun segera keluar dari ruangan tersebut dengan menatap kesal pria yang kini berdiri di depan meja penjaga perpustakaan.
Pulang sekolah, Shayu dan ketiga sahabatnya berkumpul di area parkir. Niat Arita dan Topan mereka ingin belajar bersama di rumah Cakra membahas materi tryout fisika yang akan di kerjakan esok. Mereka telah sepakat sedangkan Shayu mendadak resah.
"Shay, kamu ikut kan? Sudah lama loh kita tidak main kesana. Dua Minggu lagi ujian nasional, sudah pasti nanti sibuk masing-masing." Arita tau Shayu kali ini kurang bersemangat sekali. Sudah dapat dipastikan akan menolak jika tidak terlebih dahulu dicegat. "Sudah lama juga kita tidak makan masakan Ibunya Cakra. Ikut ya!" bujuk Arita.
Shayu nampak bingung, dia melirik Cakra yang nampak biasa saja, kemudian menoleh ke arah bapak guru yang sudah nangkring di atas motor dengan menatap ke arahnya.
"Wis ayo! Lama kalian, keburu subuh nanti!" Topan segera naik ke atas motor Cakra membuat Shayu mendengus kesal.
Cakra menoleh ke arah Shayu yang nampak merengut kemudian meminta Topan untuk turun. Sebenarnya bukan hanya Shayu saja yang ketar ketir akan statusnya yang ketahuan dengan Arita dan Topan, tetapi dia pun sama. Akan sangat marah kedua sahabatnya jika mereka tau dirinya menutupi statusnya yang merupakan adik dari guru tertampan di sekolah.
"Pan kamu kan bawa motor sendiri, sana ambil! Kenapa malah naik ke motorku? Kamu boncengin Arita, biar Shayu sama aku!" celetuk Cakra kemudian menarik tangan Shayu.
"Bentar ikh, main tarik saja!" ketus Shayu. Dia melirik ke arah Satria kemudian mengirimkan pesan pada suaminya.
"Mas, teman-temanku mau kerumah. Kamu jangan pulang dulu ya! Main-main dulu juga boleh. Asal jangan buru-buru pulang! Biar aku pulang bareng Cakra."
Satria menghela nafas kasar, disaat hati sedang gelisah. Istri kecilnya malah memintanya main sendiri dan melarang untuk pulang. Satria segera memakai helm dan melajukan motornya dengan kencang hingga menimbulkan suara memekakkan telinga dari motor besarnya.
"Widih, jodohku lewat. Gagah sekali sampai heboh bawa motornya," ucap Arita dengan manatap ke arah Satria hingga tak lagi terlihat.
__ADS_1
Shayu menggelengkan kapala mendengar ucapan Arita dan segera naik ke atas motor Cakra. Begitupun dengan Arita dan Topan yang mulai jalan mengikuti motor mereka.
"Hay Cakra, ini motormu abis bensin atau kamu isi air? Lemod sekali macam keong!" ketus Topan yang mensejajarkan motornya dengan Cakra.
"Alon-alon penting kelakon!" sahut Cakra.
"Alon-alon keburu jodoh dicaplok bunglon! Ayo cepetan!" ketus Topan.
Cakra menghela nafas kasar kemudian menambah kecepatan motornya. Dia sengaja lambat agar tidak cepat sampai rumah. Cakra yakin Kakaknya bukan pergi seperti yang Shayu katakan tetapi malah pulang ke rumah.
Benar saja sampai di halaman, motor Satria terparkir rapi di sana membuat tanda tanya besar pada kedua sahabatnya. Sedangkan Shayu begitu geregetan dengan sang suami yang tidak memperdulikan pesannya.
"Ini bukannya motor masa depan aku? Kok ada disini?" tanya Arita yang baru turun dari motor Topan.
Cakra dan Shayu saling menatap singkat kemudian dengan kesal Shayu melangkah menuju pintu untuk masuk ke dalam rumah tetapi buru-buru Cakra menarik kerah seragamnya.
"Ini rumahku, kenapa jadi kamu yang nafsu masuk lebih dulu?" tanya Cakra dengan gemas. Gadis itu sepertinya lupa dan asal bersikap.
Shayu meringis melihat kedua mata Cakra yang mendelik menatapnya. "Maaf, lupa. Berasa rumah sendiri soalnya," jawab Shayu. "Matamu biasa aja!" lirih Shayu.
"Haish... Mau go publik sekarang kamu? Silahkan!" lirih Cakra. Pemuda itu segera melangkah menuju pintu rumah tapi belum sempat membukanya. Pria tampan dengan setelan pakaian rumahan membuka pintu dari dalam lebih dulu.
"Pak Satria!" Topan dan Arita begitu terkejut melihatnya membuat Shayu ikut-ikutan.
"Ma_ eh Pak Satria! Kok bisa ada di sini? Atau jangan-jangan Kakaknya Cakra ya?" tanya Shayu dengan melirik Cakra yang begitu ingin menarik rambut Shayu. "Ikh punya Kakak guru sendiri kok diam-diam saja. Takut kalah saing ya?" goda Shayu dan dianggukki kedua sahabatnya yang lain. Cakra mengusap kasar wajahnya begitu geram dengan Shayu yang malah ikut-ikutan.
Namun, panggilan santai dari Satria sontak membuat Cakra dan ketiganya menoleh ke arah pria itu.
__ADS_1
"Shay..."