
"Mas, bagaimana jika aku hamil? Terus sekolah aku?" Shayu memijit pelipisnya, dia pusing sendiri membayangkan semua yang akan terjadi.
Satria yang baru saja memasuki kamar begitu terkejut melihat istrinya tiba-tiba berlari mendekati dan melayangkan pertanyaan yang menjadi tujuannya saat ini. Satria tidak langsung menjawab, dia lebih dulu meletakkan nampan di meja sofa lalu meminta sang istri duduk di sampingnya.
"Sini Sayang!" Satria menepuk sofa di sampingnya meminta Shayu duduk di sana.
Dengan menghentakkan kakinya Shayu mendekati dan duduk dengan wajah merengut. Wajahnya ditekuk dan bibirnya mengerucut, sungguh membuat Satria gemas melihatnya.
"Memang kalau hamil kenapa? Kamu kan punya suami, lalu apa yang kamu takutkan?" tanya Satria santai, padahal dia paham betul betapa cemas istrinya saat ini.
"Mas, aku tau kalau aku sudah punya suami. Semua orang juga tau, tapi kalau sampai apa yang kita lakukan tadi menghasilkan bayi di perut aku gimana?"
"Terus apanya yang salah? Hamil kan memang di perut kamu. Tidak mungkin aku yang mengandung."
Shayu menghela nafas kasar, gemas sekali dia berbicara dengan suaminya yang sejak tadi tidak mengerti apa yang ia maksudkan.
"Kamu ngerti tidak, Mas?" tanya Shayu dengan gemas, dia berdiri di hadapan Satria dengan mengusap perut ratanya. "Aku tau Mas, aku yang hamil. Disini, sembilan bulan aku membawa bayi. Perut aku gendut seperti badut, lalu aku kuliah gimana? Gimana caranya aku kuliah membawa perut yang besar?" tanya Shayu dengan mengusap perutnya seperti orang hamil dan bergoyang-goyang ala badut.
Satria menahan tawa melihat kekesalan sang istri yang justru terkesan lucu. Dia meraih tangan Shayu dan meminta istrinya kembali duduk.
"Tidak usah takut dengan apapun yang belum terjadi! Seandainya memang kamu hamil, aku percaya kamu bijak dalam bersikap. Sekarang makan dulu!!" ucap Satria santai membuat Shayu memicingkan kedua mata.
"Apa jangan-jangan kamu sengaja ya Mas mau hamilin aku supaya gagal pergi?"
"Aku hanya meminta hakku, seandainya kamu hamil itu bonus untukku. Berarti Allah sayang sama aku, karena tidak membiarkan istri nakalku jauh-jauh."
Shayu menghela nafas kasar, santai sekali suaminya berucap. Tatapannya masih seperti tadi dengan bersedekap dada. Menyesal telah memberi hak untuk suaminya? Mungkin tadi tidak, tetapi sekarang kok agak gimanaya. Bukan menyesal, tepatnya kenapa tidak ada negosiasi sebelumnya agar tidak hamil sebelum dia selesai kuliah.
__ADS_1
"Mas, tadi keluar berapa liter? Seampuh apa si jago? Kira-kira semburan si jago mujarab tidak?"
Satria yang akan menyuap makanan seketika menghentikan pergerakannya lalu menoleh ke arah Shayu. Kedua alisnya terangkat menatap wajah Shayu yang begitu penasaran sekali. Salah tidak andai dia tak jadi makan dan memilih memakan sang istri saja? Menyinggung si Jago hingga membuatnya berpikiran ke arah ranjang.
"Jangan terus menyinggung jago karena kamu membuatnya kembali terjaga! Ayo makan!"
Shayu memicingkan kedua matanya ke arah celana Satria yang terlihat sesak. Dia mendengus kesal ingin sekali mengumpat. Jago memang latah!
"Mas salah tidak jika aku mengambil pisau lalu memotong si ja.... mmmm." Satria benar-benar membuat Shayu bungkam.
"Makan Sayang! Nanti kita lanjut lagi, sabar ya! Jago biar istirahat dulu. Dia butuh asupan, nanti lagi ajak ngobrolnya!"
Mulut Shayu susah payah mengunyah. Satria membuatnya kesulitan karena suapan satu sendok penuh hingga membuatnya harus berusaha keras.
"Biasa saja Sayang lihatnya! Jangan melotot-melotot begitu!" ujar Satria dengan santai dan kelam. Namun, semakin membuat Shayu mendelik melihatnya.
Setelah perdebatan yang tak kunjung ada ujungnya. Kini Shayu sibuk mengumpulkan berkas-berkas untuk besok membuat paspor. Dia sibuk sendiri sedangkan Satria memilih keluar dari kamar. Pria itu duduk di halaman belakang dengan termenung memikirkan nasib pernikahannya.
"Jika kamu cepat tumbuh, maafkan Papah karena telah memanfaatkan kamu."
Satria kembali ke kamar ketika Shayu sudah terlelap. Dia sengaja tidak ingin mengganggu dan merusuh malam ini. Memberi jeda meski rasanya sangat ingin sekali. Menurut Mbah google diberi jeda agar cepat jadi. Mungkin perjalanannya jauh hingga lama sampainya.
"Sayang sudah tidur?" Satria memeluk Shayu dan menyembunyikan wajahnya di leher wanita itu dengan sedikit merusuh. "Aku ingin, tapi aku tidak mau membuat semburan jago gagal eksekusi. Maaf ya Sayang, bukan aku mau menggagalkan cita-cita kamu. Aku hanya ingin kamu tetap bersamaku. Aku ingin kita selalu bersama tanpa ada penghalang. Aku mencintaimu, mengertilah! Bagaimana bisa aku tanpa kamu, Sayang?" lirih Satria.
Tak pernah terbayangkan olehnya akan hidup terpisah dengan Shayu. Wanita yang belum genap satu tahun ia nikahi. Lika liku rumah tangga dengan banyak sekali cobaan sejak awal menikah.
Satria terlelap meraih mimpi, mendekap sang istri dengan erat menjemput mimpi. Satria tak tau jika Shayu belum pulas, istrinya mendengar semua yang ia katakan. Mendengar semua keinginan dan permintaan maafnya. Bantal basah dengan air mata Shayu. Perlahan Shayu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Satria dengan hati tak karuan.
__ADS_1
"Maaf Mas..." Shayu memeluk tubuh Satria. Masuk ke dalam dekapan suaminya hingga menemukan posisi ternyaman. "Aku tidak bisa berjanji, semua aku pasrahkan pada sang Ilahi." Shayu memejamkan matanya setelah menemukan tempat ternyaman. Meraih mimpi hingga sama-sama terlelap dan saling mengeratkan.
.
.
.
Pagi ini Satria terbangun setelah merasakan ada yang menggelitik di dadanya. Dia menangkap jemari Shayu yang merusuh menelusup ke dalam membuat wanita itu terkejut.
"Kamu menggodaku, Sayang?" tanya Satria yang perlahan membuka mata.
"Cuma iseng Mas, masih mager. Lagian janjinya apa? Mau menemani aku membuat paspor kan? Ayo!"
"Online saja, nanti Mas buatkan."
"Bisa?" tanya Shayu memastikan.
"Buat kamu apa yang tidak bisa? Hanya satu, membuat kamu mengerti aku, masih sulit sekali." Satria mengecup bibir Shayu dan mengulas senyum. "Main yuk!" liriknya dengan suara berat. Tergoda? Tentu saja, bagaimana tidak jika sang istri begitu menempel dan sudah berhasil membangunkan makhluk hidup di bawah sana.
"Main apa? Mas, kamu bukannya mengajar hari ini? Kemarin sudah bolos loh!"
"Begitu mengajak aku membuat paspor, lagian hanya sebentar Sayang. Buat penyemangat. Aku lemes, pengen makan kamu. Gimana donk? Acc ya! "
"Jangan Mas, aku belum mandi. Masih bau, belum gosok gigi juga." Shayu segera menghindar, berusaha meloloskan diri dan berlari masuk kamar mandi. Tanpa sadar Satria mengikuti membuat Shayu gemas melihatnya.
"Keluar Mas!"
__ADS_1
"Belum dong Sayang, nanti dulu. Kan belum di mulai. Masa sudah suruh keluar?" sahut Satria yang justru membuat Shayu geregetan.
"Eh kok dikunci? Mas jangan mesum! Akhhhh..."