
Sebelum subuh Shayu sudah bangun dengan tubuh yang masih polos. Dia tersenyum melihat wajah suaminya yang masih tampak lelap. Teringat akan permainan semalam yang begitu romantis di temani ribuan mawar marah dan lilin yang menjadi saksi kebahagiaan mereka keduanya.
Shayu mengecup pipi Satria, lalu beranjak dari tidurnya, berlari menuju kamar mandi dan tak lupa mengambil sesuatu sebelum masuk. Jika tidak karena pagi ini harus ke bandara tepat waktu mungkin Shayu masih ingin tidur. Terlebih tubuhnya yang terasa tak nyaman dan seperti kurang enak badan.
Gemericik air dari kamar mandi membuat Satria terjaga. Dia menghela nafas berat saat melihat jam dinding yang sudah mengarah ke pukul lima. Dua jam lagi istrinya berangkat menuju bandara dan terbang untuk menuntut ilmu.
Satria terduduk, sama halnya dengan Shayu. Dia pun masih polos dan hanya tertutup dengan selembar selimut. Melihat kamarnya yang begitu berantakan membuatnya pun teringat akan kegiatan semalam. Namun, bukan Satria lega dan senang. Dia justru tersenyum getir membayangkan sang istri yang akan benar-benar pergi.
"Aku sudah ikhlas Sayang, aku tunggu sampai kamu kembali lagi," lirih Satria dengan melihat ranjang kosong yang semalam digunakan sang istri.
"Mas sudah bangun?"
"Iya Sayang, sudah. Mas mandi dulu ya!"
"Hhmm... Jangan lama Mas, sudah adzan!" ucap Shayu mengingatkan.
"Iya Sayang." Satria segera melesat masuk ke kamar mandi, tetapi sebelumnya dia menyempatkan diri mengecup pipi Shayu dengan gemas.
Setelah sarapan dan semua sudah siap masuk ke dalam mobil. Shayu pun dengan berat hati pamit dengan si Mbok. Beliau begitu sedih terlebih sudah sejak bayi merawat Shayu. Tentu keputusan Shayu untuk bersekolah di sana membuat beliau sedikit kecewa.
"Hati-hati ya, Nduk! Si Mbok ndak bisa nyangoni apa-apa. Cuma itu ada kering kentang kesukaan Non. Dimakan pakai nasi hangat-hangat enak."
"Makasih ya Mbok."
"Hati-hati di jalan! Jangan lupa telepon si Mbok!"
"Nggih Mbok," sahut Shayu yang kemudian memeluk tubuh si Mbok yang gempal. Sedih rasanya, padahal baru berpamitan dengan si Mbok. Belum dengan suami, sahabat, dan Ibu Bapak yang kebetulan bertemu di Bandara.
__ADS_1
Shayu masuk mobil, kali ini sang suami yang menyetir. Dia tersenyum dengan menyurut air mata, tetapi Satria tak mengeluarkan kata apa-apa. Dia tau jika istrinya sedang bersedih.
Shayu melihat ke arah rumahnya saat mobil mulai melaju dan berjalan menjauh. Melambaikan tangan pada si Mbok dengan senyum mengembang. Dia kembali menyurut air mata sebelum benar-benar fokus ke jalan.
"Setelah aku berangkat, Mas mau tinggal dimana?"
"Aku pulang ke rumah Ibu, di sana kan tidak ada kamu. Jadi kembali ke rumah saja agar tidak sepi."
Shayu menganggukkan kepalanya mencoba untuk tak terlihat sedih mendengar ucapan Satria. Perlahan tubuhnya bersandar di jok mobil dan memejamkan mata. Tak ada lagi pembicaraan karena tidur yang hanya sebentar membuat kepala Shayu sedikit keliyengan. Maklum mau ditinggal jauh, jadi Paksu gila-gilaan.
Satria menoleh sekilas, dia melihat Shayu terlelap membuatnya tak tega. Mengusap kepala sang istri dan kembali fokus ke jalan.
"Sayang bangun sudah sampai, ayo turun!"
"Eeeuughh.... Mas," lenguh Shayu yang kemudian membuka mata dan melihat ke luar jendela. Hatinya mendadak ngilu kerena sudah sampai di bandara. Dia pun turun setelah suaminya membukakan pintu.
"Bu, Pak." Shayu pamit dengan keduanya, menyalami dan memeluk beliau dengan Sayang seperti kedua orang tuanya sendiri.
"Hati-hati ya, Nduk! Jangan lupa kabar-kabar! Jangan asal kenalan dengan orang yang tidak dikenal! Jika ada apa-apa kabari kami ya!"
"Iya Bu, siap. Shayu akan hati-hati." Shayu kembali memeluk Ibu mertuanya. Suasana begitu haru hingga Satria lebih memilih melihat ke arah lain. Namun, dia justru melihat Arta yang juga sudah siap berangkat. Melangkah mendekati setelah pemuda itu pamit dengan kedua orang tuanya.
Melihat itu Satria berjalan mendekat, selagi Shayu sedang sibuk berpamitan dengan yang lain. Keduanya pun bertemu di satu titik yang tak jauh dari Shayu dan keluarga tetapi mereka tak ada yang sadar jika Satria dan Arta kini tengah berbicara.
Sejenak keduanya terdiam, saling menatap dan belum ada yang ingin membuka suara. Hingga Satria merasa ada yang cukup penting ia katakan. Merendah dan meminta demi sang istri.
"Titip istriku! Di sana yang ia kenal hanya kamu, dan sudah pasti yang bisa mendampingi dan menolongnya jika terjadi apapun itu kamu. Saya minta tolong, jaga istri saya tetapi bukan berarti kamu bisa merebutnya. Saya hanya menitipkan selama dia tidak dalam jangkauan saya."
__ADS_1
"Tidak perlu dipinta pun saya akan melakukan itu. Jadi anda tidak perlu khawatir!"
Kini saatnya Shayu berpamitan dengan Satria. Dia menatap Satria yang tersenyum menatapnya. Berat rasanya, tetapi sebentar lagi pesawat akan take off dan dia harus bersiap masuk ke dalam pesawat.
Shayu melangkah dan memeluk Satria dengan erat. Mengalungkan kedua tangannya di leher Satria dengan kaki berjinjit. Begitu pun dengan Satria yang memeluk sang istri tak kalah erat. Sedih, tentu saja. Bahkan tak menyangka akan benar-benar berpisah.
"Jangan menangis! Jaga diri kamu baik-baik ya! Dan jangan memikirkan apapun yang tidak penting! Fokus agar cepat lulus. Ingat ada hati yang menunggumu disini!"
Satria merenggangkan pelukannya, menatap wajah sang istri dan mengusap air matanya dengan lembut. Dia mengecup kening serta kedua pipi Shayu. Adegan perpisahan yang begitu menyedihkan tetapi terkesan romantis, hingga banyak pasang mata yang menoleh melihat mereka. begitupun dengan sahabat, orang tua, dan Arta. Menyaksikan keduanya dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Aku pergi ya, Mas. Aku menunggumu datang," lirih Shayu. Dia mengeluarkan sesuatu kotak yang sudah dia simpan sejak pagi tadi dan ingin ia berikan untuk kado anniversary mereka.
"Ini Mas untuk kamu." Shayu memberikan kotak kado itu dan tersenyum menatap Satria.
"Ini apa, Sayang?"
"Kado anniversary kita. Semalam kan Mas sudah memberikan aku kalung ini. Sekarang gantian aku kasih sesuatu juga untuk Mas Satria." Shayu mencoba menyunggingkan senyum. Namun Satria tau tatapan mata sang istri penuh luka. Begitu sedih seperti ada kebimbangan.
"Makasih ya."
Satria melambaikan tangan saat Shayu melangkah menjauh. Di depan sana Shayu dan Arta menuju ke ruangan untuk menaiki pesawat yang tiga puluh menit lagi akan lepas landas.
"Ayo pulang, Mas!" ujar Cakra tengah melihat Kakaknya begitu sedih terduduk di kursi, terdiam menatap kado yang diberikan oleh sang istri.
"Duluan saja!"
Cakra pun memutuskan untuk meninggalkan Satria, mengerti jika Masnya butuh waktu sendiri. Sementara Satria terdiam dengan terus menatap kado yang berada di tangannya. Perlahan dia membuka kotak itu dan melihat apa isi di dalamnya.
__ADS_1
"Sayang!"