
Satria tertawa melihat sang istri berlari dengan kencang masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu berhasil menggoda Shayu meskipun dirinya pun tergoda akan itu. Wangi tubuh sang istri mulai membuat candu dan semakin hari semakin menantang dirinya sebagai seorang pria dewasa.
Satria menggelengkan kapala saat bayangan akan hubungan yang lebih jauh mulai singgah memenuhi pikirannya. Dia menghela nafas berat kemudian menoleh ke arah kalender. "Menghitung hari," lirih Satria lalu kembali menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Sabar!" Satria mengusap kasar wajahnya yang nampak frustasi. Maklum menikahi murid sendiri harus belajar banyak sabar. Tidak boleh asal sikat, bisa bahaya jika mengganggu sekolah sang istri. Meski banyak cara menuju Roma, tetapi Satria tak ingin coba-coba.
Setelah makan malam, seperti biasa Shayu akan menempati meja belajar dan Satria mengalah duduk di bawah beralaskan tikar. Mereka bergantian tempat setelah Shayu menyelesaikan semuanya.
"Mas, besok ke rumah Papah yuk! Sudah beberapa hari aku tidak menengok Papah." Shayu berdiri di samping Satria yang kembali fokus ke laptopnya.
"Hhmm, besok Mas antar."
Senyum Shayu mengembang dengan sempurna, dia mengucapkan terimakasih dengan meninggalkan kecupan di pipi pria itu. Hal pertama dia lakukan dengan jantung jedag-jedug tak karuan. Gadis itu segera berlari meninggalkan Satria tetapi dengan cepat tangannya di cekal dan ditarik hingga dia jatuh di pangkuan sang suami.
"Mulai berani ya sekarang?" tanya Satria dengan tersenyum miring manatap wajah sang istri yang nampak merona. Shayu salah tingkah, awalnya serasa berbunga-bunga dan reflek memberi kecupan. Tak menyangka jika akan berbuntut panjang.
"Tidak sengaja, Mas! Ya kalau tidak terima kembalikan saja," sahut Shayu enteng dengan mencebikkan bibirnya.
"Oke!" Satria menghujani Shayu dengan banyak kecupan di wajah gadis itu. Wajah Shayu semakin merona dengan gerakan memberontak. Namun, kekuatan Satria tak terkalahkan hingga wajahnya bak tomat dengan rambut acak-acakan.
"Mas Satria!" seru Shayu dengan memasang wajah cemberut. Dia merapikan rambutnya, tetapi dihalangi oleh Satria.
"Biarkan saja berantakan, tidak akan membuat kadar kecantikan kamu berkurang. Jika orang melihat kamu dan memberi nilai minus. Maka aku yang memberi nilai plus agar penilaian terhadapmu tidak berkurang."
Satria merapikan rambut Shayu dengan perlahan dengan menikmati wajah ayu sang istri.
"Begini kalau menikah dengan guru matematika, bawaannya itung-itungan terus. Spill dong Mas soal tryout matematikanya!" Wajah kecut Shayu berubah menjadi imut. Dia mencoba merayu sang suami yang dalam mode gemas padanya.
__ADS_1
"Wani piro?"
Shayu tercengang mendengar pertanyaan sang suami. Dia mencoba untuk turun dari pangkuan Satria tetapi tak semudah yang ia bayangkan karena pria itu tak membairkannya lepas begitu saja.
"Gimana?" tanya Satria lagi dengan mengeratkan pelukannya.
"Ish... Ish... Ish... Perhitungan sekali anda. Oke, satu kecupan satu soal. Gimana?" Shayu menaik turunkan alisnya. Bisa sekali dia mengakali sang suami. "Dilarang mencium aku sebelum kasih kisi-kisi. Oke Pak Sat!"
"Auwh..."
Bukan menjawab, pria itu malah memberikan sentilan tepat dikening sang istri. Dia tak habis pikir Shayu mencoba menyogoknya. Padahal yang ia tau, istrinya itu pintar. Tidak menggunakan bocoran pun Shayu bisa mengerjakan soal-soal.
"Jangan nakal! Belajar yang benar lalu tunjukan jika kamu bisa tanpa bantuan siapapun! Ingat, aku akan memberikan hadiah nanti."
"Nakal dikit aja," sahut Shayu dengan mencebik.
"Nakalnya nanti saja setelah hari kelulusan," bisik Satria membuat wajah Shayu kembali merona. Bisa-bisanya Satria membahas hal seperti itu sekarang. Sementara dia belum kepikiran meskipun cukup penasaran, karena fokusnya saat ini lebih kepersiapan ujian nasional.
"Apanya?"
"Hah?!" Shayu tiba-tiba gugup, perlahan ia turun dan berusaha untuk kabur. Pertanyaan Satria membuatnya tak sanggup menjawab. Tidak perlu juga menjelaskan mana yang terasa ngilu. Toh dia pria dewasa yang pasti sudah tau.
Setelah menyelesaikan pekerjaan dan merapikan meja. Satria menyusul Shayu yang telah tertidur lebih dulu. Dia memeluk sang istri dan mengecup kening serta bibir Shayu membuat gadis itu membuka sedikit matanya dengan suara lenguhan lirih.
"Bobo lagi!" bisik Satria.
Shayu menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh Satria dengan tangan menelusup ke dada melalui kancing piyama yang terbuka. Gadis itu nampak nyenyak, tetapi tidak dengan Satria yang justru tak bisa tidur menahan sesuatu. Sentuhan dari tangan Shayu begitu berpengaruh.
__ADS_1
Nafas Satria begitu berat dengan terus mengecup leher sang istri guna meredamkan rasa yang menyiksa. Namun, bukannya semakin reda malah rasa itu semakin membuatnya pusing kepala.
Perlahan Satria merenggangkan pelukannya, mencoba melepaskan jemari Shayu tetapi gadis itu justru semakin mengeratkan dan mengusap dadahya dengan gerakan lembut.
"Sayang, lepas sebentar ya. Mas tidak bisa tidur jika terus begini. Kamu sungguh menyiksaku, Sayang!"
"Eugghh..." Seperti menjawab ucapannya, Shayu melenguh dengan bibir mengerucut membuat Satria semakin gemas. Ingin mengecup bibir Shayu yang melambai menggoda tetapi takut nanti kebablasan.
"Ya Tuhan, cepat luluskan sekolah istriku. Aku sudah tidak tahan lagi. Jauh tidak mau, dekat membuat kalut. Duh Gusti aku wis pengen kawin."
Satria menghela nafas berat, entah di jam berapa ia baru bisa tertidur lelap. Yang jelas baru saja ia merasakan kantuknya terobati sudah dibangunkan oleh sang istri.
"Mas, tidak mengajar? Sudah siang loh!" ucap Shayu yang tengah memakai dasi. Satria hanya membuka matanya sendikit kemudian meraih bantal guling kemudian memeluknya dan tidur lagi.
Shayu yang tak biasa melihat suaminya sulit bangun, begitu merasa heran. Dia mengingat-ingat jam berapa mereka tidur semalam. "Normal, seperti biasanya. Tapi kok sepertinya ngantuk berat." Shayu kembali membangunkan, kali ini ia menggoyang-goyangkan tubuh Satria hingga pria itu membuka mata. Namun, malah menarik Shayu yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Mas!" pekik Shayu dengan kedua mata membola sempurna. Ada-ada saja kelakuan sang suami. Semakin kesini semakin ingin terus menempal lem tikus.
"Aku ngantuk gara-gara kamu."
"Loh, kok aku?" tanya Shayu tak terima. Dia menatap tajam wajah Satria yang masih sangat ngantuk. Memeluknya hingga ia tak bisa bergerak.
"Karena kamu semalam memeluk dengan tangan merusuh masuk ke dada aku."
Mata Shayu lagi-lagi terbelalak. Dia tercengang mendengar ucapan Satria. Dengan cepat Shayu menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia seperti itu, sungguh pandai mengarang sekali suaminya ini.
"Bagaimana jika gantian?"
__ADS_1
"Hah?!" Shayu menatap Satria dengan tatapan awas. Pria ini pagi-pagi sudah sangat meresahkan. Bukannya bersiap berangkat malah mau merusuh ke dada. Sontak Shayu menutupi dadanya dengan kedua tangan.
"Maaf Pak Satria saya tidak buka toko susu dadakan!"