
Prak
Satria terkejut saat kertas dan pulpen tiba-tiba mendarat di hadapannya. Dia menoleh ke arah sang istri yang sejak pulang dari bengkel terlihat merengut dan enggan berbicara apapun.
"Ini apa Sayang?"
"Perjanjian."
"Perjanjian?" tanya Satria lagi kemudian meraih kertas tersebut dan menyingkirkan pulpennya.
"Perjanjian selama aku tinggal di luar negeri, Mas Satria tidak boleh macam-macam! Apa lagi bermain-main dengan macan seperti tadi. Dia itu macan yang bisa kapan saja menyerang kamu, Mas! Sadar tidak jika sedang diincar dengan wanita atau Mas memang suka dan nyaman didekati begitu?"
Satria tercengang mendengar ucapan istrinya yang mengandung ancaman disertai tuduhan. Dia tak mengira jika kejadian di bengkel tadi yang murni karena pekerjaan berbuntut panjang.
Bukan seharusnya dia yang curiga jika istrinya tetap sekolah di luar negeri? Apa lagi bisa kembali berdekatan dengan mantan kekasih, tetapi kenapa justru dirinya yang mendapatkan surat perjanjian ini.
Satria menggelengkan kepala setelah membaca surat perjanjian buatan istrinya, lalu segera beranjak dari duduknya dan berdiri menatap wajah Shayu.
"Akan Mas tanda tangani tetapi aku pun memiliki syarat yang harus kamu setujui."
"Apa? Kenapa juga pakai syarat segala! Apa memang benar dengan yang aku ucapkan?"
"Tidak begitu Sayang!" sahut Satria begitu gemas dengan istrinya yang malah terus menuduh tidak jelas.
"Terus apa syaratnya?" tanya Shayu dengan bertolak pinggang membuat Satria semakin geregetan. Harap maklum karena sudah hampir seminggu libur padahal baru merasakan beberapa minggu eh sudah harus puasa lagi. Bahkan toko susu beberapa hari ini ditutup karena pemiliknya takut pegal karena dikerjai oleh jago.
"Menjadi nakal setiap bersamaku sebelum hari keberangkatanmu, karena sudah pasti aku harus puasa bertahun-tahun lamanya. Tidak ingin kan jika suamimu ini buka puasa dengan macan-macan itu, hhmm? Liar di depanku maka jaminannya aku setia menunggumu pulang," ucap Satria dengan berbisik dan tatapan nakal yang justru menjadi ancaman tersendiri bagi Shayu.
Rasanya mengapa malah dia yang seakan terjebak dengan perjanjian yang ia buat. Niat ingin membuat suaminya bertekuk lutut malah dirinya yang mati kutu.
"Kamu mengancamku, Mas?"
__ADS_1
"Ini bukan ancaman Sayang, tapi syarat suatu perjanjian. Aku senang kamu pun tenang. Bagaimana? Hanya sebulan kan?"
Shayu menarik nafas dalam dan terus berusaha berpikir. Dia seakan terjebak dengan permainannya sendiri yang mau tak mau ya harus mau.
Kedua mata Shayu membola dengan sempurna bahkan tubuhnya tersentak saat dia merasakan tangan nakal suaminya singgah di bongkahan belakang tubuhnya. Seperti mengecek sesuatu tetapi begitu terkesan mesum.
"Mas!"
"Sudah selesai kan? Tumben cepat, mulai malam ini ya!" Satria mengedipkan sebelah matanya lalu menandatangani surat perjanjian tersebut. Bahkan dia dengan senang hati membubuhi materai di bawah tanda tangannya.
"Sudah! Ayo makan malam setelah itu berproseslah menjadi liar di depan suamimu, Dek!" Satria segera melangkah keluar kamar menuju meja makan. Malam ini agaknya ia harus makan banyak untuk menambah energi agar staminanya terjaga. Moodnya pun sudah kembali segar setelah beberapa hari tak semaksimal biasanya.
Jika Satria begitu lahap berbeda dengan Shayu yang memikirkan bagaimana cara memulai, gerakan apa yang harus ia lakukan, dan model apa yang belum pernah dicoba. Hingga ia menjadi tak berselera makan karena memikirkan dan membayangkan hal itu.
"Ayo Dek dihabiskan!" ucap Satria dengan gemas karena istrinya yang sejak tadi terdengar mendeesah. "Belum apa-apa loh Sayang."
Padahal Satria tau jika Shayu tengah memikirkan apa yang akan ia lakukan hingga tak kunjung menghabiskan makanannya. Bahkan sejak tadi diam-diam Satria menahan tawa melihat ekspresi istrinya yang berubah-ubah.
.
.
.
Helaan nafas berat begitu terdengar saat istrinya meliuk-liukan tubuhnya di atas ranjang dengan gerakan frontal membuat kedua mata Satria membola dengan sempurna. Entah dari mana istrinya mengerti gerakan macam itu. Begitu lentur dengan jemari lentiknya yang sengaja menarik tali-tali ditubuhnya hingga terbuka tanpa penghalang sehelai pun.
"Sayang... " Satria kembali terkejut dengan gerakan liar istrinya yang kini telah meluluh lantahkan pertahanan lawan. Bahkan dengan nakal mulut Shayu pun ikut membantu jemarinya menanggalkan pakaian yang masih terpasang ditubuhnya hingga kini lenyap entah kemana.
"Sayang kamu... " Lenguhan mulai terdengar dari bibir Satria saat merasakan peranan jemari lentik serta sapuan lembut yang tengah bermain dengan kepala si jago. Sungguh malam ini Shayu melakukan tugasnya dengan baik. Membuatnya on hingga tak sanggup menahan dan menarik sang istri lalu mengeksekusinya dengan gerakan lembut menuntut.
Malam yang tak sama dengan malam-malam sebelumnya. Satria begitu merasa sangat spesial dan terkesan hingga enggan menyudahi dan terus memainkan perannya dengan apik. Begitupun Shayu yang terus melawan tanpa ampun semakin membuat Satria senang dan dimabuk kepayang.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali keduanya mengerang panjang dengan lenguhan yang semakin membuat si jantan bergairah. Meminta lagi dan lagi hingga Shayu tak lagi bisa mengimbangi.
"Mas, aku sudah tak kuat."
"Sebentar lagi Sayang, maaf kamu terlalu melenakan Dek."
Kamar terasa semakin panas, kasur acak-acakan hingga bantal dan guling entah terbang kemana. Ulah meraka membuat kacau kamar yang beberapa jam lalu masih tertata rapi, kini begitu berantakan. Sampai dimana permainan berakhir dan Satria ambruk di samping tubuh sang istri.
Satria mengatur nafas dengan melirik Shayu yang terlihat begitu lelah. Dia mengulum senyum mengingat tingkah istrinya yang tiada tanding. Menggegerkan naluri kejantanannya dan memporak-porandakan gairah hingga begitu terasa membara.
"Kamu pintar Sayang, liar." Satria menggigit gemas pundak polos Shayu hingga membuat wanita itu mengeluarkan suara manjanya.
"Mas... "
"Iya Sayang, besok lagi ya."
"Kok nagih, tidur saja belum. Aku capek," keluh Shayu yang kini merasa tubuhnya sakit semua. Belum lagi bagian intinya yang terasa panas. Suaminya sungguh tak bisa dipancing. Baru sebentar sudah menerkam seperti singa kelaparan.
"Kan syaratnya begitu. Eh tapi kok ahli, tau dari mana menggoda aku begitu? Kamu bahkan seperti suhu."
"Nyari di Nek Gogle apa lah itu, semua lengkap dari teori sampai praktek."
"Terus kok punya begituan, sepertinya tidak pernah kamu pakai. Kapan belinya?"
"Oh itu, kebetulan kado dari Cakra dan Topan," jawab Shayu santai tetapi justru membuat Satria penasaran dengan ekspresi begitu terkejut. Pria itu memiringkan tubuhnya guna melihat wajah Shayu dari dekat.
"Topan dan Cakra? Kok pas? "
"Ya kan sahabat Mas."
"Memang kalau sahabat harus tau luar dan dalam?" tanya Satria dengan pikiran melalang buana dengan gemericik emosi yang mulai datang.
__ADS_1
"Ya kan sahabat dari piyik," jawab Shayu lagi dengan santainya membuat Satria tak tahan dan kembali menyerang.
"Sayang... Ampun Mas!"