
Perkara biji tak cukup sampai disini. Seharian Shayu kepikiran membuatnya tak tenang. Mondar-mandir di kamar, melamun di meja makan dan menuang air hingga tumpah. Hal itu membuat Satria gemas dan harus segera turun tangan.
"Sepertinya memang kamu penasaran dengan letak bijimu bukan biji anak kita."
"Iya, kalau biji Mas kan aku sudah tau. Aku dan anak kita bagaimana? Dimana? Ada berapa bijinya? Bikin aku kepikiran dan menghafal semua anggota tubuhku, Mas."
"Aku bereskan dulu pekerjaanku dan kamu tunggu aku di kamar, Sayang. Nanti aku beri tau letaknya agar kamu tidak penasaran. Jadi besok kita bisa tau dimana letak biji anak kita."
"Oke, aku tunggu di kamar ya Mas Bojo," sahut Shayu dengan mata berbinar. Dia mengecup pipi Satria lalu melangkah menuju kamar.
"Penasaran letak bijiku dimana. Akh... Setelah tau pasti aku akan tidur nyenyak. Seharian tidak tidur siang karena galau memikirkan itu. Oh biji dimana kamu berada?" Shayu tersenyum memeluk gulingnya dengan gemas. Perkara biji belum usai dan masih menyisakan keingintahuan yang tinggi.
Satria buru-buru menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Mengurus perusahaan dan bengkel bersamaan cukup membuatnya sibuk. Terlebih sang istri yang terkadang merajuk tak ingin ditinggal kerja. Alhasil harus menyempatkan diri bekerja di rumah karena kebahagiaan istri merupakan kesejahteraan untuknya.
Satria naik ke kamar setelah mengambil minum karena urusan biji akan sangat panjang. Sudah pasti menghabiskan malam dengan kerongkongan yang butuh disiram.
Kekepoan istri sedikit membuatnya semangat. Jadi ada alasan untuk malam ini kembali memanjakan raga.
"Sayang..."
"Mas lama sekali, aku sampai bete nunggunya. Ayo cepat katakan dimana letak bijiku?"
Langkah Satria terhenti dengan mulut menganga melihat penampilan istrinya saat ini. Bahkan air minum yang akan ia minum nanti sudah habis separo karena melihat istrinya yang membuat kerongkongan mendadak kering.
Shayu dengan lingerienya membuat Satria resah. Tubuh yang gemoy dan perut yang membuncit menjadi nilai plus. Rasanya tak tahan ingin menanggalkan semua yang ada di tubuh istrinya dan menerkamnya malam ini.
"Sayang kamu kok pakai itu? Tau banget ya kalau aku mau ajakin?" tanya Satria yang bersikap tenang meski si jago sudah meronta. Sungguh istrinya membuat raga tak tenang dan batin semakin ingin.
"Ikh apa sich Mas, aku kan mau tau letak biji milikku. Kalau pakai pakaian begini tuh lebih terlihat tidak perlu buka-buka. Penasaran tingkah dewa pokoknya. Ayo sini, Mas! Ikh gemas sekali aku tuh." Wahyu sudah menarik tangan Satria, tidak sabar sekali rasanya melihat suaminya yang malah diam dengan tatapan takjub. Ditambah lagi pikirannya ke aktivitas malam. Padahal Shayu sudah tak ingat akan itu karena dirundung rasa penasaran.
"Iya sabar, Sayang!" ucap Satria yang kemudian duduk di atas ranjang mendekati istrinya. Dia bingung harus memulai dari mana. Eh maksudnya bagaimana menunjukannya. Satria menatap wajah Shayu lalu turun ke tubuhnya hingga pandangannya fokus ke suatu titik.
"Mana Mas? Kok lihatnya gitu?" tanya Shayu karena tatapan mata Satria menjurus ke bawah. Dia mengerutkan keningnya terlebih melihat Satria yang mulai membuka kain tipis berenda berwarna merah yang sangat menggoda.
__ADS_1
"Kok dibuka, Mas? Itu nya nanti saja. Tunjukan aku dulu!"
"Iya sayang, aku akan tunjukkan. Disini tempatnya."
Satria kembali turun dan berjongkok di atas lantai karena perut sang istri yang sudah besar dan membuatnya sulit melihat letak sesuatu yang di cari. Membuka sedikit kaki sang istri lalu menyentuh biji yang terselip rapi di dalam sana.
"Mas nakal ikh, geli Mas!"
"Katanya mau tau biji kamu, Yank? Ya ini sudah ketemu. Gimana? Tidak penasaran lagi kan? Besok tinggal tanya sama dokternya. Anak kita cewek atau cowok, agar bisa tau letaknya sama dengan kamu atau aku," sahut Satria yang kini kembali fokus dengan biji milik sang istri hingga menunduk-nunduk karena tertutup perut..
Wajah Shayu merona, dia paham sekarang dan bingung memang benar letaknya disana atau hanya suaminya saja yang mengarang.
"Mas..."
"Dilanjut yuk, Yank. Sudah basah juga. Malam ini ditengok jago besok ditengok kita berdua."
Shayu sudah tak dapat lagi menghindar jika Satria sudah menyerang. Malam ini benar-benar digunakan untuk kunjungan si jago merah yang sudah panggah berdiri tegak.
"Iya sayang."
Pagi ini Shayu sudah bersiap berangkat ke rumah sakit. Dia sudah keramas pagi-pagi dengan mata yang masih mengantuk karena dirinya yang ketagihan mendapatkan sentuhan nakal di bijinya.
"Gantian Mas, aku turun dulu mau buat kopi dan susu."
"Iya Sayang, aku mandi dulu ya." Satria masih dengan keadaan polos melangkah menuju kamar mandi sedangkan Shayu menggelengkan kepalanya melihat si jago yang pagi-pagi sudah kembali bangun.
"Dasar jago edan. Tidak malam, siang, pagi. Bangun sesuka hati, kan jadi ingat semalam." Shayu segera keluar dari kamar setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Otaknya mulai terkontaminasi dengan kelakuan si jago.
Shayu membuatkan kopi dan susu hamil untuknya lalu memanggang roti. Sementara si Mbok menyiapkan makan untuk bekal karena biasanya dia akan lapar saat menunggu antrian.
"Buatkan jus juga Mbok, lagi ingin jus jambu. Sama teh hangat ya."
"Siap. Mudah-mudahan bayinya sehat ya, Non. Si Mbok senang sebentar lagi sudah mau lahiran. Bakal rame nanti rumahnya."
__ADS_1
"Aamiin, makasih ya Mbok sudah didoakan. Aku sarapan dulu ya, Mbok."
"Iya Non."
Shayu segera duduk dengan roti panggang yang sudah tersedia untuk dia dan suami.
"Duh gantengnya calon Papah." Shayu menatap Satria yang melangkah turun dengan wajah segar yang membuat pria itu semakin tampan. Sangat berbanding terbalik dengannya yang layu setelah semalam bijinya dihisap seperti biji mangga yang sayang jika dibuang sebelum sarinya habis. Atau biji durian yang dagingnya sangat manis.
"Kamu juga semakin cantik, sexy lagi." Satria mengedipkan sebelah matanya lalu duduk siap sarapan.
"Gombal, ini kopinya Mas." Shayu menyodorkan kopi untuk Satria nikmati. Mereka pun segera sarapan, menghabiskan roti dan minuman mereka masing-masing lanjut berangkat ke rumah sakit.
"Aku ambil nomor antrian dulu, Sayang."
"Iya Mas." Shayu segera duduk di kursi tunggu dengan tenang. kebetulan masih pagi, mereka mendapat nomor lebih awal jadi tidak mengantri lama.-lama.
Shayu mulai berbaring dan siap di USG setelah dokter memeriksa tekanan darah dan menanyakan keluhan padanya.
"Kita mulai lihat ya perkembangan dedek bayinya." Fokus dokter dan sepasang calon orang tua itu kini beralih pada layar yang menunjukkan gambar bayi. Satria dan Shayu tersenyum melihat keadaan baby-nya yang sehat.
"Alhamdulillah sehat, mau tau jenis kelaminnya tidak Bu Pak?"
"Boleh Dok," sahut Satria dengan semangat.
"Ini ada monasnya, Pak. Tuh terlihat kan?"
"Monas Dok?" tanya Shayu dengan wajah bingung.
"Iya, jagoan ini," jawab Bu Dokter dengan tersenyum menatap layar monitor.
"Mas anak kita jagoan dan ada monasnya. Berarti seperti kamu, eh terus monasnya kamu di mana, Mas? Tidak ada bijinya gitu? Setahuku ya kamu punyanya si jago. Berarti anak kita canggih ya Mas, bisa bawa-bawa Monas. Pantas saja berat badan aku naik terus."
Satria tercengang mendengar penuturan dari sang istri sedangkan dokter dan perawat yang membantu tampak menahan tawa.
__ADS_1