Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Gondal Gandul


__ADS_3

Satria segera memandikan Shayu. Terlebih melihat Shayu yang tiba-tiba kesakitan. Satria mendadak tak tenang. Bagaimana jika benar istrinya akan melahirkan? Padahal belum waktunya. Masih ada dua mingguan lagi menurut prediksi tetapi sore ini sudah membuatnya khawatir .


"Mas ada darahnya," rengek Shayu dengan hati tak karuan.


Melihat bercak darah yang keluar membuat Satria tambah panik. Dia buru-buru menyelesaikan mandinya lalu mengangkat sang istri dan membawanya ke kamar.


"Mas pakai baju dulu sana! Jangan begitu, itu si jago gondal gandul. Ikh aku geli, Mas! Kamu nich panik boleh tapi jangan lupa pakai baju juga!" sewot Shayu melihat Satria mondar-mandir mempersiapkan apa-apa yang akan dibawa ke rumah sakit dengan bertelanjang. Pria itu lupa jika dirinya belum memakai pakaian.


Sama halnya dengan Shayu yang juga masih polos dan hanya berbalut handuk yang tak bisa melingkar dengan rapi karena terhalang perut.


Satria menepuk jidatnya. Dia melihat penampilanya sendiri. Buru-buru menuju lemari, memakai pakaian dan mengambil pakaian untuk sang istri.


"Pakai baju dulu, Sayang!"


"Iya Mas, duh Mas kok sakit banget perutnya. Beneran mau lahiran, Mas?"


"Sepertinya iya, sabar ya Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang." Satria segera mengangkat kembali tubuh Shayu dan membawanya menuju mobil. Tidak tega rasanya melihat sang istri meringis menahan sakit.


"Mas ya Allah kok begini banget. Buatnya enak loh, kenapa mau keluar sakitnya luar biasa?" Shayu hampir menangis tetapi Satria kembali memintanya untuk bersabar.


"Sabar Sayang. Nanti hilang sakitnya, janji kalau sudah keluar tidak sakit lagi."


Satria menuruni anak tangga dan melihat Si Mbok yang berada di dapur. "Mbok tolong ambilkan tas di atas!" seru Satria.


Simbok terkejut melihat Shayu berada dalam gendongan Satria. Beliau segera berlari mendekati Satria yang kini sudah berada di undakan terakhir.


"Mau kemana to, Mas?"

__ADS_1


"Shayu sepertinya mau lahiran, Mbok. Tolong ambilkan tas di atas ya Mbok! Bawa ke mobil."


"Iya Mas." Simbok segera berlari naik ke atas.


Satria bergegas melangkah menuju mobil lalu memasukkan Shayu dan memastikan sang istri aman. Disusul si Mbok yang sudah membawa tas yang berisikan pakaian bayi dan pakaian Shayu. Semua sudah lengkap tinggal berangkat.


"Nduk sabar ya, kuat. Pasti bisa, tarik nafas buang perlahan. Si Mbok doakan lancar," ucap Si Mbok pada Shayu yang terlihat pucat. Beliau tak tega melihatnya.


"Ya sudah kami berangkat dulu ya, Mbok."


"Nggih Mas. Hati-hati ya!"


Satria pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Menoleh sekilas menatap sang istri, Shayu mendesis merasakan sakit yang luar biasa. Satria mengusap perut Shayu. Dalam hati ia memohon kemudahan dan keselamatan untuk istri serta anaknya.


"Mas sakit, cepet to Mas! Aku saja dech yang nyetir."


"Sabar banget Mas, tapi ini sakitnya juga banget-banget. Anak kamu nich lagi protes ini, Mas. Sudah mau keluar si jago masih namu. Jadi kesel dianya."


"Kan bagus Yank, karena itu anak kita buru-buru mau keluar," sahut Satria yang tak lagi digubris oleh Shayu. Semakin kesini sakitnya semakin menjadi. Temponya pun semakin sering.


Sampai di rumah sakit Satria segera meminta pertolongan pada tim medis untuk segera menangani istrinya. Shayu pun segera dibawa ke ruangan bersalin.


"Pembukaan sudah hampir lengkap. Langsung kita lakukan tindakan," ucap Dokter pada perawat yang membantu. Shayu segera mendapatkan tindakan serius sedangkan Satria mondar mandir di depan ruangan. Ingin masuk tetapi belum dapat ijin. Hingga salah satu perawat membuka pintu ruangan membuat Satria segera menghentikan langkahnya.


"Pak Satria?"


"Iya Sus, ada apa? Bagaimana dengan istri saya, Sus?" tanyanya begitu panik. Satria takut sekali jika terjadi sesuatu dengan Shayu. Terlebih perawat keluar padahal belum terdengar suara bayi lahir.

__ADS_1


"Silahkan masuk, Pak! Istrinya sebentar lagi mau lahiran."


"Boleh Sus?" tanya Satria dengan senyum mengembang. Senangnya saat boleh melihat keadaan sang istri yang tengah berjuang melahirkan anaknya.


"Boleh Pak."


Satria segera melangkah masuk. Dapat ia lihat Shayu sudah membuka kedua kakinya siap untuk melahirkan. Tatapan mata keduanya bertemu mengisyaratkan cinta yang kini saling membutuhkan kekuatan.


"Mas..."


"Iya Sayang." Satria berdiri di samping Shayu. Peluh membasahi wajah sang istri yang terlihat pucat. Aba-aba dari dokter pun mulai terdengar membuat Satria ngilu mendengarnya.


"Tarik nafas dulu, Mbak! Ayo pintar. Nanti jika saya bilang dorong makan mengejan ya!"


Shayu menganggukkan kepalanya. Menuruti aba-aba yang Bu Dokter katakan. Dia menggenggam tangan Satria kuat-kuat hingga hingga kukunya menancap di kulit Satria.


"Tarik! Ya .. Pintar ... Dorong!"


Dia kali dorongan dilakukan rasanya Shayu sudah tak kuat. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaga tetapi tangis putranya belum kunjung terdengar.


"Ayo kamu bisa, Sayang! Coba sekali lagi!"


"Mas rasanya lelah sekali, ini anak kita kasih permen atau eskrim gitu biar loncat."


"Sayang ayo lagi! Dikit lagi kata Bu Dokternya. Nanti Kamis saja yang aku kasih eskrim."


Shayu pun kembali mengejan hingga mengerang bahkan Satria kena sasaran kuku Shayu yang semakin menancap menimbulkan rasa perih. Bukan hanya suara erangan Shayu saja yang terdengar tetapi Satria pun juga, membuat suasana semakin ramai.

__ADS_1


"oweeee...."


__ADS_2