Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Kutunggu Jandamu


__ADS_3

"Bu Resti, anda saya kenakan surat peringatan pertama karena telah memfitnah Mashayu Rengganis!" ucap tegas Bapak kepala sekolah. Beliau begitu malu karena masalah ini terjadi karena guru pengajar di sekolahnya sendiri.


Sementara Bu Resti diam menundukkan kepala, apa lagi setelah kedua orang tua Satria datang. Bu Resti sudah tak dapat lagi berkelit. Dia hanya bisa menahan malu dengan wajah merona. Beliau pun telah mengakui jika memang menyukai Satria.


"Bu, lain kali kalau mau menjatuhkan hati itu jangan dengan pria yang sudah beristri. Jadi malu sendiri kan?" ucap Shayu yang kemudian mengulum senyum. "Ayo Mas, kita ngantin! Sudah go publik juga, tidak masalah bukan jika kita makan bareng. Kasihan nich si utunnya pada laper. Maklum kembar tiga, jangan sampai mereka sakit lambung karena kurang perhatian." Shayu mengusap perutnya yang rata di depan Bu Resti. Dia segera melenggang pergi dengan memeluk lengan Satria.


Satria menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri. Dia tau jika saat ini Shayu tengah menggoda Bu Resti. Gadis itu tidak dendam, hanya kesal dan kecewa mendapat fitnah dari Bu Resti.


Jika Bu Resti mendapat surat peringatan pertama, Satria mengajukan surat pengunduran diri. Sempat membuat semua terkejut. Namun, keputusan Satria sudah bulat. Dia akan mengajar sampai tahun ajaran selesai dan guru lama bisa masuk kembali.


"Kenapa kekeh sekali ingin berhenti mengajar? " tanya Shayu saat keduanya tengah menikmati semangkuk bakso bersama sahabatnya yang lain.


"Ingin menjaga hati istri dan mau fokus mengembangkan usaha saja. Bulan depan juga kan mau buka cabang baru, dan kali ini kamu yang potong pita."


Shayu mengulum senyum dengan melirik wajah Satria. Dia merasa tersanjung dengan alasan yang Satria layangkan.


"Ehemm... Emang beneran cinta?" tanya Shayu setelah tadi berdehem menetralkan degup jantungnya yang mulai berdendang riang. Wajahnya terkesan menggoda dengan tubuh yang dicondongkan ke depan.


Posenya kali ini membuat Satria menghela nafas berat, terlebih saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian. Ingin rasanya Satria mengangkat tubuh sang istri dan membawanya pulang ke rumah.


"Duduk yang benar!" titah Satria dengan suara lirih. Namun sang istri justru semakin menjadi. Gadis itu menegakkan tubuhnya dengan bertolak pinggang. Sontak membuat Satria menoleh ke meja lain dan benar saja banyak para siswa yang memasang mata mereka demi melihat tubuh sang istri.


"Duduk yang benar dan habiskan makanannya, sebelum aku marah dan menarik kamu pulang!" tegas Satria. Gemas sekali rasanya menghadapi istri kecil yang begitu menggoda tetapi tak tau tempat.


"Cinta tidak?" rengek Shayu.

__ADS_1


"Maksa banget Shay! Jika tidak stok lanangan masih banyak," sahut Cakra yang sejak tadi menyimak. "Aku aja open kok buat kamu."


"Mungkin Pak Satria cintanya bisa diduplikat. Pagi sama kamu siang sama aku," imbub Arita dengan alis yang naik turun membuat Shayu mendengus kesal.


"Ya sudah, aku mau balik lagi saja dengan Ar_"


"Cinta Sayang." Satria segera menarik tangan Shayu yang sudah ingin beranjak dari duduknya. Sang istri memang ajaib, niat ingin mengatakan cinta dengan kata-kata romantis malah dipaksa di tengah-tengah kerumunan murid-murid.


Wajah Shayu merona dengan kembali mengulum senyum. Dia segara meraih tasnya dan mengajak Satria untuk pulang.


"Eh mau kemana?" tanya Satria dengan wajah bingung.


"Nanggung mau belajar, tinggal dua jam lagi aku pulang. Mending kita pacaran, jalan-jalan yuk!" ajak Shayu santai.


Satria menghela nafas berat, dikasih hati minta jantung. Baru dibaiki malah mau melarikan diri. Emang dasar nakal, selalu ada saja tingkahnya.


"Ke Alun-alun beli cilok?"


"Kamar, buka toko!" sahut Satria kemudian meletakkan uang itu di atas meja dan pergi meninggalkan Shayu yang diam tercengang.


Shayu menggelengkan kepala saat pikiran kotor mulai masuk, hingga membuat tubuhnya bergidik ngeri. Dia memukul kepalanya sendiri tanpa sadar telah menarik perhatian ketiga sahabatnya.


"Tidak usah lihat-lihat! Kalian ini ..."


"Buka toko apa? Hotang, kue **** atau Kue Apem?" tanya Topan membuat wajah Shayu semakin merona.

__ADS_1


Otaknya yang sedang terkontaminasi membuat pikirannya semakin ingin traveling. Dengan cepat dia memilih untuk beranjak dari sana dan berlari menuju kelas, sedangkan ketiga temannya tertawa terbahak melihat Shayu yang salah tingkah.


...****************...


"Selamat!"


Shayu mengangkat kepalanya menatap pria yang tiba-tiba datang dengan mengulurkan tangan. Dia yang baru saja masuk kelas dan mulai membuka buku pelajaran dibuat terkejut dengan kedatangan mantan kekasih.


Arta tersenyum menatap Shayu yang memasang wajah terkejut. Dia mengusap lembut rambut Shayu membuat gadis itu sadar akan sikapnya. Buru-buru Shayu menghindar takut ada yang kembali memviralkan momen mereka.


"Makasih Ar," jawab Shayu dengan membalas senyum. Ada rasa canggung yang menyelimuti hati Shayu karena walau bagaimanapun Arta adalah mantannya. Terlebih Arta saat ini pasti sudah tau jika ia menikah disaat hubungan keduanya masih berstatus pacaran.


"Meski kamu sudah menikah, rasa ini masih sama. Mungkin tak akan bisa hilang. Kamu yang pertama singgah, meski tidak menetap terapi aku harap masih ada kesempatan dilain waktu."


Shayu berdiri dari duduknya, wajah gadis itu seakan tak terima. Secara tak langsung Arta seakan mendoakan dirinya suatu saat berpisah dengan sang suami. Entah apa yang ada dalam pikiran Arta, yang jelas ucapannya membuat Shayu mendadak kesal.


"Kutunggu jandamu maksud kamu, Ar? Kamu mau ikut-ikutan seperti Bu Resti? Jangan ngadi-ngadi Ar! Seharusnya jika kamu cinta sama aku itu kamu ikut bahagia saat aku mendapatkan kebahagiaan."


"Memang kamu sudah bahagia bersamanya? Aku tau kamu itu tidak mudah jatuh cinta Shay!" sahut Arta dengan menatap lekat wajah Shayu yang kini nampak cemberut.


Arta yakin jika Shayu belum mencintai Satria. Apa lagi jika melihat hubungan mereka selama ini. Sudah begitu banyak perhatian yang ia curahkan untuk Mashayu tetapi tak kunjung mendapatkan balasan. Sampai gadis itu mengakhiri hubungan mereka pun, ternyata hati Shayu belum tergoyahkan.


"Kamu bukan Tuhan yang tau hati aku. Lagi pula mau aku cinta atau tidak, status aku sudah jelas. Aku sudah menikah dan itu mutlak. Semua orang pun sudah tau. Mau tidak mau kamu pun harus menerimanya. Jangan berharap lebih dengan milik orang lain!"


"Kenapa? Seharusnya aku yang ada diposisi itu, bukan dia! Papah kamu akan menikahkan kita, tapi kamu malah memilih menjebak Pak Satria. Salah jika aku berharap milik aku kembali?"

__ADS_1


Kedua mata Shayu membola dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika Arta yang akan dijodohkan olehnya dan dia pun tak mengira Arta tau alasannya menikah dengan Pak Satria.


__ADS_2