
Sampai pagi Shayu merengut karena semalaman diisengin oleh Satria. Dia diam dengan tidur membelakangi pria itu. Serasa panas sekali dua bukit yang masih sangat rindang. Padahal hanya perkara cemburu hingga membuat pria itu merusuh.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Satria mendekati Shayu yang sejak semalam tidur berjarak. Gadis itu betah sekali tidur dengan miring ke kanan. Jika dipikir pasti akan sangat pegal sekali rasanya.
Tak ada jawaban dari Shayu membuat Satria semakin merapat mendekat. Sudah dipastikan jika saat ini istrinya tengah merajuk. Tangan Satria iseng melingkar di perut Shayu dan memeluknya.
"Lepas Mas! Aku masih males sama kamu, sakit tau!" kesal Shayu. Bahkan semalaman dia tidak bisa tidur hingga Satria benar-benar pulas, barulah dia bisa menggeser bayi besar yang sangat suka menempel di dada.
"Maaf, salah siapa buat aku marah? Aku tidak suka kamu berhubungan lagi dengan Arta. Sudah jelas to? Jadi tidak perlu aku mengulanginya lagi. Dia itu ingin kita pisah dan mengambil kamu kembali. Wah ngajak ribut dia kalau sampai itu terjadi."
"Cemburumu medeni, Mas. Horor!" celetuk Shayu yang kemudian beranjak dari sana dan segera melepaskan tangan Satria yang masih betah bertengger di tubuhnya. Shayu segera masuk kamar mandi, niat hati pagi ini ia ingin kembali mengunjungi rumah Papahnya. Setelah itu baru ke sekolah karena ada hal yang harus ia pastikan.
"Mau kemana, Dek?"
"Mah mandi, mau ikut?"
"Ikuuuuutt..." Satria segera beranjak dari kasur dan lompat menyusul sang istri yang sudah di ambang pintu kamar mandi. Namun, saat akan masuk tiba-tiba pintu di tutup dengan cukup kencang membuat langkahnya seketika mundur terpental.
"Sayang," ucap Satria dengan geram. Beruntung reflek tubuhnya cukup baik. Jika tidak wajahnya auto bengkak karena terkena tamparan keras dari pintu kamar mandi.
"Canda Mas, dan itu impas!" seru Shayu dari balik pintu. Dia tertawa membayangkan wajah kesal suaminya.
Setelah rapi dengan seragamnya, Shayu bersiap akan berangkat tetapi dengan cepat Satria memboikot langkahnya hingga tak dapat keluar dengan lancar.
"Kenapa Mas?"
"Biar Mas yang bawa mobilnya, kamu mau kemana lagi? Mas tidak mau ya kalau sampai tidak pulang seharian. Siang nanti kita harus ke dokter untuk memeriksa kondisi kamu yang semalam hangat."
__ADS_1
Satria merebut kontak mobil yang berada di tangan Shayu dan mengikis jarak untuk mengecek suhu tubuhnya. Dia menempelkan punggung tangannya ke kening sang istri yang sudah tak sehangat semalam.
"Aku Ra po-po, Mas!"
"Eh iya, normal. Padahal semalam hampir mengarah ke panas," ucap Satria dengan mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan respon tubuh Shayu yang cepat sekali pulih, jelas-jelas semalam dia merasakan kulit istrinya hangat.
"Hangat karena semalam kamu buat aku panas Mas. Kenapa musti dibahas lagi, jadi pengen manyun ingetnya."
Seketika Satria kembali mengingat keisengannya semalam. Jadi suhu panas itu timbul bukan karena sakit tetapi karena sang istri sedang on. Dia mengulum senyum kemudian mengacak gemas rambut Shayu.
"Gemesin banget sich, siap-siap aku buat panas lagi ya. Tinggal berapa minggu lagi pengumumannya? Semoga hari cepat berlalu," sahut Satria dengan senyum-senyum gaje mambuat Shayu menggelengkan kepala. Gadis itu menatap awas mata suaminya.
"Pagi-pagi wis mesum! Ayo berangkat Mas! Kamu kan harus mengajar," ajaknya dengan gemas.
"Masih betah godain kamu, jangan bertemu dengan siapapun yang tidak penting! Tunggu aku selesai mengajar baru pulang. Cup." Satria mengecup bibir Shayu dan segera meraih tangan sang istri mengajaknya turun.
"Mampir makan dulu, Mas. Mau nengokin rumah Papah dan Mamah."
"Iya Sayang, mas temani ya," sahut Satria dengan mengusap kepala Shayu.
Kini mereka sudah berada dalam perjalanan. Beruntung Satria ada ngajar di jam kedua dan Shayu serta Cakra sudah tak takut lagi telat. Mereka masuk hanya untuk melihat apa-apa yang kurang selama mereka menjalani ujian sekolah dan praktek, sedangkan ujian nasional tinggal menunggu hasil saja.
Setelah berkunjung ke makan Papah, diikuti dengan Satria dan Cakra. Kini keduanya sudah kembali lagi ke dalam mobil. Satria segera membawa mereka menuju sekolah. Kebetulan kini masih jam delapan, masih ada waktu untuk Satria bersiap.
"Aku duluan ya, kalian pasti mau cipika-cipiki dulu," pamit Cakra yang sadar diri akan mengganggu setelah mereka sampai di parkiran sekolah.
"Keluar dulu Cak, bayi besarku harus diberi penyemangat agar kerjanya rajin," sahut Shayu yang mendapat cubitan di hidungnya dari Satria. "Sakit Mas! Senengane kdrt," celetuk Shayu dengan mengusap hidungnya tetapi Satria segera meraih tangan Shayu lalu mengecup hidung istrinya hingga membuat kegaduhan di dalam mobil.
__ADS_1
"Mas kamu tuh rusuh sekali. Aku mau turun, kamu masih mau disini? Jangan menatapku seperti itu Mas! Mata kamu seperti ingin menerkam."
Satria mengulum senyum, dia kembali mendengar suara ribut sang istri yang selalu membuat ramai. Bar-bar nya selalu dirindukan. Bersyukur Shayu sudah lebih baik sekarang. Bertandang ke pemakaman Papah pun sudah mampu meredam emosi. Tidak lagi ada air mata yang menyertai.
"Tunggu Mas ya, boleh di perpus atau di kantin. Maaf hanya mengajar dia kelas. Tidak sampai jam pulang sekolah. Kamu baik-baik dan ingat pesan Mas. Oke!"
"Hhmm, aku turun dulu ya Mas," ucap Shayu kemudian meraih tangan Satria dan menyalaminya. Satria pun membalas dengan mengecup kening dan turun ke bibir tetapi Shayu segera menghindar.
"Pak guru itu di gugu dan ditiru. Saru mesum di sekolah! Jika ada yang melihat gimana? Bahaya ta?"
Satria menghela nafas berat, entah mengapa bersama sang istri selalu sulit menahan ingin. Dia pun meloloskan Shayu untuk turun lalu dirinya mengikuti dengan berjalan di belakang. Tentunya menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dan terlihat intim dari pandangan orang.
Shayu keluar dari ruang kepala sekolah setelah menyelesaikan sesuatu. Dia mengucapkan terimakasih dan memilih menyusul sahabatnya ke kantin.
"Shay.."
Langkah Shayu terhenti tak jauh dari ruang kepala sekolah. Kebetulan bukan hanya dia saja yang baru keluar dari sana, tetapi ada Arta juga.
"Ada apa Ar?"
Arta tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Shayu. Sejenak Shayu terdiam, tetapi tak lama dia pun membalasnya.
" Selamat ya, beasiswanya berhasil kamu raih. Kita akan bertemu disana nanti. Siapkan diri kamu, karena kemungkinan tiga Minggu lagi kita berangkat bareng."
Kedua mata Shayu mengerjap, dia tak mengiyakan dan tidak juga menyangkal. Beasiswa ini memang sangat ia inginkan dan membuatnya senang karena bisa membuat Papah bangga. Namun, ada sedikit yang mengganjal di hatinya berhubung dirinya yang belum memberitahu pada Satria.
"Shay, masih inget dengan rencana kita kan?"
__ADS_1