
Selesai acara, kini dua orang wanita tengah terdiam saling menatap dengan perasaan mereka masing-masing. Perkara jam tangan membuat Shayu sampai menemui gurunya yang sedang membawa beberapa perlengkapan panggung untuk dikembalikan di tempatnya. Menghalau langkahnya dan berhenti di depan gudang.
Entah mengapa hari ini Shayu begitu sangat emosi. Ingin sekali marah sejak tadi tetapi tidak ingin merusak suasana haru kelulusan sekolah. Sudah menginterogasi suaminya tetapi tiada hasil. Beliau ternyata tak tau menau jika jam yang dikenakan bukan pemberian dari istrinya. Hingga Shayu merasa harus harus mendapatkan jawaban dari pelaku utama.
"Apa maksud anda?"
"Maksud yang mana? Jika bicara yang sopan dan jelas. Saya ini guru kamu, ingat itu!"
"Guru? Itu dulu, maaf saya sekarang sudah menjadi alumni Panca Darma. Jadi tidak ada salahnya bersikap santai." Mashayu meletakkan jam tangan di atas tumpukan barang yang Bu Rasti bawa hingga membuatnya terkejut. "Sudah tau maksud saya? Saya kembalikan karena suami saya tidak butuh ini. Jam tangan pemberian istrinya sudah ketemu. Jadi silahkan ambil milik anda dari pada saya buang, karena milik saya sudah ada tuannya. Jadi milik siapa yang pantas berada di tempat sampah?" Emosi Shayu semakin bertambah saat tadi ada salah satu temannya menemukan jam tangan miliknya teronggok di dalam bak sampah, sehingga dengan cepat dia meminta jam tangan yang dipakai suaminya dan membawa kabur saat suaminya sedang sibuk membantu membongkar panggung.
Bu Resti tercengang mendengar ucapan Shayu. Dia tidak habis pikir dengan Shayu yang berani sekali padanya. Belum sempat dia berbicara, Shayu kembali berucap begitu berani seperti istri yang mengetahui suaminya digoda wanita lain dan dengan begitu semangat melabrak tanpa ampun.
"Apa Ibu masih menginginkan suami saya? Ibu itu cantik, seharusnya bisa berpikir logis. Bukan sibuk memikirkan suami orang. Apalagi suami muridnya sendiri! Sekali lagi begini, jangan salahkan saya jika saya datang dan mengacak-acak hidup Ibu."
Nampaknya Shayu tak bisa lagi menahan emosi. Keberaniannya membuat siapa saja yang melihat pasti bergidik ngeri. Begitupun dengan seseorang yang diam-diam melihat interaksi keduanya. Dia segera pergi setelah Shayu pun ingin berbalik.
.
.
"Loh kamu kok belum pulang, Sayang? Apa sengaja menunggu Mas selesai?" tanya Satria yang menyunggingkan senyum bangga karena melihat sang istri yang masih anteng menunggu.
"Ini punyamu Mas." Shayu segera memberikan jam tangan yang asli kemudian berlalu pergi.
"Sayang," seru Satria memanggil Shayu yang malah melenggang pergi. Dia bingung dengan sikap istrinya yang terlihat merajuk dan garang.
__ADS_1
"Di ingat-ingat! Itu baru jam tangan yang tertukar, belum sempaak. Awas kalau sampai aku belikan benda pusaka itu terus kamu lupa dan tertukar dengan milik Cakra! Bukan lagi aku tukar sempaaknya tetapi isinya sekalian!" celetuk Shayu dengan geram. Dia segera masuk mobil dan menutupnya sebelum Satria menghalau. Namun, agaknya pria itu bukan menghentikan istrinya hingga mobil berlalu begitu saja. Satria justru terdiam di tempat dengan terus memikirkan ucapan Shayu.
"Isinya ditukar? Yo bahaya ta." Satria menghela nafas panjang kemudian mengusap kasar wajahnya lalu segera berlari menuju motornya. Satria segera mengejar mobil sang istri yang saat ini sedang emosi.
Sampai di rumah Shayu semakin merasa tak karuan. Pinggulnya pegal, perutnya keram ditambah hawanya tak nyaman. Masuk kamar lanjut membuka kebaya, kain, dan piranti-piranti pelengkapnya hingga tersisa dua kain pembungkus aset berharga.
"Woow... Indahnya." Satria yang baru saja sampai dan masuk ke dalam kamar dibuat adem panas melihat tubuh istrinya. Namun, tatapan Shayu yang tiba-tiba menoleh dan menggerakkan kedua jarinya. Menghubungkan kedua mata mereka membuat Satria urung untuk menggoda.
"Becanda Sayang... Kamu kenapa?" tanya Satria dengan meringis menatap wajah sang istri. Horor sekali hingga Satria bergidik ngeri.
BRAK
Satria terjingkat mendapati pintu tertutup rapat. Namun tak lama ia mendengar teriakan sang istri dari dalam kamar mandi. Buru-buru Satria mengambil apa yang diminta Shayu sebelum kembali berteriak.
"Buka pintunya Sayang!"
"Ini Sayang! Jangan lama ya!" Pesan yang mengandung arti.
"Puasa Jago!" sahut Shayu dari dalam kamar mandi membuat Satria lemas.
"Kalau begini berarti, astaghfirullah... Gagal dong semburan si jago." Satria terduduk lemas. Tinggal satu bulan lagi dan ia tidak tau hasilnya nanti. "Apa iya Mas harus mengikhlaskan kamu pergi? Abot Nduk!" Satria terdiam dengan banyak pikiran. Hingga pintu kembali terbuka dan menampilkan istrinya yang sudah terlihat lebih segar.
"Eh Mas nungguin di sini? Ngapain kok duduk sini? Bangun Mas! Aku sudah," ucap Shayu dengan terus menatap wajah Satria. Dia mengerutkan keningnya melihat wajah masam suaminya "Dia kenapa? apa gegara puasa?" Shayu berdecak kemudian melangkah menuju meja rias.
Sampai malam Satria hanya diam dengan menyibukkan dirinya sedangkan Shayu tumben-tumbenan memasak untuk makan malam dengan dibantu oleh si Mbok. Begitu bersemangat setelah tadi seharian emosinya tak stabil.
__ADS_1
"Mas... " Shayu berlari menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamar. Dia melihat suaminya masih belum beranjak dari meja belajar begitu fokus menghadap ke layar laptop.
"Mas, makan yuk!"
"Duluan saja Dek aku belum lapar."
Shayu tertegun melihat respon suaminya. Menjawab tanpa mau menoleh meski sekejap. Sikapnya pun berubah, mendadak datar sejak sore tadi. Shayu tak menyerah, dia mendekati dan merangkul pundak suaminya.
"Aku yang masak loh, Mas. Beneran tidak mau?"
"Bukan tidak mau Sayang, hanya belum lapar saja. Nanti pasti makan, kamu duluan saja ya!" ucap Satria dengan lembut agar istrinya tak tersinggung. Sejatinya dia memang tidak lapar, lebih tepatnya tidak berselera makan.
"Ya sudah kalau belum lapar, aku tunggu saja sampai kamu lapar." Shayu melangkah menuju tempat tidur kemudian duduk di sana. Sedikit kesal karena Satria yang menunda makan malam. Padahal ini masakan perdananya. Jika kurang sedap kan setidaknya masih hangat. Masih bisa dimakan, kalau ditunda-tunda sudah tidak enak tambah parah nanti rasanya.
Shayu mulai berpikir, dia melirik Satria yang masih saja enggan beranjak. Dia berpikir keras bagaimana caranya agar Satria tidak terus sibuk dengan pekerjaannya. Perlahan Shayu kembali turun dari tempat tidur. Melangkah mendekati suaminya lalu duduk di pangkuan Satria tanpa aba-aba.
Satria begitu terkejut, dia yang sebenarnya tak sesibuk itu dan lebih banyak melamun. Sontak terjingkat saat Shayu tiba-tiba mendekat. Tangannya segera meraih pinggul Shayu agar tak terjatuh.
"Sayang kamu buat aku kaget tau, nanti kalau jatuh bagaimana coba?"
"Tidak akan, kan Mas Satria gerak cepat. Lagian kamu kerja terus sampai tidak mau makan. Dari tadi fokus ke laptop tanpa jeda. Tidak pengen ta meluangkan waktu untuk sekedar minum susu?" tanya Shayu dengan suara manja dan membuka kencing piyamanya. Membuat mood Satria yang buruk dan tak berselera tiba-tiba haus.
...****************...
Hay Man Teman🤗 jangan luka mampir ke karya aku yang masih anget kayak cintanya Satria dan Shayu. "Istri Kedua TUAN IMPOTEN" Aku tunggu jejak kalian di sana ya. 😘😘🥰🥰
__ADS_1