Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Ayo Mas!


__ADS_3

Pagi ini Shayu dan Satria bersiap ke swalayan untuk membeli semua kebutuhan anak mereka. Padahal Satria khawatir sang istri kelelahan karena kemarin baru selesai acara tujuh bulanan yang pastinya sangat menyita tenaga terlebih banyak sekali tamu undangan yang datang. Mereka menganggapnya sekalian kondangan karena pernikahan keduanya yang belum sempat dirayakan.


Kekhawatiran dan ketakutan dari Satria tak sesuai kenyataannya. Shayu justru begitu bersemangat dengan senyum mengembang. Sejak tadi bumil itu sudah menunggu di sofa seraya melihat banyak model pakaian bayi yang lucu-lucu.


"Ayo Mas, kok lama?" tanya Shayu saat melihat Satria begitu nyantai berjalan menghampirinya. Seperti tak ada semangat sama sekali.


"Kamu yakin, Sayang? Nggak capek to? Akunya yang kasihan sama kamu. Semalam tidurnya juga kurang. Besok lagi saja ya. Biar hari ini istirahat dulu."


"Nggak mau, Mas. Mau sekarang. Ayo!" ajak Shayu yang saat ini sudah mengalungkan tangannya di lengan Satria. Pokoknya hari ini jalan ya harus. Mau belanja kebutuhan anak itu pokoknya sesuatu banget bagi Mashayu. Apa lagi modelnya lucu-lucu. Jadi tak sabar ingin cepat lahir dan dipakaikan pada bayinya.


Sampai di salah satu mall terbesar di kota Semarang. Mereka turun dan Satria segera memperhatikan langkah sang istri yang sudah tak sabar. Seperti orang takut kehabisan jatah, Shayu begitu bersemangat hingga lupa perutnya yang sudah membesar.


"Sayang pelan-pelan!"


"Ayo to Mas! Aku gemes banget pokoknya," sahut Shayu dengan semangat. Wanita itu memang benar-benar membuat Satria ketar ketir melihatnya. Begitu gesit seperti bukan perempuan hamil.


Sampai di toko yang diinginkan, Shayu terlihat begitu senang. Matanya berbinar menatap banyak sekali macam-macam baju bayi dengan segala aksesorisnya. Belum lagi peralatan makan, dot dan yang lainnya.


"Mas gemes banget sama baju ini. Boleh beli banyak-banyak?" tanya Shayu dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Satria. Si bumil merayu paksu agar mengijinkan dan mengeluarkan uang yang banyak untuknya belanja. Padahal uang belanja Shayu pun cukup hanya untuk belanja itu tetapi bumil seakan tak mau rugi. Shayu tidak mau mengeluarkan uangnya sama sekali untuk belanja hari ini.


"Iya Sayang, pilih yang kamu suka tetapi tidak boleh berlebihan. Bukan pelit, nanti kita beli lagi. Bayi itu kan cepat besar Sayang. Akan sangat disayangkan kalau belinya dengan nafsu eh dipakainya cuma sebentaran."

__ADS_1


"Kamu bicara apa to Mas? Belinya pakai nafsu pakainya sebentaran. Seperti perumpamaan gadis malam."


Pletak


Satria menyentil dahi sang istri. Cepat sekali nyambungnya jika membahas tentang begituan. Jaringannya begitu cepat menjalar kemana-mana.


"Ikh sakit, Mas."


"Jangan suka membayangkan yang tidak-tidak jika sedang berada di luar! Cukup di ranjang bersamaku!" ucap Satria dengan mata menajam.


"Iya Mas," jawab Shayu dengan bibir mengerucut lagi-lagi membuat Satria gagal fokus.


"Ayo Sayang cepat pilih! Sebentar lagi kita pulang." Satria mendorong tubuh Shayu menuju deretan pakaian bayi.


"Nggak tahan lihat kamu," bisik Satria yang membuat Shayu menggelengkan kepala. Dia pun segara memilih dan memilah mana saja yang akan dibeli.


Bilangnya jangan banyak tetapi saat Satria ikut memilih, troli tiba-tiba cepat penuh. Bagaimana tidak, jika segala mainan anak pun dibeli. Sepeda, stroller, dan semua yang ada disana.


"Ini tuh yang pakai nafsu kamu, Mas!"


"Memang aku nafsu sama kamu," jawab Satria santai.

__ADS_1


"Dasar Kang Mesum! Ayo cepat dibayar,Mas!" ucap Shayu yang sudah puas belanja dan ingin melipir mencari makan. Lapar sekali perutnya. Padahal tadi sudah sarapan.


"Iya Sayang."


Satria menggelengkan kepala melihat struk belanjaan. Berbelanja kebutuhan bayi lebih mahal harganya dari pada yang dewasa. Dia lebih dulu membawa semua belanjaannya di mobil setelah itu baru menuruti keinginan sang istri untuk mampir beli makan.


"Sudah Mas?" tanya Shayu saat melihat Satria sudah kembali. Tadi dia menunggu cukup lama, tetapi lumayan bisa sambil beristirahat.


"Sudah, ayo Sayang mau makan dimana?"


"Mau makan ramen, Mas. Tapi mau steak juga. Boleh Mas?"


"Boleh Sayang, ayo!"


Ayo sajalah kalau istri sudah mengajak. Melarang pun nanti malah mendapat ceramah a b c d. Belum lagi resiko tidur di luar. Oh tidak bisa. Si montook tidak boleh disiakan meski hanya satu malam saja. Terlebih sebentar lagi akan puasa. Lagi gencar-gencarnya proses memberikan sentuhan agar mudah mencari jalan untuk sang bayi.


Satria begitu senang melihat Shayu makan dengan lahap. Pandangannya justru ke sang istri dengan segala bentuk perhatiannya.


"Mas, itu bukannya Cakra ya? Eh iya bukan sich? Dia sama cewek? Wah wah tapi kok kayak aku kenal ya...Siapa ya, Mas?"


"Kalau dari belakang gini sich, Mas tidak yakin Sayang. Tapi bisa jadi Cakra, persis memang."

__ADS_1


"Ikh, punya cewek nggak bilang-bilang. Minta aku protes dia!" Shayu segera meraih ponselnya. Dia hendak menghubungi Cakra tetapi suara Satria membuatnya urung melakukan itu.


"Loh itu kan Arita!"


__ADS_2