
Ibu, Bapak dan Cakra tampak bingung melihat gerak-gerik pasutri yang kini tampak kaku dan malu-malu. Entah ada apa dengan mereka, tetapi yang Ibu tau. Wajah Satria begitu tampak frustasi sekali. Keluar kamar dengan rambut acak-acakan dan hanya mengenakan kolor saja. Mungkin beliau mengetuk pintu di saat yang tidak tepat. Sementara yang lain akan sarapan dan lanjut pamitan pulang.
Shayu pun sejak keluar kamar terlihat aneh. Berjalan pelan dengan wajah merona dan gumaman yang tiada hentinya. Nampaknya memang ada yang salah dengan mereka berdua. Hanya saja yang beliau khawatirkan jika keduanya gelut dan Satria main fisik, karena setau mereka semua keduanya sedang ada masalah sampai Satria baru pulang.
"Nambah Nduk! Nanti siang kalau kalian mau makan masakan Ibu ke rumah ya. Ibu, Bapak dan Cakra mau pamit pulang. Sudah seminggu kan kami di sini. Nanti rumah diganggu rayap tidak tau."
Shayu mengangkat kepalanya, dia menatap Bapak, Ibu dan Cakra tetapi tidak dengan suaminya, karena Shayu begitu malu mengingat tubuh polosnya sudah dilihat tanpa penghalang apapun.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja to, Bu?"
"Kalau tinggal di sini malah membuat gara-gara, gara-gara ada kita mengganggu mereka yang sedang ncak ncuk!" sahut Cakra yang kemudian mendapat lemparan apel yang mendarat tepat di wajahnya. Beruntung mantan atlet lari, jadi sat set.
Sementara Satria yang mengerti sindiran Cakra hanya bisa menghela nafas berat dengan sedikit melirik si jago yang belum kunjung mau tidur. Perkara ketukan pintu membuat gagal bergoyang. Padahal si jago sudah masuk kandang. Sungguh pusing sekali saat dibuat kentang, sedangkan Shayu? Jangan ditanya, dia sudah ngambek karena si jago hanya meninggalkan luka setelah memaksa menerobos kandang yang masih terkunci rapat. Hingga meninggalkan rasa beda yang mengganjal.
"Pergimu meninggalkan luka bang Jago!" umpat Shayu saat Satria terpaksa menarik kembali si jago yang masih betah.
Setelah sarapan selesai, kini kedua pasutri yang berdiri berjarak itu mengantar Ibu dan Bapak sampai di teras rumah. Pesan dan nasihat pun ditinggalkan sebelum mereka pamit pulang.
"Sing akur, ada apa-apa dibicarakan dengan kepala dingin. Satria juga harus bisa ngemong. Alon-alon Le, jangan grusa-grusu!" ucap Ibu dengan mengusap rambut Shayu.
"Nggih Bu," jawab Satria.
"Ojo kalah sama manuke Bapak di rumah!" sahut Bapak sebelum akhirnya mereka pulang.
Kini hanya tersisa Satria dan Shayu di rumah besar itu, karena si Mbok sedang pergi ke pasar. Shayu nampak bingung saat Satria menoleh ke arahnya dengan tatapan yang berbeda. Rasanya ia ingin cepat kabur untuk menghindar.
"Ayo!"
"Hah?"
__ADS_1
"Ayo! Kita belum selesai," lanjut Satria.
"Tapi Mas_"
"Bukanya sudah deal?" tanya Satria lagi yang kini melangkah mendekati sang istri. Satria serasa tak bisa lagi menahan, sudah masuk gawang tak mungkin disiakan. Padahal sudah begitu susah payah sampai si jago serasa tercekik. Mungkin ini yang dikatakan masih ting-ting.
"Masih sakit loh Mas! Ganjel banget, si jago pengen tak tuthuk palanya!" sewot Shayu dengan wajah merona. Semua rasa singgah didirinya. Malu, bingung, mau, dan ngilu. Menjadi satu kesatuan yang membuatnya bimbang.
"Pelan-pelan Sayang, janji tidak buru-buru seperti tadi. Yang pertama kan emosi, kalau ini full dari dalam hati," rayu Satria. Dia mengecup pipi Shayu yang semakin merona. Namun, istrinya justru kabur dengan mendesis ngilu hingga Satria memutuskan untuk mengangkat tubuh Shayu dan membawanya menuju kamar.
"Mas!" pekik Shayu. Buru-buru Shayu yang sudah tak gadis lagi mengalungkan kedua tangannya di leher Satria. "Duh Pak guru katanya mau ngajar? Kok bolos sich? Dicariin muridnya, Pak!"
"Bolos demi istri tercinta tidak rugi, apa lagi dalam tahap eksekusi. Masalah bukan untuk dihindari tetapi dihadapi, dan ini caraku menyelesaikan masalah."
Shayu pasrah terlebih melihat wajah Satria yang mupeng. Dijamin tak bisa melarikan diri. Mungkin menurut akan jauh lebih baik dari pada ditinggal merajuk. Shayu pun berharap setelah ini mereka akur lagi. Meski sebenarnya dia belum siap, tapi wis kadung masuk. Ya teruskan saja.
"Kenapa ditahan Sayang?"
"Malu loh Mas, yang lihat bukan cuma kamu tapi si jago juga."
Satria harus kembali bersabar, bagaimana bisa istrinya menahan pakaiannya agar tidak dibuka. Itu sangat menghalangi dan membuatnya sulit untuk mengeksekusi.
"Jago berkepala tetapi tidak memiliki mata."
"Berarti ajaib yo, Mas? Bisa tau jalan padahal matanya tidak ada. Dituntun sedikit Mas biar pas jadi penak!"
"Iya makanya buka! Gimana caranya begini Sayang?" Gemas sekali Satria saat ini. Dia tau jika Shayu sudah mulai mau, mulai menikmati dan ikut bergerak aktif. Hingga Satria sudah tak bisa membendung rasa segera mengeksekusi hingga semua terpampang indah di depan mata.
"Mas, jangan dilihatin! Malu!"
__ADS_1
Satria tak menggubris, dia kembali menikmati jamuan yang masih segar. Beruntungnya memiliki istri anak SMA yang masih kinyis-kinyis. Semoga tampak original dan rasanya jangan ditanya.
"Pelan jago!" lirih Shayu dengan menjambak rambut Satria. Pelan tetapi jembakannya kuat dan tubuhnya maju-maju membuat Satria jadi bingung.
"Sebentar Sayang, aku tuntun dulu. Nah, pas kan?"
"Masih sakit banget Mas, coba digerakan! Lagi! Meneh! Yang agak kenceng gitu loh Mas!"
Tanpa ba-bi-bu acara ncak ncuk pun digelar. Suara rusuh berubah menjadi suara merdu yang mengiringi senam pagi sepasang pasutri yang baru tau nikmatnya bertukar peluh.
Mendapat kode keras dari sang istri yang meminta kencang semakin membuat Satria bergairah. Bergerak aktif hingga membuat kasur berantakan dan bantal terusir sia-sia. Hanya tertinggal kedua insan yang sedang melakukan ibadah dengan begitu khusyuk hingga tak ingin di ganggu.
"Mas..."
"Iya Sayang, kenapa hhmm?" tanya Satria dengan suara berat berkabut gairah.
"Rasanya di atas gimana?"
"Kamu mau coba?" tanya Satria balik. Pria itu begitu girang hatinya mendapati seorang gadis tak malu-malu lagi dan tidak diam saja macam patung. Mau bertukar tempat dan istrinya termasuk pecicilan.
"Pelan saja Sayang! ikuti nurani kamu, enaknya bergerak gimana. Aku manut," ucap Satria saat posisi sudah berbalik. Kini Shayu yang memegang kendali. Menggenggam kedua tangan suaminya dengan gerakan pelan lembut cenderung cepat. Hingga keduanya sampai di puncak bersamaan.
Lega sekali rasanya, Satria mengecup perut sang istri. Shayu tidak sadar saat serangkaian doa ia lantunkan dengan lirih dan mengecup perut sang istri berulang kali.
"Mas, aku capek. Jangan merusuh!"
Satria mendongakkan kepalanya menatap wajah lelah Shayu. Dia segera memposisikan diri dan menarik tubuh Shayu kedalam pelukan.
"Makasih ya, kamu hebat! Cabe aku."
__ADS_1