Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Papah ...


__ADS_3

"Halo Pah, ada apa? Tumben menghubungi aku di jam segini?" tanya Arta yang baru saja keluar dari dalam kelas. Dia sempat heran saat melihat siapa yang menelepon di jam sekolah, karena sang Papah tidak pernah-pernahnya mengganggu dia saat jam pelajaran. Jika memang penting beliau akan mengirim pesan saja. Terlebih hari ini masih masuk ujian.


"Maaf Papah mengganggu kamu. Di kelas atau sedang di luar, Nak?" tanya Papah dengan suara yang sedikit berbeda. Terdengar berat dan serak. Arta mendengarkan cukup paham akan situasi yang tak biasa.


"Sudah di luar, baru saja Arta selesai mengerjakan soal Pah. Ada apa? Apa ada kendala di penerbangan?" tanya Arta dengan penasaran.


"Begini Nak, Papah sejak tadi menghubungi Mamah kamu tapi sulit sekali. Mungkin Mamah kamu sedang sibuk sampai tidak memperhatikan ponselnya. Papah hanya ingin mengabari Mamah kamu agar menyusul Papah ke kediaman Pak Danuaji."


"Pak Danuaji, bukannya itu nama Papahnya Shayu. Iya, tak salah lagi. Itu nama calon mertuaku."


"Halo Arta! Kamu masih disana?"


"Oh iya Pah. Ada apa dengan beliau Pah. Kenapa Mamah harus datang kesana?"


"Ada kabar duka Nak, kebetulan Papah bertemu beliau di Singapura. Beliau hanya sendiri tanpa di dampingi siapapun disana. Anaknya pun tidak ada, sedangkan beliau mengalami halangan saat operasi."


"Jadi anaknya tidak tau apa-apa tentang kondisi Papahnya, Pah?"


"Iya Nak, tapi kami sudah membawa beliau pulang dan kini sedang di urus juga oleh keluarga besannya. Papah langsung ikut ke rumah beliau untuk membantu mengurus. Papah minta tolong sama kamu tolong sampaikan pesan Papah ya!"


"Baik Pah," jawab Arta dan tak lama panggilan pun dimatikan. Dia terdiam dengan banyak pemikiran yang memenuhi otaknya. Cukup janggal, di saat orang tua sakit terlebih itu orang tua tunggal tetapi Shayu terlihat seperti tidak terjadi apa-apa dan tampak biasa mengikuti ujian. Bahkan tak terlihat gurat kesedihan.


Pak Danuaji pun menjalani operasi sendirian. Arta berpikir keras hingga wajah seriusnya berubah menjadi misterius. Dia tau apa yang akan ia lakukan saat ini. Mencoba membuat Shayu membuka mata jika dia telah dicurangi. Lebih tepatnya dibohongi oleh pria yang ia anggap berarti.

__ADS_1


Arta menatap Shayu dengan hati yang entah. Ada sakit saat melihat gadis yang ia cintai menangis dan kecewa karena telah ditinggalkan dengan harapan yang sia-sia.


Shayu berlari mendekati dan menelisik siapa gerangan yang dibawa mobil ambulans ke rumahnya. Dia tampak hancur saat melihat wajah sang Papah sudah pucat dan hampir membiru. Sungguh dunia Shayu mendadak berantakan hingga dia seakan tak kuat lagi berpijak.


Shayu berhambur memeluk raga yang sudah tak bernyawa. Dia menangis tersedu meminta sang Papah untuk kembali hidup.


"Papah bangun, Pah! Jangan tinggalkan Shayu Pah! Bangun! Shayu tidak mau sendiri, Pah! Hiks... Hiks... Kenapa Papah pergi? Shayu janji tidak nakal lagi, Pah. Hiks... Hiks... Bangun!"


Satria yang baru saja membantu menurunkan tubuh bapak mertuanya dan merebahkan di tengah ruang tamu segera memeluk sang istri yang menangis meraung. Namun, belum sempat Satria menyentuh Shayu, gadis itu sudah terlebih dulu menyorotnya dengan tatapan tajam.


"Ada apa dengan Papahku? Kenapa dengan Papahku? Kanapa Papahku bisa mati, Mas? Kenapa?" Shayu memberontak dengan memukul dada Satria saat pria itu memaksa ingin memeluknya. Bahkan emosi Shayu tak terkendali hingga gadis itu tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, Sayang. Bukan niat aku untuk menyembunyikannya dari kamu, tapi aku terpaksa. Aku mohon jangan marah," bisik Satria dengan mendekap tubuh sang istri. Berulang kali dia mengecup kening istrinya dengan wajah tak kalah sedih.


Beruntung Satria sudah menyiapkan hatinya andai kabar itu datang dan hal buruk terjadi pada Papah mertua. Yang menjadi pikirannya saat ini adalah Shayu yang sudah pasti akan terpuruk jika mendengar kabar duka itu.


Benar saja, kondisi sang istri sampai lemas mendengar mengetahui kabar duka yang datang tiba-tiba. Satria mengangkat tubuh sang istri masuk ke dalam kamar agar bisa beristirahat dan menenangkan pikirannya.


Suasana rumah mendadak ramai, penyelawat pun sudah mulai berdatangan. Mulai rekan kerja, kerabat, teman guru dan para tetangga. Tak ketinggalan juga ketiga sahabat Shayu yang tampak khawatir dan cemas dengan keadaan sahabatnya.


"Mas, kenapa bisa begini? Apa Papah Shayu sakit sebelumnya?" tanya Cakra yang mencegat langkah Kakaknya saat ingin keluar rumah. Satria ingin menemui seseorang yang ia duga membawa Shayu pulang. Padahal dia sudah berencana untuk menjemput setelah mengantar jenazah mertuanya sampai di rumah. Memberi pengertian agar Shayu tak terlalu terkejut. Namun, dia kalah start dengan orang itu.


"Hhmm... Minta Arita temani Shayu agar dia tidak sendiri di kamar!" ucap Satria dengan wajah datar.

__ADS_1


"Baik Mas," jawab Cakra. Dia tau suasana hati Kakaknya pun sedang tak baik-baik saja. Terlihat sedih dan emosi, hingga Cakra tak berani untuk bertanya banyak. Dia pun segera mendekati Arita dan memintanya untuk naik ke kamar Shayu.


"Apa mau kamu? Apa kamu ingin mencari peruntungan dari keadaan yang genting ini? Kami tengah berduka bukan sedang bermain peran. Seharusnya kamu sadar posisi, dan jangan banyak ikut campur masalah kami!" ucap tegas Satria dengan menatap tajam Arta yang sejak tadi masih diam di teras rumah yang mulai ramai tamu.


Keduanya menepi sejenak karena tak ingin ada yang sadar dengan pembicaraan keduanya yang mengandung perdebatan. Arta tersenyum miris, dia cukup pandai membaca situasi.


"Saya cukup kasihan dengan Shayu, menikah dengan pria yang entah mencintainya atau tidak. Seharusnya anda melakukan seperti apa yang saya lakukan. Sebagai anak Shayu seharusnya tau dengan apa yang terjadi pada Papahnya. Bukan malah dibohongi dan harus tau setelah Papahnya pergi. Sungguh kasihan mantan pacar saya. Jika anda tak bisa membahagiakannya, maka lepaskan! Biarkan Shayu bersama saya yang jelas-jelas mencintainya."


Satria menyorot begitu tajam. Dia tidak terima dengan apa yang Arta katakan. Kedua tangannya mengepal kuat dengan wajah yang begitu menyeramkan. Satria jelas marah dengan Arta yang seakan menantang.


"Tidak usah marah begitu Pak Satria, anda yang menggali lubang kuburan anda sendiri!"


"Kamu!" Satria sudah melangkah hendak memukul wajah Arta tetapi tiba-tiba suara Cakra membuatnya menghentikan pergerakannya. Apa lagi nama sang istri dibawa-bawa. Sudah pasti membuat Satria tidak tenang.


"Mas, tolong itu Shayu kembali histeris dan tak sadarkan diri lagi."


Satria menghela nafas berat, tangan yang sudah terkepal untuk memukul Arta kini meraup kasar wajahnya sendiri. Dia melangkah panjang masuk ke rumah untuk menemui sang istri. Meninggalkan Cakra dan Arta yang saling menatap penuh emosi dengan alis menukik.


"Jangan mencoba-coba kamu berusaha memisahkan mereka, karena jika itu terjadi. Kamu berurusan denganku!"


"Kamu pikir aku takut?"


"Ya Ndak sich," jawab Cakra dengan menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


__ADS_2