Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Vidio Call


__ADS_3

Keluar dari bisokop sepasang pasutri itu kembali diganggu oleh Cakra, Topan dan Arita. Hilang sudah jadwal pacaran yang jadinya malah mabar alias main bareng. Mereka pun ikut makan di salah satu restoran jungfood. Kembali merusuh dengan meminta traktiran membuat Shayu semakin geregetan.


"Jadwal besok cancel ya karena sudah digantikan hari ini. Aku mau full sama Mas bojo dan jangan lupa kalian harus mengantar aku ke bandara nanti. Awas saja ada yang tidak hadir! Aku unfollow dari hidup aku!"


"Ancamanmu mengada-ngada sekali. Siap nyonya, kami pasti datang mengantarkan anda sampai masuk pesawat dan terbang bareng sang mantan. Upss.... Maaf Pak keceplosan," ucap Arita sontak membuat Satria menggelengkan kapala dan Shayu pun mendelik mendengarnya. Ingin sekali Shayu melempar Arita dengan paha ayam yang sedang ia makan.


"Lambe harap dikondisikan lambe!" ketus Shayu yang membuat Cakra dan Topan tertawa mendengarnya.


"Hanya mantan, yang kuat itu suami sah. Mau putar ke kanan, putar ke kiri. Maju, mundur, serong, lurus asal pas, wis puenak pokoknya," sahut Cakra.


"Kamu nich bicara apa? Polos loh aku," timpal Topan.


Pembicaraan yang membuat sepasang suami istri ini tak tahan dan ingin segera pulang. Sudah gagal bermesraan, di palak dengan porsi banyak, masih dijadikan bahan candaan pula. Seru dan bakal menjadi rindu tetapi momennya tidak pas menurut Shayu.


Pulang dari sana Shayu dan Satria lekas beristirahat. Lelah seharian berada di mall bahkan kaki serasa sakit sekali. Shayu duduk di atas karpet dengan kaki berselonjor. Menghilangkan rasa keram yang dirasakan. Sementara Satria lekas bersih-bersih karena tubuhnya yang serasa tak nyaman.


"Mandi dulu Sayang!"


"Gendong Mas," ucap Shayu manja dengan merentangkan kedua tangannya. Satria pun dengan cepat memposisikan diri agar Shayu naik ke punggungnya.


"Emoh, mau gendong depan."


"Nanti ada yang kesenggol bahaya loh, Sayang. Belakang saja ya!" ucap Satria dengan lembut.

__ADS_1


"Emoh, mau depan!" Ngeyel sekali istrinya ini. Satria sudah pasti suka tetapi takut si jago minta dibuka. Satria pun segera mengangkat tubuh shayu yang sudah nemplok dengan melingkarkan kakinya di pinggul dan kedua tangan melingkar di lehernya.


"Mas, nanti malam libur boleh? Kakiku pegal, ingin mandi lanjut istirahat."


"Tinggal beberapa hari lagi loh Sayang. Kalau mau kan jauh nanti," sahut Satria yang kemudian menurunkan istrinya di dalam bathtub agar berendam menghilangkan pegal-pegal di tubuhnya.


"Nanti kan bisa telepati Mas, gitu-gitu sambil ..." Seketika ucapan Shayu terhenti, wajahnya merona dan segera merosotkan diri ke dalam air hingga hanya mata ke atas yang terlihat.


"Sambil apa?" tanya Satria menatap penuh selidik.


"Vidio Call," bisik Shayu yang kemudian kambali masuk ke dalam air. Sontak Satria menganga mendengarnya. Tau-tauan dari mana sang istri tentang begituan. Sungguh kehebatan digital sekarang membuat otak semakin cerdas. Satria sudah menduga jika ini hasil Shayu mencari di jejaring sosial.


"Mandi! Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak!" ucap Satria kemudian menarik hidung sang istri dengan gemas lalu keluar kamar mandi. Bukan Satria menolak, mungkin jika sudah kepepet akan melakukan hal itu, tetapi dia bahkan belum kepikiran. Masih abu-abu menatap ke depan. Terlebih tinggal hitungan hari sang istri siap berangkat.


"Mas kok kamu belum pulang sich, aku beberes sampai selesai semua tetapi kamu belum sampai rumah. Ponselnya juga tidak aktif, bikin khawatir saja dech. Kamu kemana? Dengan siapa? Lagi ngapain?"


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tetapi sang suami tak kunjung pulang. Shayu bahkan sudah uring-uringan mengingat tinggal beberapa jam lagi dia sudah harus berangkat ke bandara meninggalkan negara tercinta untuk sementara.


"Ya Tuhan Mas Satria kamu tuh dimana?" Shayu mondar mandir di dalam kamar. Wajahnya tampak cemas. Sudah menghubungi Cakra menanyakan keberadaan suaminya barangkali mampir kesana tetapi ternyata sejak beberapa hari bahkan belum pulang ke rumah. Terakhir dengannya dan kini entah berada di mana.


"Kamu membuat aku marah, kesal, dan berpikiran buruk Mas. Maumu apa to?"


Ditengah Kekhawatiran Shayu dia dikejutkan dengan lampu yang tiba-tiba padam. Bahkan dia sudah loncat ke atas kasur mencari ponselnya yang sempat ia lempar.

__ADS_1


"Duh kok mati lampu sich, mana tengah malam lagi. Mas kamu dimana to? Aku takut," rengek Shayu yang segera menyalakan senter handphonenya. Dia segera turun untuk mencari lilin. Memanggil Si Mbok tetapi tak kunjung ada jawaban


"Mbok! Mbok mati lampu Mbok!"


"Mbok lilin dimana ya?" seru Shayu yang terus melangkah menuruni tangga dengan cahaya dari ponselnya. Langkahnya perlahan turun hingga di undakan terakhir dan segera melangkah menuju dapur. Mencari lilin dan membawanya kembali ke kamar.


Shayu buru-buru naik ke atas hingga tak peduli tetasan lilin yang mengenai kakinya. Dia ingin segera bersembunyi di balik selimut seraya menunggu Satria pulang.


"Ya Allah Gusti, aku sendirian di rumah apa gimana to. Ini juga kenapa mati lampu. Keterlaluan sekali!" Shayu sewot sendiri. Takut dan kesal menjadi satu. Hingga ia terkejut saat merasakan sentuhan begitu erat menyergapnya hingga Shayu berteriak.


"Tolong! Mas Satria tolong aku!"


"Mas!" teriak Shayu tepat di ambang pintu kamar. Baru saja melangkah masuk sudah mendapat serangan membuat jantung serasa ingin lepas.


"Sstt... Ini aku Sayang," bisik Satria membuat kedua mata Shayu yang tadi terpejam, kini terbuka lebar. Shayu terkejut melihat banyak sekali lilin yang telah menyala dan suasana kamar seketika berubah. Mawar di mana-mana dengan hiasan kamar yang terkesan romantis.


Shayu menoleh ke arah Satria dan lagi-lagi terkejut melihat kalung bergelantung di depan mata. Kalung emas dengan liontin yang sangat indah. Shayu menutup mulutnya begitu terharu saat Satria mengucapkan sepenggal kata yang dirinya sendiri lupa.


"Selamat ulang tahun Sayang dan happy anniversary. Hari ini hari ulang tahun kamu dan lusa hari pernikahan kita. Tidak apa-apa kan jika dirayakan bersamaan?"


Shayu menganggukkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengembang di pelupuk mata. Hingga ia tak sanggup menahan tangis saat Satria memasangkan kalung di leher jenjangnya kemudian mengecup kening begitu dalam.


"Aku mencintaimu, sehat terus Sayang. Semoga cita-citamu di sana terwujud dan bisa pulang kembali membawa cinta yang masih utuh."

__ADS_1


Shayu tak lagi bisa berkata-kata, dia memeluk Satria dengan berderai air mata. Malam yang sangat mengharukan. Malam terakhir mereka bersama sebelum besok terpisah jarak..


__ADS_2