
Satria dengan cepat mendekati sang istri yang sedang lemas dengan mata sayu di dekapan sang Ibu. Dia terduduk di samping Shayu tetapi tatapan yang diberikan gadis itu membuat Satria ragu untuk sekedar menenangkan.
"Sebaiknya kamu mundur, Mas! Kamu terlalu jahat untuk terus dekat denganku! Puas kamu setelah melihat Papah pergi? Kenapa Mas? Kenapa? Kenapa kamu tidak mau memberitahu aku sejak awal? Aku ini anaknya, Papah hanya punya aku dan hingga beliau meninggal pun, aku sebagai anak tidak ada di sisinya. Dimana hati nurani kamu, Mas? Hiks ... Hiks ... Ibu, Mas Satria jahat. Mas Satria tega padaku Bu...Hiks ..Hiks..."
"Sabar Nak, sabar! Semua ini sudah takdir Gusti Allah, Nduk! Maaf jika anak Ibu menutupi, tapi Satria pasti punya alasan. Tenangno pikirmu ya, Nduk! Kamu tidak sendiri, ada Ibu dan Bapak yang selalu menemani Shayu." Ibu mencoba untuk menenangkan Shayu yang tampak kusut dengan air mata tiada henti mengalir. Isakan tangisnya begitu menyentuh kalbu. Membuat para pelayat pun ikut terharu.
Satria mengepalkan kedua tangannya. Dia pun menyesal telah menutupi penyakit yang diderita sang mertua, tetapi ini untuk kebaikan Shayu dan atas kehendak Pak Danuaji. Dia pun serba salah saat itu, dan kini hanya bisa diam tanpa mampu menggenggam tangan sang istri.
Bapak menepuk pundak Satria untuk menguatkan putranya. Beliau paham posisi Satria saat ini. "Sabar, nanti jika sudah tenang pasti dia memaafkan kamu. Legawa ya, Le! Istrimu sedang kalut, ojo terlalu dipikir! Ayo bantu Bapak untuk persiapan pemakaman!"
Satria menganggukkan kepala, dia tampak lesu melihat istrinya yang enggan disentuh. Jangankan mendapat pelukan darinya, menoleh saja Shayu seakan enggan.
"Maaf Sayang, Mas terpaksa melakukan ini semua. Semoga kamu mengerti jika Mas melakukan ini untuk kebaikan kamu dan Papah."
Awan mendung mewakili hati dan wajah Shayu yang murung. Gadis itu tak lagi menangis, tetapi pandangannya terus tak putus ke arah gundukan tanah yang mulai diuruk.
Sang Papah telah tiada, menyusul Mamahnya ke surga. Banyak yang prihatin dengan apa yang Shayu alami tetapi dengan adanya kematian Pak Danuaji, membuat pernikahannya dengan Bapak guru diketahui banyak orang.
Namun, Shayu tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini adalah, dirinya sendiri. Bagaimana dia tanpa orang tua.
Satria terus menatap sang istri dengan mata merah. Tak tega dan ingin sekali memberi sandaran, tetapi Satria tak berani mendekat. Emosi Shayu masih meledak dan belum kunjung reda. Dia tak ingin membuat keadaan semakin runyam.
Sampai pemakaman selesai Shayu tak kunjung ingin beranjak dari sana. Dia masih memeluk papan yang menancap bernamakan Papahnya. Shayu terdiam dengan mengingat semua yang telah ia lalui berdua dengan beliau. Kesalahan-kesalahan yang ia perbuat selama ini, hingga permintaan terakhir sang Papah padanya.
"Dek, pulang yuk! Besok kita kesini lagi, sudah mau magrib," ucap Satria dengan lembut. Dia berusaha membujuk sang istri agar mau pulang. Sementara kedua orang tuanya, Cakra dan para sahabat Shayu sejak tadi sudah membujuk tetapi tak kunjung ada jawaban dari Shayu.
"Sayang!" panggil Satria lagi yang kini mencoba menyentuh tubuh sang istri. Namun, dia begitu terkejut saat istrianya tiba-tiba jatuh ke pelukan. Semua yang masih berada di sana pun segera mendekat dan mendadak panik.
__ADS_1
"Bawa masuk ke mobil Sat!" titah Bapak yang segera berlari menyiapkan mobil.
Satria segera mengangkat tubuh sang istri. Shayu yang begitu banyak pikiran setelah menghadapi ujian dan kini mendapatkan musibah, membuat kondisi kesehatannya mudah menurun. Gadis itu butuh banyak istirahat agar tubuh dan pikirannya tenang.
"Bu, aku titip istriku dulu. Ingin membantu Bapak di bawah menyiapkan acara tahlilan."
"Iya, biar Shayu sama Ibu. Kamu turunlah! Jangan lupa makan dulu Sat, sejak tadi kamu belum makan."
"Nggih Bu, tapi Satria belum lapar. Nanti saja menunggu Shayu bangun," jawabnya dengan kalem. Satria segera meraih pecinya dan turun membantu Bapak juga Cakra yang sedang menggelar tikar. Ada beberapa tetangga juga di dapur membantu menyiapkan makanan bersama si Mbok.
Tahlilan di malam pertama banyak sekali yang yang datang. Pak Danuaji orang baik dan dermawan membuat semua merasa kehilangan beliau.
Sementara di kamar, Shayu mulai terjaga. Matanya perlahan terbuka dengan kepingan-kepingan ingatan yang kembali terlintas. Dia melirik tangannya yang tertancap jarum infus.
Tadi memang Satria sengaja memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Shayu. Kondisinya yang drop membuat Shayu harus di rawat di rumah sakit. Namun, karena sedang berduka Satria meminta agar sang istri bisa di rawat dirumah saja. Maka dari itu Dokter sengaja memberi cairan infus agar tubuh Shayu cepat pulih, dan kembali lagi besok untuk memeriksa keadaannya.
"Maafin Shayu Pah, tapi kata Papah ingin meminang cucu, lalu kenapa malah meninggalakn Shayu secepat ini, Pah?"
Bulir bening kembali jatuh dari mata lentik yang kini terpejam. Isakan kecil mulai terdengar. Shayu kembali membuka mata lalu berusaha untuk beranjak dari tidurnya.
Pergerakan Shayu terhenti saat tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka. Pria yang sejak siang enggan ia lihat kembali masuk kamar dan berjalan mendekat.
Tadi Ibu turun karena ingin melihat persiapan di dapur. Beliau meminta Satria untuk bergantian menjaga Shayu yang masih terlelap di atas. Namun, Satria tak cepat naik karena menyelesaikan ngajinya terlebih dahulu.
"Sudah bangun? Mau ke kamar mandi ya? Biar Mas bantu!"
"Tidak usah! Aku bisa sendiri. Lebih baik Mas keluar, aku malas melihat Mas Satria."
__ADS_1
Satria menghela nafas berat, kini kesabarannya tengah di uji dan harus kuat agar tak berdebat. Dia tak ingin membuat kondisi sang istri yang belum stabil akhirnya menurun lagi.
"Jika butuh apa-apa, panggil Mas ya! Mas tidak kemana-mana, hanya menjamu tamu yang datang."
Shayu tak menjawab, dia memilih segera melangkah ke kamar mandi dengan menggeret tiang infusnya.
"Semoga tidak lama marahnya, jujur Mas rindu. Jangan buat Mas tersiksa karena tak bisa memeluk kamu! Mas tau kamu kecewa, sedih dan butuh sandaran."
Sementara di kamar mandi Shayu kembali menangis. Dia benci dengan sikap Satria yang menutupi semuanya. Namun, hati kecil Shayu tak tega menghukum Satria dengan sikap dinginnya.
"Maafin aku Mas, aku cuma mau sendiri dan tidak mau berdekatan dengan kamu dulu. Melihat kamu membuat aku teringat kematian Papah. Aku kecewa sama kamu, Mas."
Hingga malam hari Shayu tidak mau makan. Ibu sudah membujuk begitu pun dengan bapak serta Satria, dan kini Cakra ikut turun tangan masuk ke kamar sahabat sekaligus iparnya.
"Makan! Sedih itu butuh tenaga, jangan buat perutmu kosong. Aku jamin sekarang cacing diperutmu sedang meratapi nasib karena tidak diberi sesuap nasi. Dasar pelit!" celetuk Cakra yang sengaja memperkeruh suasana.
"Keluar kamu, berisik!"
"Aku di sini dan di luar itu sama saja, sama-sama melihat wajah sepasang suami istri ditekuk. Makan! Jika kamu tidak makan suami mu juga mogok makan. Lagian aku heran, pada suka sekali menyiksa diri."
"Aku tau kamu tengah berduka, tapi jangan sertamerta mengabaikan kesehatan, Mbakku tersayang!"
"Keluar tidak, atau mau aku lempar pakai pisang?" seru Shayu yeng kini meraih pisang dan segera melemparnya setelah melihat Cakra malah mengejek.
Bugh
Kedua mata Shayu membola sempurna saat melihat pisang itu mendarat pada orang yang salah.
__ADS_1