
"Makasih Sayang ... " Satria memeluk sang istri lalu menghujani wajah Shayu dengan banyak kecupan. Sayangnya ndak ketulungan bisa gila andai sang istri bertingkah.
Perkara omongan Arita sudah Satria lupakan. Pria itu melepasnya seperti melepas sesuatu yang sudah berhasil ia tuntaskan. Percaya jika Shayu tak akan berbuat macam-macam.
"Mau tidur, hhmm?" tanya Satria yang kini tengah merapikan rambut Shayu yang berantakan. Mengusap sayang, memberi kenyamanan padanya hingga membuat mata Shayu tambah berat.
"Iya Mas, aku tidur dulu boleh tidak?"
"Boleh, tapi sebentar saja ya Sayang. Satu jam lagi ashar. Nanti aku bangunin." Satria kembali membuai dengan sayang.
Shayu pun hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang sudah terpejam. Wanita hamil itu seakan tak kuat lagi membuka mata, tubuhnya lemas setelah mendapatkan serangan fajar di siang yang terik.
Perlahan Satria turun lalu bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri lanjut keluar menuju dapur untuk mengambil minum. Tenggorokannya haus sekali setelah peluh mengucur deras. Bahkan hawa terasa panas membuatnya ingin sekali minum air dingin.
"Segar ya, Mas? Kelihatannya gerah sekali. Sama aku juga. Sudah habis satu botol besar karena panas setelah mendengar kucing kawin yang berisiknya membuat jagoku terjaga. Jadi harus ekstra bergerak agar semua aman."
Uhuk
Uhuk
Satria tersedak mendengar celotehan dari adiknya yang ternyata sedang memperhatikannya dari ruang tengah. Satria kembali minum setelah sedikit tenang. Cakra sungguh mengganggu sekali. Selalu saja memergoki dirinya yang sedang melakukan aktivitas panas. Padahal tadi adiknya sedang berkumpul dengan kedua temannya atau jangan-jangan mereka bertiga sengaja pindah tempat untuk mendengarkan suara indah yang berbahaya bagi kaum single.
"Sejak kapan teman-temanmu pulang?" tanya Satria dengan tatapan mata menyelidik. Gegara emosi jadi lupa jika mereka sedang berada di tempat yang tidak aman. Harus segera memboyong sang istri pulang. Jika tidak akan sangat merepotkan disaat kehendak ingin menyatu itu datang tiba-tiba. Apa lagi sang istri yang selalu membuatnya lapar.
"Sepuluh menit setelah kalian menutup pintu kamar, kenapa? Takut ketahuan ya? Aman... Hanya kau yang bisa mendengar," jawab Cakra santai.
Satria menghela nafas kasar, kesal tetapi sadar ini salahnya. Satria memutuskan untuk kembali ke kamar dari pada terus digoda oleh Cakra.
__ADS_1
"Sayang, sudah azan loh. Mamah cantik bangun dulu yuk! Nanti bobo lagi. Ayo Sayang!"
"Eeeuuughh masih ngantuk banget, Mas. Malam ini pulang atau menginap, Mas?" tanya Shayu kemudian memaksa bangun. Dia menarik selimutnya karena masih dalam keadaan polos. Bergerak turun tetapi dengan cepat Satria mengangkat tubuhnya dan membawa lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Setelah ini kita pulang, Sayang."
"Tidak menginap, Mas?"
"Tidak Sayang, terlalu berbahaya jika menginap disini. Besok saja aku renovasi dulu kamar kita." Satria menurunkan Shayu di bawah shower. Maklum kamar mandi milik Satria tak semewah di rumah Shayu. Hanya kamar mandi sederhana yang masih menggunakan bak mandi dan gayung. Shower pun dipasang setelah menikahi Shayu.
"Mau Mas mandikan atau mandi sendiri?"
"Sendiri saja, akan terlalu berbahaya jika dimandikan kamu. Nanti yang ada kamu pun ikut mandi lagi."
"Tapi di sini sepertinya lebih aman dari pada di ranjang, Sayang." Satria dengan wajah menggoda meraih pinggul Shayu. Sementara Shayu dengan gemas mendorong tubuh Satria agar segera keluar dari kamar mandi.
"Mas kamu mesum sekali, cepat keluar aku mau mandi. Nanti keburu telat waktu ashar!"
Malam ini Shayu dan Satria benar-benar memutuskan untuk pulang. Sempat di minta menginap tetapi Satria yang kekeh akhirnya menolak permintaan orang tuanya dengan lembut. Padahal sampai di rumah pun keduanya tak melakukan aktivitas itu lagi. Sama-sama beristirahat hingga pagi menjelang.
...****************...
Undangan sudah tersebar seminggu sebelum acara. Kini di rumah Shayu pun sudah banyak tamu undangan yang datang untuk menyaksikan acara nujuh bulan Mashayu Rengganis.
Dengan adat Jawa yang kental acara itu berlangsung dengan sangat khidmat. Mashayu pun terlihat sangat ayu berbalut kain yang dililitkan di tubuhnya. Dandanan yang natural dengan bunga melati yang menghiasi rambutnya.
Namun, dimata Satria sang istri benar-benar spesial. Penampilannya membuat mata berbinar. Semakin kandungan membesar semakin terlihat menggoda.
__ADS_1
"Mas jaga mata kamu! Banyak orang loh."
"Cuma lihat saja, istri aku cantik sekali. Mau siraman ya, Sayang. Sehat-sehat ya, anak Papah juga sehat ya." Satria mengusap perut sang istri dengan lembut. Cakra pun mengabadikan momen itu. Dalam acara ini Cakra bertugas sebagai fotografer.
"Agar irit!" Begitu kata Shayu. Memanfaatkan yang ada dari pada menyewa orang. Begitupun dengan sahabatnya yang lain. Ikut membantu dalam acara tersebut.
Prosesi siraman pun dilakukan. Guyuran pertama hingga ke enam sudah membuat tubuh Shayu basah. Namun, giliran guyuran ke tujuh Shayu merengek geli. Satria membawa belut yang akan dikenakan pada perut Shayu disiraman ke tujuh ini.
"Emoh Bu," rengek Shayu dengan mata yang berkaca-kaca. Hal itu bukan membuat yang lain merasa iba justru membuat yang melihat tertawa melihat tingkah Shayu. Bahkan Shayu sudah ingin beranjak dari duduknya tetapi ditahan oleh Ibu.
"Ndak po-po to, Nduk! Biar lancar nanti melahirkannya. Licin gitu seperti belut," ucap Ibu yang membujuk Shayu. Wajah Shayu sudah pucat membuat Satria tidak tega, tetapi ini salah satu prosesi acara nujuh bulan yang diselenggarakan. Sebagai orang muda Satria hanya bisa manut dan tak bisa membantah.
"Sebentar saja, Sayang. Cuma kena dikit, nanti kan jatuh belutnya. Sambil disiram, terakhir yuk bisa yuk!"
"Emoh Mas. Geli ikh," Shayu masih saja merengek hingga Cakra yang tengah membuat vidio dibuat gemas.
"Halah biasanya dimasukin belut juga kamu teriak, lagi Mas! lagi Mas! Toh sama kan belut-belut juga. Cuma ini belut sawah yang itu belut kasur!" celetuk Cakra membuat semua semakin tertawa terpingkal sedangkan Shayu merengut dengan menatap sengit wajah Cakra.
Sementara wajah Satria merona menahan malu. Adiknya kalau bicara memang suka benar, tetapi selalu membuatnya geregetan.
"Ayo Nduk. Mapan ya, sebentar kok! Nanti keburu masuk angin. Biar bisa dilanjut setelah ini."
Mau tak mau Shayu pun manut. Dia kembali duduk dengan mata terpejam saat Satria menyodorkan belut ke perutnya. Jantungnya deg-degan dengan kedua tangan memeluk Ibu.
Shayu menghela nafas lega. Acara siraman selesai dan bisa dilanjut dengan acara berikutnya. Satria pun bersyukur karena semua berjalan dengan lancar.
Semua tamu yang datang mendoakan dan mengusap perutnya. Haru biru mewarnai saat teman-teman sang Papah datang mengunjungi dan menyapa. Mereka mengingatkan Shayu dengan sang Papah yang membuat air mata tak dapat tertahan.
__ADS_1
"Jangan menangis, Sayang! Ini yang sangat diinginkan Papah. Semoga anak kita menjadi anak yang bisa dibanggakan keluarga."
"Aamiin."