Jebakan Murid Nakal

Jebakan Murid Nakal
Bikin Modyar!


__ADS_3

Shayu menghela nafas berat saat tatapan mata semua murid dan para guru yang berada disana seperti mengintimidasi dirinya. Seakan meminta kebenaran dengan apa yang mereka dengar. Shayu menatap satu persatu orang yang berada disana. Tatapan penuh kekecewaan begitu terlihat hingga kedua matanya tertuju pada pria yang kini diam dengan menahan segala amarah.


Keduanya saling beradu pandang dengan Satria yang tak tahan menatap kesedihan di wajah sang istri. Perlahan kepalanya mengangguk meminta persetujuan kepada Shayu. Namun, bukan jawaban melainkan air mata yang Shayu berikan. Gadis itu tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya. Bahkan tuduhan yang datang bertubi-tubi membuat emosi serasa di ubun-ubun.


Satria semakin mengeratkan rahangnya begitu pun dengan kedua tangan yang terkepal semakin kuat. Dia tak terima istrinya dibuat sedih hingga menangis. Satria yang dulu hampir tidak peduli pada gadis itu, kini segala pergerakannya menjadi sesuatu yang istimewa.


"Apa benar yang teman-teman kamu katakan Shayu? Benar jika kamu saat ini tengah mengandung?" tanya Bapak Kepsek dengan hati-hati. Walau bagaimanapun beliau cukup sadar kini tengah berhadapan dengan siapa, dan sedikit ragu dengan kabar kehamilan anak muridnya. Terlebih gadis itu terlahir dari keluarga baik-baik, terhormat, serta terpandang. Sudah pasti penjagaannya pun ketat.


Shayu menggelengkan kepala, lidahnya seakan kelu untuk berucap dan menjelaskan. Kejadian pagi ini cukup membuatnya syok dan tak terima akan keadaan. Hampir-hampir ia menyesal telah menjebak Satria beberapa bulan yang lalu.


"Lihat ini Pak!" ucap Bu Rasti memberikan bukti foto yang tersebar di Panca Darma. Di dalam foto itu memperlihatkan Satria tengah mengecup pipi Shayu. Bapak kepala sekolah sontak menoleh ke arah Satria dengan tatapan penuh tanda tanya.


Satria yang paham akan tatapan kepala sekolah kepadanya membuat ia menghela nafas kasar. Perlahan dia melangkah mendekati Shayu dan menarik tangan gadis itu sebelum menjelaskan kepada Pak Kepsek. Tindakan Satria membuat semua murid semakin histeris. Mereka tak menyangka bisa melihat perlakuan lembut dari guru idaman hati kepada Mashayu Rengganis yang mereka tau adalah pacar dari mantan ketos Panca Darma.


Satria menganggukkan kepala saat menoleh ke arah Shayu dengan tatapan lembut. Dia meyakinkan gadis itu jika semua akan baik-baik saja. Satria mengajak Shayu melangkah mendekati Pak Kepala sekolah kemudian mengangkat genggaman tangan keduanya.


"Mas," lirih Shayu dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Ucapan Shayu ternyata mampu terdengar hingga ke telinga beberapa murid dan menimbulkan desas desus yang semakin memperburuk keadaan.


"Tenang!" ucap Satria tak kalah lirih yang kemudian mengecup jemari Shayu membuat suasana semakin riuh. Bukan hanya teman-temannya saja, tetapi para guru dan kepala sekolah sampai membolakan kedua mata mereka melihat sikap manis Satria. Mereka tak menyangka pria yang berprofesi sebagai guru itu tidak bisa menjaga attitudenya di depan murid, dan yang lebih parahnya lagi hal itu dilakukan pada siswinya sendiri.


"Pak Satria, anda kena pasal jika bersikap seperti ini. Anda tidak mencontohkan hal yang baik pada murid-murid anda! Sebagai tenaga pengajar anda hampir gagal!" ucap Bapak kepala sekolah mengingatkan.


"Bagaimana jika hal itu dilakukan pada istri sendiri, Pak? Disini, dihadapan semua murid dan para guru. Saya akan membuat pengakuan, jika kabar tentang pernikahan saya dengan Mashayu benar adanya. Foto yang yang tersebar itupun fakta, bukan rekayasa."


Banyak yang terkejut mendengar pengakuan dari Satria tetapi ada juga yang semakin menyinyir Shayu yang telah menggoda guru matematika mereka hingga terpaksa menikahinya.


"Bagaimanapun bisa, Pak Satria? Sedangkan dari pihak Pak Danuaji belum ada pemberitahuan apa-apa ke sekolah khususnya kepada saya. Alasan apa yang mendorong kalian menikah, terlebih istri anda yang masih sekolah dan notabene adalah murid anda sendiri? Apa betul yang dikatakan para murid jika istri anda hamil di luar nikah?" tanya Pak kepala sekolah lagi. Beliau ingin Satria menjelaskan agar semua jelas dan tak ada lagi salah paham.


"Kami menikah sudah lima bulan, jika memang Mashayu hamil seperti kabar yang ada. Sudah pasti perut istri saya membesar saat ini. Bukan hanya itu, mungkin dia sudah tak dapat lagi bersekolah karena harus menghadapi kehamilannya. Namun, apa yang kalian lihat? Dia masih ikut pelajaran olahraga, tubuhnya masih tetap sama, dan tak ada perlakuan mesra dari kami sebelumya. Semua berjalan dengan semestinya tanpa ada yang membuat kalian curiga. Kami menjaga dan mungkin jika kabar ini tidak beredar, saya lebih memilih untuk diam dan mengakui hubungan kami di waktu yang tepat. Lalu apakah cinta harus terus mencari alasan?" jelas Satria dengan tegas tetapi bernada santai. "Pernikahan ini terjadi karena murni saya mencintainya. Bukan karena keterpaksaan atau hasil jebakan!"


Mendengar ucapan Satria, sontak membuat Shayu menoleh ke arah pria itu. Dia tak menyangka Satria akan mengatasnamakan cinta sebagai alasan pernikahan mereka. Ingin rasanya ia memeluk pria itu, tapi cukup sadar jika kini ia masih menjadi pusat perhatian.


Shayu ingin berterima kasih pada Satria karena tak menjelaskan kebenarannya yang akan membuat nama baiknya semakin hancur. Dia akan dicap buruk setelah semua tau caranya mendapatkan guru tertampan di sekolah mereka.

__ADS_1


"Jadi kabar ini benar dan kalian sudah menikah?"


"Jika Bapak tidak percaya, Bapak bisa tanyakan sendiri kepada mertua saya," sahut Satria.


Pengakuan itu bukan membuat semua tenang, tetapi malah membuat suasana semakin riuh dan ramai. Terlebih Bu Resti yang diam-diam mendekati dan berbicara dengan kepala sekolah. Jika dilihat sekilas wanita itu seperti sengaja membumbui ucapan.


Cakra, Topan dan Arita yang sejak tadi menyimak hanya bisa diam dan menahan kekesalan melihat situasi yang ada. Telinga mereka begitu panas mendengar beragam ocehan dari para murid yang lain. Ada yang akhirnya mendukung dan ada yang tetap tak henti membully diam-diam.


"Iri bilang Bos! Ra sah kakehan cangkem!" ketus Arita yang tidak terima kepada sebagian murid yang masih saja menyinyir.


"Eh Mbakayu, mulutmu pedas seperti seblak level dua belas. Bikin modyar!" sahut Cakra menambahi.


"Kalau sampai hal ini viral di media sosial, jangan salahkan kami jika membongkar kebiasaan kalian yang sering mojok di belakang kantin!" Ancaman Topan sontak membuat mereka bungkam.


Sementara Satria terdiam dengan terus menatap ke arah kepala sekolah dan kumpulan para guru yang berdiri dibelakang beliau.


"Saya akan memanggil Pak Danuaji terlebih dahulu untuk masalah ini, karena jika para wali murid ada yang tau dan kabar ini bocor keluar. Nama baik sekolah kita pun akan hancur," ucap Pak Kepsek.

__ADS_1


"Apakah itu karena ada salah satu guru yang menginginkan istri saya keluar dari sekolah ini? Jika benar, biarkan saya yang mengundurkan diri asal Shayu bisa mengikuti ujian nasional!"


__ADS_2